Bab 7-It's U

755 5 0
                                        

      Sejak hari itu, kami mulai menjadi sangat dekat. Walaupun temanku yang lain perlahan menjauhiku, aku tidak apa-apa selagi masih ada Lean di sampingku. Kami berangkat dan pulang sekolah bersama. Kelas 12 kali ini jauh lebih menyenangkan karena ada Lean. Masih banyak yang membicarakanku yang tidak-tidak. Tapi dengan adanya Lean yang selalu membantuku disekolah maupun dirumah semua perkataan jelek itu tidak mempan untukku. Tapi tidak untuk detik ini...

'Andrea, maaf, ibu bapak kecelakaan dan meninggal dunia,' kalimat yang sangat aku takutkan kini telah diucapkan oleh tanteku.

Meninggalnya ibu dan ayah merupakan pukulan besar bagiku. Aku melewati hari-hariku dengan hati yang suram untuk kedua kalinya. Aku tinggal sendirian dirumah dan urusan rumah dan sekolah dibantu oleh saudara ibu dan ayah. Lean tetap berusaha membangkitkan semangatku tanpa mengurangi waktu untuk mengajariku pelajaran IPS kelas 12. Aku juga akan berusaha fokus ke nilai akademik ku kali ini, aku tak ingin masa lalu kelam kelas 11 terulang kembali. Aku pastikan itu tidak akan pernah terjadi lagi.

Semua hari-hari sekolah akhir kulalui dengan Lean hingga tak terasa ujian kelulusan telah usai dan sudah saatnya untuk memulai masa kuliah. Berpisah adalah hal yang aku paling benci dan ini adalah kedua kalinya aku merasakan kehilangan. Lean akan melanjutkan belajarnya di luar kota. Dia mendapatkan beasiswa di UI sedangkan aku tetap berada disini melanjutkan kuliah di UPN. Aku berencana untuk melihatnya berangkat menuju Jakarta, namun aku terlambat. Dia sudah berangkat terlebih dahulu. Aku belum sempat berterima kasih dan mengutarakan perasaanku kepadamu, Lean.

Gorden sialan itu akhirnya menyingkir dan tidak lagi menutupi pandanganku. Senyum manis yang telah lama kurindukan, akhirnya aku melihatnya saat ini. Orang yang aku benci, orang yang aku cinta, orang yang aku rindukan sekarang berada tepat didepan mataku. Aku tidak dapat mendeskripsikan bagaimana perasaanku sekarang. Sedih, senang, marah, semua bercampur menjadi satu.

'Halo, kita ketemu lagi,' ucap Lean. Aku hanya dapat menangis melihatnya.

'Cup cup cup, kangen ya...ciee kangen.' Aku memukul lengan Lean karena malu.

Kami tidak berbicara satu sama lain hingga aku mulai tenang.

'Kamu aku hubungin kok engga bisa? kamu kok ninggalin aku? kamu kok ga pamit sama aku?' aku langsung bertanya berbagai hal yang sudah kupendam lama.

'Astaga Drea, satu-satu kali kalo mau nanya! pertama, hp aku dicuri waktu sampe Jakarta, jam keberangkatan waktu itu h-1 dimajuin dan aku lupa kasih tahu kamu dan sebelum aku berangkat pager kamu masih kekunci, aku engga tega ngebangunin kamu jadi aku mikirnya nanti aku chat aja tapi siapa sangka hp aku dicuri kan? Aku juga engga inget nomor hp kamu hehe,' jelas Lean panjang kali lebar.

'Kenapa engga minta ibu ayah kamu untuk kasih tahu ke aku!?'

'Kamu lupa? mereka kan ikut aku kuliah di Jakarta, Drea. Ibu bapak juga engga tahu nomor kamu kan.'

'Kok kamu tahu aku ada disini?' tanyaku kepadanya.

'Untuk itu, kamu tidak perlu tahu,' jawabnya.

'Mau ke rooftop engga?' ajak Lean kepadaku.

'Yuk!'

Kami berdua bersama-sama menuju rooftop sekolah yang sudah lama tidak kami kunjungi. Kami pergi ke pinggir tembok yang dipagari.

'Aku pikir kamu akan beranjak meninggalkanku sama seperti yang lainnya,' ucapku sambil menatap Lean.

'Andrea, beranjak dewasa adalah hal yang ditakuti oleh semua orang, dimana kita akan mulai mengetahui apa arti hidup yang sebenarnya. People come and go, akan ada masanya orang merasakan hal itu. Sama seperti ketika orang tuamu meninggalkanmu atau aku yang beranjak pergi untuk mengejar cita-citaku. Namun, perlu kamu ingat bahwa tidak semua orang yang meninggalkanmu sudah tidak mencintaimu lagi. Sejak kita berdua bersama di taman, aku berjanji tidak akan pernah tidak mencintaimu lagi.' ucapan Lean membuatku terdiam sesaat. Angin yang berhembus menambah kesan dramatis.

    'Andrea, apakah kamu tahu arti dari cinta?' Lean bertanya kepadaku tanpa melirikku sedikitpun.

    'Ingin memiliki seseorang?' jawabku tak yakin. Aku melihat Lean menghela nafasnya sebentar lalu berkata.

     'Ketika aku mengenalmu, mengetahui kamu yang selalu diam-diam melihatku dari jendela kelas, mengunjungimu, melihatmu yang kesusahan memahami pelajaran, lega ketika melihatmu yang tersenyum bahagia, sedih melihatmu murung, itulah arti cinta. Cinta bukan ingin memiliki, tapi cinta adalah dimana kita sedih melihatnya menangis dan senang ketika melihatnya bahagia bahkan ketika tidak tertawa bersama.' Lean menghadap ke arahku dan melihatku dengan tatapan tulusnya.

     'Andrea, aku sudah menyukaimu sejak lama, disaat kita bersama-sama dari waktu ke waktu. Bolehkah aku melebihi batas pertemanan?' aku menatap tidak percaya dengan pertanyaan , kalimat yang selalu aku andaikan saat ini menjadi nyata.
°
°
°
°
°
°
°
°
°
°
Tresno jalaran soko kulino, cinta yang hadir karena terbiasa. Mencintai seseorang bukan berarti ingin memilikinya, tetapi turut merasakan apa yang dirasa olehnya. Merasakan kesedihannya dan bahagia ketika dia menemukan orang yang tepat bahkan jika orang tersebut bukan dirimu. Ingatlah, ketika seseorang beranjak pergi darimu tidak selalu berarti dia sudah tidak mencintaimu lagi.

Beranjak, dewasa.

_____

Halo, ini author. Terimakasih telah membaca cerpen 'Beranjak'! 

Author ingin meminta maaf jika masih banyak kekurangan. Masih amatir :)

Cerita ini memang dibuat dengan konflik ringan supaya nyaman dibaca untuk remaja awal. 

Terimakasih semuannya! 

12.12.22

BeranjakTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang