5.Ji'tu 2

3 1 0
                                    


Malam tiba. Ayra dan Zidan berangkat menuju rumah sakit. Abi dan ummi tidak bisa ikut karena Abinya masih merasa tidak enak badan.

Tadi sore Ayra mendengar kabar kalau kiai Abdul Ghofur sudah melewati masa kritisnya, tinggal menunggu sadar saja.

Ayra dan Zidan sedang berjalan di gedung Darul Ihsan, mencari ruangan no 18 kelas 1 di lantai dua, tempat kiai Ghofur dirawat.

Tapi ia khawatir, ia akan bertemu Gus Yahya dan..... istri. Bukan apa-apa, pasti tidak nyaman kalau ia bertemu dengan beliau.

Ayra mengirim chat kepada Ning Ghania, adik dari Gus Yahya menanyakan apakah ada gus Yahya atau tidak.

Ayra
Ada Gus Yahya kah Ning disana?

Ning Ghania:
Nggak ada mba, udah saya usir

Arya terkekeh membaca pesan balasan dari ning Ghania, atau yang biasa disapa Ning Nia.

"Eh ini no 18 kan?" Tanya Zidan berhadapan dengan pintu bertulisan no 18.

"Eh iya,"

-Ayra:
Saya sudah di depan ning,

Ning Ghania:
Iya, tunggu sebentar.

Tidak lama pintu terbuka menunjukkan wajah Ning Ghania yang berseri-seri.

"Mba Ay.... Nia kangen," Ning Nia langsung memeluk erat Ayra. Ning Nia memang dekat dengan Ayra sejak ia awal masuk pesantren.

Maka karena itulah, Nia juga sangat terpukul mendengar kalau abangnya dijodohkan dengan orang lain sedangkan ia sudah memberi tahukan lamaran kepada Ayra. Ia mengetahui kisahnya dari ustadzah Sania, bibinya.

***

Sepulang dari rumah sakit, Ayra dan Zidan memilih langsung pulang ke rumah dikarenakan Ayra juga belum selesai menata kamarnya.

Ayra langsung menghembuskan nafas pelan, kitab-kitabnya tersusun kurang rapi.

Ayra mulai menyusun pelan-pelan kitabnya. Satu kitab yang menarik perhatiannya. Membuka kitabnya, langsung disambut tulisan:

صاحب هذاالكتاب
محمد ريان بن عبدالقدير

Terbayang kejadian delapan tahun yang lalu. Ketika mba Syafa, adik Rayyan memberinya kitab ini.

Jadi kenangan juga ya, makai kitab orang selain kitab abang sendiri-pikirnya.

Setahunya seseorang bernama Rayyan itu kini masih bersekolah di Yaman, dia dua tahun lebih dulu berangkat dari pada Ayra.

Dia juga tak terlalu mempedulikannnya. Ayra melanjutkan kegiatan bersih-bersihnya.

***

Hari ini jadwal Ayra ke pesantren Darul Muttaqin dan menginap beberapa hari di sana.

Setelah sampai, ia salim kedapa Zidan yang sudah mengantarnya lalu ia langsung masuk ke pondok putri.

Tidak disangka, para santri berbaris dari ujung gerbang sampai ke asrama ustadzah. Ingin menangis rasanya, ia tak menyangka penyambutannya akan semeriah ini.

Sepanjang jalan ia banyak mendengar ucapan 'Assalamu'alaikum ustadzah.' 'Ahlan wa sahlan.' 'Marhaban farihtu bi hudurik.'

Ia jadi malu. Baru setengah jalan ia berjalan, ada seorang ustadzah setengah berlari mendatanginya. Calon kakanya.

"Oh rindunya daku kepada dirimu~" sambil bersenandung Fatya memeluk Ayra erat.

"Iya, sama. Aku juga kangen sama calonnya bang Zidan,"

Reflek Fatya langsung melepas pelukannya.

"Loh Zidan dah ngasih tau?" Kagetnya.

"Bukan bang Zidan yang ngasih tau, ummi duluan yang ngasih tau." Fatya hanya mangut-mangut mendengar jawaban Ayra.

"Ayo masuk, semua udah nunggu di dalam. Ada Ning Nia sama Ning Zahara juga di dalam." 

***

Setelah mengobrol lama dengan teman-teman serta guru-gurunya, Ayra dibawa Fatya untuk pergi ke ruangan baru di atas asrama Ruqayyah, kafe santri.

Sekarang santri dan yang lainnya sedang melaksanakan sholat asar berjama'ah di musholla. Begitu tahu Ayra juga tengah halangan, Fatya langsung mengajaknya ke sini.

Mereka memilih tempat yang paling ujung, menikmati pemandangan perkomplekan pesantren.

"Aku juga sedih tau Ay, pas denger kabar empat bulan yang lalu. Kamu tegar, mungkin sulit bagi kamu buat membuka hati lagi."

"Ya... begitulah Fat, semua ini yang terbaik. Mungkin sangat banyak hikmah yang terkandung di sana, tapi kita belum tahu atau mungkin belum merasakannya." Ucap Ayra sambil memandang arah luar.

"Emm... jadi gini, kemarin Ziana, adik Zean tanya sama aku, apa teman yang lagi ada di hadapanku ini sudah punya calon lagi?" Ucap Fatya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

"Maksudnya?" Tanyanya heran, ia masih mencoba mencerna ucapan Fatya.

"Kamu pasti paham apa maksudnya."

Ayra bukan tipe orang yang sulit memekai ucapan orang. Sudah tentu ia tahu apa maksud ucapan Fatya.

"Istrinya belum sampai seminggu meninggal. Masa dia sudah suka sama perempuan lain?"

"Zaen sudah suka sama kamu sebelum dia berangkat ke Yaman Ay." Satu ungkapan yang membuat perasaan Ayra campur aduk. Antara bahagia, sedih dan marah.

Lalu kenapa dia melamar Hasna jikalau hatinya bukan untuknya? Jika Hasna masih ada, mungkin dia akan sedih mendengarnya.

Ayra tidak bisa berkutik apa-apa. Ingin menolak, sama saja akan menyakiti Zean dan dirinya sendiri. Jika ia menerimanya, apa kata orang-orang nanti?

"Tunggu sampai empat bulan, itu sudah melewati 100 bulan meninggalnya Hasna."

'Semoga ini bukan keputusan yang salah'

***

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 31, 2022 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Ini Ayra(mini Series)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang