02

577 142 16
                                    

Suara tembakan terdengar menggelegar memecah kesunyian hutan. Sampai burung yang tengah hinggap dipepohonan kaget dan terbang, beramai-ramai kabur menyelamatkan diri.

Brenda menjatuhkan pistolnya dan memejamkan mata, sudah siap merasakan rasa sakit jikalau saja peluru itu menghunus jantungnya.

Tangannya mengepal dalam hatinya ia berdoa agar kalau dirinya mati nanti, semoga Tuhan mempertemukannya dengan sang ibu.

Setelah mendengar suara tembakan yang memekakan telinga, Brenda mendengar suara tawa kecil yang keluar dari mulut laki-laki di hadapannya.

Apa ini? Kenapa hanya tawa yang Brenda dengar?

Tak ada peluru yang melukai tubuhnya.

Apa laki-laki Robertson itu tengah bercanda dengannya?

"Aku tidak menembak wanita." Ujar Rick, matanya menatap Brenda dengan tajam. Lagipula, Brenda sudah tidak bersenjata.

Rasanya Rick pengecut bertarung dengan wanita yang sudah terpojok tak memiliki senjata apapun. "Diam di sana, emas ini punya Robertson." Lanjutnya.

"Terserah." Brenda memilih duduk di bawah pohon, langit sudah gelap. Dan dia tidak membawa senter atau alat penerangan lainnya.

Mengenai emas, Brenda sudah pasrah. Kalau menyerang pun pasti dia kalah, staminanya sudah terkuras habis. Mungkin besok saja Brenda membunuh laki-laki yang sedang mencoba memindahkan batang pohon besar itu.

Dia harus memikirkan bagaimana cara mengalahkan Rick.

Tusuk beberapa kali tubuhnya? Oh kalau begitu Brenda harus menyerang dari dekat.

Benar, lebih baik ia istirahat saja dulu untuk sekarang.

Sementara Rick sendiri tengah keheranan, batang pohon ini begitu sulit ia pindahkan. Sudah mendorong, sudah menendang, tapi batang pohon itu tidak bergeser sama sekali.

Rick menyimpan kedua tangannya di pinggang, nafasnya terengah-engah dan dirinya merasa sangat kesal.

Pasalnya ia tak tau, membongkar emas yang terkubur di bawah sana ternyata tak semudah yang ia kira.

"Hey." Sapa Brenda, lalu Rick menoleh ke belakang.

"Apa?" jawabnya, "Mau menertawakanku?" Ujarnya ketus

"Tidak." Brenda berdiri, justru ia penasaran mengapa batang itu tak kunjung berpindah. "Apa itu berat?"

"Ya menurutmu?" Rick kembali mendorong batang sialan itu, kenapa juga hanya tergeser sedikit? Padahal ia sudah mengerahkan tenaganya.

Dia lalu mencoba menggali tanahnya, tapi sepertinya akan memakan waktu yang lama.

"Memang di bawah sana ada emas nya ya?" Brenda menatap tak minat. "Sialan, harusnya aku tidak mengiyakan perintah ayah. Sekarang malah terjebak di sini, emas pun tak tau ada atau tidaknya?!"

Rick menghela nafas dan bertanya, "kau putri dari George Clark?"

"Ya menurutmu?!" Brenda membalikkan pertanyaan Rick yang tadi. "Izinkan aku mendekat untuk memeriksa, atau mungkin kita bisa sama-sama mencoba menyingkirkan batang pohon besar itu. Bagaimana?!"

"Coba saja." Rick mempersilahkan sembari menggenggam pistolnya untuk berjaga-jaga. Matanya memperhatikan sekeliling hutan. "Hanya tersisa kau?"

Brenda mengangguk, dia jadi teringat lagi pada Draco. "Kalau kau bagaimana?"

"Ya. Tinggal aku saja." Rick menatap Brenda, wanita itu begitu bekerja keras menyingkirkan batang pohon.

Dia yang laki-laki saja hanya bergeser sedikit, bagaimana dengan Brenda?

LEGACYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang