Bab 7

2 1 0
                                    

Hari demi hari dilalui Zevanya dengan bahagia, disekolah bersama Edlyn dan Xavier. Di rumah bersama Mamah dan Papah yang semakin harmonis. Kehidupannya sangat bahagia sekarang. Tidak ada yang menjahati Zevanya lagi, dia bisa sekolah seperti siswa pada umumnya.

Keadaan ini membuat Zevano juga senang, apakah ini saat yang tepat untuk pergi ke atas?

***

Zevanya duduk bersama Xavier di taman sekolah, menikmati minuman yang sempat Xavier beli untuknya dan Zevanya. Mereka terlihat bercerita sambil sesekali tertawa. Gue harus bilang ini sama Zevanya, batin Xavier.

"Zee?"

"Iya?"

"Lo bahagia?"

"Iya, kenapa?" tanya Zevanya bingung dengan tingkah Xavier, suasana menjadi serius.

"Gue mau bilang sesuatu." Zevanya mengerutkan dahinya, semakin bingung.

"Apa?"

"Gue rasa, ini saat yang pas buat kakak lo tenang diatas sana."

Zevanya yang tadinya masih senyum-senyum langsung berubah serius. "Maksud lo apa?"

"Kemarin Zevano bilang sama gue, mungkin ini momen ya pas buat lo ikhlasin dia pergi."

"Tapi kenapa dia gak bilang langsung aja ke gue, kenapa harus lo?"

"Dia takut justru dia sendiri yang gak bisa ninggalin lo kalau ngomong langsung, dia sekarang ada di depan lo."

Zevanya menatap lurus ke depan, sesuai apa yang dijelaskan Xavier.

"Ka-kakak mau pergi?"

Hening....

"Makasih udah jaga Aya selama 5 tahun ini, makasih udah buat hubungan anak dan ayah kembali bersatu, makasih udah buat korban bully gak ngerasain sakitnya dibully lagi."

Hening, Zevanya memejamkan matanya, air matanya mencoba keluar. "Aku....mengikhlaskan Kakak pergi."

Cahaya tiba-tiba meyambar Zevano, Xavier yang melihat itu terkejut. Lama kelamaan tubuh Zevano mengghilang, dimulai dari kakinya. Zevanya benar-benar sudah belajar mengikhlaskan kakaknya.

Zevano tersenyum kearah Xavier dan Zevanya, dia juga mengucapkan terima kasih sebelum akhirnya menghilang sepenuhnya. Xavier menatap Zevanya yang menahan tangisnya, "terima kasih sudah menahan air mata itu, kakak lo udah naik sekarang." Zevanya yang mendengar itu langsung mengeluarkan semua air matanya, tangisannya pecah, dia memeluk Xavier, laki-laki itu juga berusaha menenangkan gadisnya.

***

Zevanya sudah dua hari tidak masuk sekolah, Edlyn bilang kepada Xavier bahwa Zevanya sakit. Pulang sekolah hari ini, Xavier mengendarai motornya menuju rumah Zevanya, dia menjenguk Zevanya dengan membawakan buah-buahan. Xavier menekan bel rumah, pintu itu terbuka di bel ke 3 yang dia tekan, muncullah bi Nini, asisten rumah tangga baru keluarga Zevanya. "Eh Den Xavier, masuk Den, langsung aja ke kamar Non Zevanya, bibi buatin minum dulu," ucap bi Nini ramah. "Makasih ya bi," balas Xavier berjalan memasuki kamar Zevanya.

Terlihat Zevanya sedang duduk dengan posisi kaki yang lurus, gadis itu menoleh ke pintu saat seseorang membukanya. "Xavier?" ujarnya tersenyum. Xavier melanjutkan langkahnya, mengambil salah satu kursi agar bisa duduk disamping ranjang Zevanya.

"Gimana keadaan lo?"

"Udah agak mendingan"

"Syukur deh, nih gue bawa buah, gue taruh meja ya."

"Repotin banget, tapi makasih ya."

"Nggak kok,iya sama-sama."

Hening seketika, sampai bi Nini masuk membawa cemilan dan jus jambu di meja dekat sofa, "ini diminum sama di cicip cemilannya," "owh iya bi, makasih ya maaf jadi repotin bibi," ucap Xavier merasa sungkan. "Gak kok, malah bibi senang karena non Zevanya ada teman ngobrol, bibi ke dapur lagi ya, Den, Non" ijin bi Nini, yanh diberi anggukan oleh mereka.

DUA SISITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang