Drrtt drrtt drrtt
Ponsel Syanum bergetar pelan. Pesan dari Carin membuat Sya kembali dari lamunan. Dia lupa bahwa sahabatnya itu menunggunya sedari tadi di mobil. Sya merutuki diri karena bernostalgia ria di tengah padatnya jadwal hari ini hingga membuat Carin menunggu lama. Dia yakin bahwa Carin sudah pasti tidak akan mengantarkannya lagi dalam beberapa hari ke depan. Aduh Syanum! Udah tahu gak bisa nyetir tapi bikin kesel Carin!
"Kamu beli bunga ke Arab ya? Bisa-bisanya pergi beli bunga sepuluh tangkai itu aja sejam lebih. Aku kan udah bilang hari ini ada tugas jaga!" Carin kemudian kembali memegang setir mobilnya untuk segera menuju lokasi wisuda adik kelas mereka semasa SMA dulu.
"Carin, maafin aku. Tadi orang yang beli rame gitu, antri. Makanya lama. Aku lupa kasih tahu kamu." Syanum tentu saja berbohong. Dia hanya ingin mengamankan diri dari amukan Carin.
"Iya, yang jual bunga disitu doang kan, ya?"
Syanum malah menganggukkan kepala atas sindiran sahabatnya barusan. Entah apa yang tengah dipikirkan gadis itu sampai tak memahami kalimat sarkas Carin.
"Astaga! Syanum buka mata kamu lebar-lebar, ya. Tuh mulai dari gerbang sampai ujung sana semua jualan bunga bego! Kamu ah! Kesel deh. Kalau sampai aku di pecat awas aja, ya. Siap-siap aku jadi parasit di tempat kamu."
Syanum hanya diam. Dia tak ingin lagi membahas topik ini. Sudah kalah telak dan tidak ada amunisi lebih. Gadis itu kemudian memilih topik lain.Teringat olehnya bahwa beberapa jam yang lalu, dia melihat postingan terbaru Faried di media sosial. Lelaki itu sedang ditaksir Carin selama beberapa bulan belakang. Seorang dokter residen di rumah sakit yang sama tempat Carin bekerja.
"Car, aku tadi pagi lihat story-nya Faried. Foto kaki gitu, berdua sama cewek. Sepatunya kayak punya kamu. Ngaku deh, abis kemana kamu kemaren sama si Faried?"
"Demi apa!? Faried posting itu?"
Berhasil! Pemilihan topik ini tentu saja akan membuat emosi Carin kembali normal. Raut sahabatnya itu bahkan sekarang tengah berbinar-binar menanti jawaban Syanum.
"Serius. Kamu lihat sendiri aja kalau gak percaya. Terus kamu tahu caption-nya apa?"
"Apa?" Tanya Carin antusias walau dirinya tengah sibuk mencari slot parkir.
"Wishing the next days will end up as great as today."
"Aaaaaa, aku baper. Kok kamu gak bilang sih?" Ucap carin sambil memegang pipinya yang bersemu merah setelah berhasil memakirkan mobil.
Syanum tidak menjawab pertanyaan sahabatnya itu. Dia lebih memilih keluar dari mobil dan merapikan bajunya agar tak ada yang terlihat kusut. Detik selanjutnya Carin ikut keluar dari mobil. Dia berjalan ke sisi sebelah kiri mobil untuk menuju ke tempat Sya yang sedang bercermin lewat kaca mobil.
"Menurut kamu dia beneran suka gak ya sama aku?" Mata Carin mengerjap-ngerjap menunggu kata-kata keluar dari mulut Sya.
"Kamu serius mau sama si Faried? Gak enak tahu kalau satu kantor gitu. Ntar kalau udahan canggung banget pasti."
"Aku sih bodo amat, ya. Mending aku coba dari pada enggak sama sekali kayak kamu. Kalau akhirnya emang udah gak bisa lagi pertahanin hubungannya ya apa boleh buat. Lagian kan rumah sakit sebesar itu, banyak pasien lagi. Gak ada waktulah aku canggung-canggungan kayak gitu"
Syanum hanya mengangguk-angukan kepalanya pelan sambil terus menelusuri area dalam gedung. Matanya sibuk mencari keberadaan Sheila yang hari ini di wisuda. Faried memang cukup baik menurut Sya. Pas sekali jika disandingkan dengan sahabat pecicilannya itu. Saling melengkapi.
KAMU SEDANG MEMBACA
November Rain
ChickLitSyanum kembali dipertemukan dengan seseorang yang telah disukainya sejak lama, lewat cara yang mengejutkan. Pada sebuah pulau kecil yang dibatasi lautan biru dari pusat kota, di tengah kesibukannya menjalankan program perusahaan, Keenan muncul di ha...
