Chapter 3

136 25 6
                                        

Sebilah pedang tergeletak di hadapan Yibo, sarungnya sangat sederhana dengan gantungan berwarna hijau pupus. Sangat berbeda dengan pedang yang tadi sempat gurunya keluarkan saat melawan rombongan penyusup. Bilahnya panjang dan ramping, dengan pegangan kokoh berwarna hitam. Yibo tertegun mengamati, matanya antusias melihat detail yang begitu menarik minatnya. Sebab untuk kali pertama, seseorang membiarkannya menyentuh pedang setelah tujuh tahun berlalu.

“Cobalah,” perintah Zhan yang masih tenang menunggu pergerakan Yibo.

“Aku boleh menyentuhnya?” 

“Tentu. Cobalah, tunjukkan padaku apa yang kau bisa,” pinta Zhan.

Perlahan Yibo melepaskan pedang dari sarungnya, memandangi lagi setiap sudut bilah keperakan yang berkilau terkena terpaan sinar matahari. Ringan. Itulah kesan pertama yang Yibo rasakan saat dia mulai mengangkat dan membuat gerakan sederhana dengan pedang itu. Dari tempatnya, Zhan mengamati dalam diam sekecil apapun pergerakan yang Yibo buat bersama dengan pedang itu. Sampai beberapa saat, bahkan yang dilakukan Yibo hanya tebasan serampangan yang ceroboh, benar-benar amatir. Pedang yang memiliki kekuatan spiritual itu tampak berubah jadi pedang biasa, bahkan tidak ada gelombang angin dingin yang biasanya keluar saat pedang di sabetkan ke udara.

“Berhenti,” potong Zhan, hal itu mengejutkan Yibo yang sedang asik dengan pedangnya.

“Kenapa? Apa aku melakukannya dengan benar, Guru?” bangga Yibo pada dirinya sendiri. Zhan menepuk kepalanya sambil menghela napas.

Tubuhnya dialiri banyak tenaga spiritual, tapi kenapa pedang itu tidak bereaksi? Seperti ada sesuatu yang menekan aliran spiritual dari dalam. Kondisinya sungguh unik, batin Zhan. 

“Shizun,” panggil Yibo sembari menyarungkan kembali pedangnya.

“Apa kau tidak pernah sekalipun melatih tenaga dalam milikmu?” ujar Zhan setelahnya.

“Aku tidak mengerti, tapi kalau yang Shizun maksud adalah gerakan kuda-kuda seperti ini—lihat, aku pandai melakukannya,” pamer anak berusia 12 tahun itu, menunjukkan gerakan yang dia katakan.

“Benar, kau pandai. Duduklah biar aku lihat tanganmu,” pinta Zhan agar Yibo duduk di kursi di dekatnya.

Yibo menyerahkan tangan kanannya pada Zhan, lalu duduk dengan tenang di hadapannya. Tangan Yibo begitu besar untuk anak seusianya, tapi juga tampak rapuh bila dilihat lebih dekat lagi. Uratnya banyak yang menonjol, dengan vena serta arteri berwarna keunguan begitu jelas di kulit pucatnya. 

Aliran energi spiritualnya lancar dan bagus. Inti jiwanya juga sangat kuat. Lalu apa yang membuat anak ini tidak bisa mengalirkan energi spiritualnya keluar tubuh. Pedang yang dia pakai tadi pun bukan pedang suci yang butuh banyak energi spiritual untuk memaksimalkan gerakannya. Apa yang salah dengan anak ini? batin Zhan. Tangannya sibuk membolak balikkan telapak tangan kanan Yibo, menekan beberapa titik nadi dan menatap dalam-dalam ke arah netra Yibo.

“Bukankah aku sangat kuat, Shizun?” lontar Yibo sangat bersemangat.

"Hnm," jawab Zhan kemudian beranjak dari sana untuk mengambil dua ember kayu yang tergeletak dari samping paviliun. "Sekarang, bisa kau isi ember ini? Tolong isi penuh setiap bak yang ada di dapur di belakang paviliun, dan isi juga bak mandi milikku?" pinta Zhan. 

"Ya. Tentu saja, Shizun," balas Yibo penuh antusias.

Yibo menuruti gurunya. Bergegas mengambil ember kayu. Langkah kecilnya ringan, sedikit berlari ke arah sumur yang berada di samping danau. Dua ember dipikulnya menggunakan bilah panjang yang kokoh bertengger di pundak. Dia melakukan pekerjaan dengan binar cemerlang di mata dan tidak mengeluh sekalipun. Bahkan beberapa kali kakinya sempat tersandung dan hampir menumpahkan air yang dia pikul, tapi Zhan memperhatikan dari jauh. Sang guru menahan tubuh Yibo agar tidak terjerembab dengan udara bergerak yang dia aliri energi spiritual. Tidak selesai di sana, Zhan juga memerintahkan Yibo kecil untuk menyapu seluruh halaman dan juga membersihkan bagian dalam paviliunnya. Lagi-lagi Zhan dengan sabar menutupi kecerobohan Yibo yang bisa saja merusak estetika paviliunnya. Sembari itu, dirinya duduk tenang menikmati secangkir teh herbal hangat berpura-pura membaca buku. 

THE BROKEN THRONETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang