Hawa dingin berhembus pelan dari semilir angin malam yang masuk merambat memenuhi dinding batu lembab. Cahaya temaram dari sebuah lilin menerangi ruangan kecil yang terlalu mewah bila harus disebut kamar. Kenyataannya, itu hanyalah gua dengan sebuah dipan, meja, dan beberapa tempat duduk. Di tata sedemikian rupa, agar nyaman dan layak untuk di
tinggali. Tidak ada ruangan khusus, hanya satu lubang menganga besar dengan celah masuk sempit di sisi depannya. Ada akar dari pepohonan yang tumbuh di atasnya menjuntai menembus atap gua, tampak juga beberapa serangga kecil dan beberapa hewan melata mencari nyaman di antara celah-celah dinding bebatuan.
Suara derit dipan menandakan beban di atasnya bergerak. Sosok itu pun duduk di tepinya. Dalam cahaya yang temaram, masih bisa jelas terlihat, dia tersenyum. Di tangannya tersemat selembar kertas usang berwarna broken white. Adalah Wang Yibo, seorang pria yang sedang berjuang bertaruh nyawa melawan racun di tubuhnya. Membaca untaian kata-kata dari sana. Goresan tintanya sangat rapi tanpa cela. Entah bagaimana awalnya, tetapi kertas itu selalu menjadi candu yang tidak boleh dilewatkan barang satu hari.
Tidak ada kalimat indah, atau rayuan tidak bermutu. Coretan itu hanya berisi kalimat yang mengisahkan keseharian seseorang. Apa saja yang orang itu lakukan, sejak pagi memulai hari hingga lelap merenggut sadar. Juga tentang bagaimana kehadiran seseorang yang selalu di sisinya, meski hanya dalam lamunan. Dirinya. Setiap hari, setiap saat, tanpa lelah, tanpa keluh, juga kesah, mengusahakan yang terbaik agar bisa menemukan penawar untuknya.
Ada rasa nyeri dalam hati Wang Yibo ketika kalimat---kau harus baik-baik saja, kau harus berjuang seperti aku yang selalu berjuang mempertahankan hidupmu, dia baca. Yibo merasa tidak berguna, tetapi dirinya harus bertahan demi orang itu. Setitik air mata tanpa sadar mengalir dari netra miliknya.
“Hah,” satu desahan lolos begitu saja ke udara kemudian dia beranjak dari pembaringan. Perlahan menuju sebuah meja tak jauh dari dipan. Di atasnya banyak peralatan menulis dan juga tumpukan kertas yang tersusun rapi. Tanpa ragu menyamankan diri, lalu membentangkan sebuah lembaran kosong berwarna coklat yang dia ambil dari tumpukan di hadapannya kemudian mengambil kuas dan mulai menggoreskan tinta. Meski penerangannya minim, dia berhasil melukis sosok lelaki berjubah putih dengan sebuah mahkota yang tersemat apik di ikatan rambutnya. Jelas terlihat begitu anggun dan penuh kharisma. Yibo tersenyum mengagumi hasil karya buatannya.
“Shizun, kau tau … tubuhku mulai terasa dingin sampai jauh menembus tulang, tapi ada perasaan hangat di dalam hatiku. Perhatianmu membuatku merasa dicintai. Shizun, seandainya aku tidak sanggup bertahan, maukah kau memaafkanku?” monolog Yibo seraya menatap hasil lukisannya.
“Ukhuk, ukhuk!” Yibo terbatuk, dengan cepat dia membungkam mulutnya, akan tetapi setetes darah berhasil lolos jatuh di atas kertas. Dia membersihkan cairan merah itu, dan menatapnya nanar, kemudian tersenyum. Tangannya kembali mengambil kuas yang sempat dia letakkan, lalu menyamarkan darahnya dengan membuat bentuk bunga. Setelah meletakkan kuas, Yibo mengangkat lukisan itu dan tersenyum penuh arti, sekali lagi mengagumi karya buatannya.
"Maaf mengotorinya, tapi aku membuatnya lebih cantik, jadi tidak masalah. Benar begitu, kan, shizun?" ucapnya lagi pada lukisan sang guru.
Paginya, ketika matahari sudah beranjak dari peraduan. Yibo menatap ke arah luar dari pintu gua. Deburan ombak seakan merayunya untuk dihampiri. Sepertinya hangat berada di luar, begitu pikirnya. Hingga ia pun beranjak melangkahkan kaki perlahan dan mulai merasakan angin berhembus menerpa wajahnya yang pucat pasi. Rambutnya tersibak terkena sapuan angin, netra sendunya tenang menatap hamparan lautan berwarna biru, membuatnya merasa semakin merindukan sosok yang telah lama pergi, demi mencari bahan baku tiga obat untuk jadi penawar racun di tubuhnya. Rasanya Yibo ingin kembali ke masa lalu, saat mereka masih punya banyak waktu bersama, di paviliun sang guru.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE BROKEN THRONE
FantasyKisah seorang putra mahkota yang kehilangan tahtanya. Selamat membaca. Historical-action, LGBTQ. Cerita ini sudah tamat di versi pdf-nya, ya. Buat yang mau langsung hubungi admin ZAYLotus. Untuk nomornya saya selipkan di dalam cerita. Terima kasih...
