Istana Yue Hua terlihat begitu ramai, banyak lalu lalang orang yang masuk ke ibu kota. Sepertinya selain festival yang biasa diadakan setiap tahun, kali ini akan ada perayaan penting lain. Terlihat dari banyaknya pendekar juga para pendeta Tao yang hadir.
Zhan berjalan anggun dengan hanfu putihnya yang melambai terkena tiupan angin. Yibo di sampingnya melihat sekeliling dengan antusias. Sudah lama sekali sejak delapan tahun lalu. Yibo tersenyum melihat seorang pria tua penjual gulali. Di hadapannya terpampang berbagai bentuk makhluk hidup yang terbuat dari gulali itu. Dia mendekat, mengambil satu bentuk kelinci dan satu bentuk kepala singa kemudian membayarnya.
"Shizun, ini untukmu." Yibo memberikan gulali bentuk kelinci pada gurunya. Zhan tersenyum, lalu menerima gulali itu. "Makanlah, ini enak. Sangat manis," lanjutnya.
Zhan memandang gulali bentuk kelinci di tangannya sekilas, lalu beralih menatap muridnya. Memakan ini sambil menyusuri jalan, dia pikir aku seumuran dengannya atau bagaimana, dasar bocah, batin Zhan. Namun, dirinya tetap memakan gulali itu. Yibo dengan riang juga ikut mengulum gulali singa miliknya.
"Benar, kan, ini sangat manis," kata Yibo sambil menaikkan ransel kayu yang digendongnya. Zhan menepuk pucuk kepala Yibo dan melanjutkan berjalan.
Sesampainya di depan gerbang istana. Setiap orang yang akan masuk harus menunjukan surat undangan. Yibo menunduk saat Zhan menunjukkan surat dari kaisar. Dengan hormat penjaga itu langsung mempersilakan Zhan juga Yibo untuk masuk.
Suasana istana begitu ramai dengan banyaknya prajurit, dayang, dan para tamu undangan. Begitu Zhan menginjakkan kakinya di pintu masuk aula dalam, semua mata tertuju padanya.
Seorang Grand Priest hadir memenuhi undangan Sang Kaisar benar-benar suatu pemandangan langka. Sebab hampir beberapa dekade Sang Pendeta Agung tidak pernah mau datang memenuhi undangan, sekalipun langsung dari Sang Kaisar. Namun kali ini berbeda, Zhan sebagai Grand Priest ketiga dari Jiu Yi Shan hadir memenuhi undangan kaisar dengan membawa seorang pemuda. Padahal isu yang beredar sudah sampai ke pelosok negeri, bahwa seorang Grand Priest tidak boleh memiliki hubungan dengan dunia fana. Selain tidak boleh menikah, dirinya juga hanya boleh mengabdikan diri pada dewa, dan tidak mengangkat murid. Namun mereka tidak tahu kalau takdir seorang Grand Priest adalah akan memiliki seorang murid yang sudah ditentukan oleh dewa. Jadi bukankah yang mereka lihat sekarang adalah seorang Grand Priest hadir bersama seorang murid adalah wajar.
"Ah, Tuan Pendeta Agung, Anda sudah sampai," sapa seorang memakai hanfu berwarna abu-abu dan sebuah sabuk berwarna hitam dipakai agak longgar, juga penutup kepala yang berbentuk agak lonjong ke atas, sepertinya dia adalah seorang kasim. "Lewat sini, Tuan," lanjutnya, sambil menunjukkan arah yang akan mereka tuju.
Zhan juga Yibo mengikuti instruksi kasim tersebut. Menyusuri koridor istana beberapa waktu, mereka sampai di depan pintu ruangan seperti ruang istirahat.
"Acara akan dimulai sekitar satu jam lagi, Tuan Pendeta Agung silakan untuk istirahat lebih dulu. Mengingat baru saja menempuh perjalanan jauh," ucapnya mempersilakan Zhan dan Yibo untuk beristirahat.
Zhan menganggukkan kepala, kemudian melangkah masuk ke dalam ruangan itu. Yibo menatap sekeliling, tidak asing. Yibo tahu ruangan ini.
"Tunggu sebentar," cegah Yibo pada kasim itu saat hendak menutup pintu.
"Iya, Tuan?" tanyanya dengan sedikit membungkukkan badan tanda hormat.
"Ah, tidak. Hanya saja, bisa bawakan kami teh? Aku dan guruku haus," pinta Yibo.
"Tentu, tentu saja, Tuan. Nanti akan ada pelayan datang untuk memenuhi permintaan Anda. Ada lagi, Tuan?"
"Tidak, itu saja," pungkas Yibo.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE BROKEN THRONE
FantasyKisah seorang putra mahkota yang kehilangan tahtanya. Selamat membaca. Historical-action, LGBTQ. Cerita ini sudah tamat di versi pdf-nya, ya. Buat yang mau langsung hubungi admin ZAYLotus. Untuk nomornya saya selipkan di dalam cerita. Terima kasih...
