Realitanya?

464 54 14
                                    

"Cala?"

"Hai mbaa"

Eca dengan cengan cepat menarik gadis itu masuk kedalam mobilnya.

"Kamu ngapain disini? jam segini juga?" tanya Eca khawatir.

"Harusnya Cala yang tanya mba kenapa disini."

Eca berdecak, menyalakan mesin mobilnya kembali. Namun tangan Cala lebih dulu menahannya.

"Aku bawa mobil tauuu"

"Kamu kenapa sih La? ngapain kamu ke bar coba? ini udah malem banget, mba anter aja ya, mobilnya ambil besok lagi."

Cala berdecak kesal. "Mba Eca juga ngapain ke bar?"

Eca menghela nafas sembari menyandarkan badannya. "Healing?"

"Healing kok ke bar? mau minum kan pasti?"

"Engga kok" elak Eca, namun sedetik kemudian berubah saat mendapati Cala menatapnya curiga.

"Coba sedikit paling."

"Mbaa mbaa, tiap hari ngasih solusi ke orang, ngobatin mental orang, tapi mental sendiri ga di perhatiin." ucap Cala.

Eca terkekeh, "Tau apasih kamuu bocill~"

"Jalan-jalan aja yuk?" ajak Eca.

"Aku kan bawa mobil mbaaaa"

"Nanti besok ambil, mau ga?"

Cala mengangguk, "oke."

Eca mulai menjalankan mobilnya, membelah jalan sepi di tengah malam yang gelap. Entah mereka mau kemana, yang jelas rumah bukan menjadi tujuannya.

"Drive thru aja mau?" tanya Eca.

Cala mengangguk diiringi mobil yang masuk ke kawasan Drive thru. Selagi Eca membiarkan Cala memesan, Eca menyempatkan membuka ponselnya yang sengaja ia matikan sejak sepulangnya dari rumah sakit.

Menghela nafasnya begitu meliat puluhan bahkan ratusan notif yang masuk yang didominasi notif dari Mazen.

"Mba ayo maju"

Eca mengangguk, menaruh kembali ponselnya dan segera membayar juga mengambil pesanan mereka.

Disinilah keduanya, masih didalam mobil yang terparkir di sisi taman kota yang menghadap langsung ke sebuah danau sambil memakan makanan yang baru mereka beli tadi.

"Mba kemaren sempet baca artikel, katanya kamu mau main film ya?"

"Tadinya, tapi ga jadi."

"Kenapa?"

"Kak Jibran ga kasih ijin."

Eca mengangguk paham.

"Mba pernah capek ga sih?"

"Sama?"

"Semuanya. " kata Cala.

Eca menaruh kentang gorengnya, memilih minum sambil mendengarkan.

"Aku kadang gatau harus gimana, kaya di satu sisi aku pengen nurutin maunya kak Jibran buat berhenti kerja dan jadi istri yang baik kaya mau dia. Tapi disisi lain aku juga mau egois buat pertahanin dunia aku."

"Banyak yang aku korbanin buat jadi model kaya sekarang, bahkan sampe harus dibenci Papi. Kalau aku berhenti gitu aja, semua yang aku perjuangin ga ada artinya lagi."

Tak sadar air mata sudah turun selagi Cala terus mencurahkan isi kepalanya.

Eca juga sibuk mengelus lengan Cala sambil tetap mendengarkan.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 17 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Our StoryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang