"Jadi Naira ini junior kamu di kampus, Mas?" tanya Tante Rianti sekali lagi pada Satriya, yang dijawabnya hanya dengan anggukan. Tante Rianti tersenyum lebar. "Waaah, kebetulan banget yaa.. Kamu inget nggak, Nai, dulu waktu kamu masih kecil, kalian itu sering banget main bareng lho." cerita Tante Rianti.
Naira mengernyit bingung.. Sesaat kemudian kepalanya menggeleng pelan. "Aku enggak ingat, Tan."
Kenyataan bahwa Kak Satriya, seniornya di kampus, yang selama ini jadi Crush-nya, yang ternyata adalah anaknya Tante Rianti, sahabat ibunya sejak kecil di Jogja, cukup memberikan kejutan buat Naira.
Iya, ternyata dunia sekecil ini. Kebetulan yang sangat membuat kaget Naira maupun Satriya juga.
"Dulu, waktu Satriya masih kecil, keluarga Tante sempat tinggal di Jogja. Kalian ini suka banget main bareng. Dulu Satriya itu paling males kalo diikutin sama Dipta. Tapi giliran kamu yang ngikutin, dia mau-mau aja." Tante Rianti tertawa pelan.
Jadi, Tante Rianti dan Om Heru itu punya anak 5. Dan semuanya laki-laki. Udah kayak Pandawa 5 aja deh.
"Dulu Satriya bilang ke Tante, kalau suka kamu karena kamu anak perempuan. Semua adiknya Satriya kan laki-laki. Dia pengen punya saudara perempuan katanya," tambah Tante Rianti tanpa berhenti tertawa mengingat kenangan masa kecil Satriya.
Naira ikut tertawa. Dia melirik sebentar ke arah Satriya. Jujur saja, Naira sama sekali tidak ingat kisah itu. Sementara Satriya hanya memandangi mamanya dengan muka datar.
"Ma, udaaah." suara Satriya menginterupsi. Wajahnya masih datar, tapi tatapan matanya yang melirik tajam ke arah Naira membuat Naira sedikit salah tingkah.
"Tante ambilin minum dulu ya sayang." Ujar Tante Rianti akhirnya setelah berhasil menghentikan tawanya. Beranjak menuju kulkas yang terletak di samping pantry.
"Tante ada yang bisa aku bantu?" tanya Naira.
"Nggak ada sayang, semuanya udah beres kok. Bentar lagi Mbak Sarah juga turun. Tadi masih rapi-rapi kamarnya sama Mas Wisnu." Tante Rianti menuangkan jus jeruk ke dalam sebuah gelas, kemudian berjalan kembali ke arah meja makan dan menyodorkan gelas itu pada Naira. "Kamu makan malam di sini aja ya, Nai. Tante udah beli banyak makanan tadi. Nanti Om Heru dan adik-adiknya Satriya nyusul ke sini kok. Lagian, Ibu sama Bapak lagi nggak di rumah kan?"
"Ada mbok Sum dan Pak Man kok, Tan, yang nemenin aku. Nanti aku ngerepotin keluarga Tante." jawab Naira.
"Ngerepotin apa sih, Sayang? Tante seneng lho kamu di sini." Ujar Tante Rianti.
"Ada Nairaaaa..." Panggil Mbak Sarah dari arah tangga. Mbak Sarah buru-buru melangkah dan menghampiri Naira untuk memeluknya. Di belakangnya, ada Mas Wisnu yang mengikuti Mbak Sarah.
Setelah pelukan mereka terurai, Mbak Sarah mengambil duduk di sebelah Naira.
"Ini Naira, Ma?" tanya Mas Wisnu yang juga sudah duduk di sebelah Satriya.
"Iya," Jawab Tante Rianti tersenyum.
Mas Wisnu mengulurkan tangan pada Naira. "Kok udah gede aja kamu tuh? Masih ingat Mas Inu nggak?"
Naira menggeleng. "Enggak, Mas. Hehehee..."
"Waduuh, masa lupa sih? Mas Inu yang sering kasih kamu coklat dulu waktu kita tinggal di Jogja. Tapi habis itu kamu terus sakit, kena radang tenggorokan. Mas Inu dimarahin Mama deh." Cerita Mas Wisnu. Mereka semua tertawa.
Tapi Naira benar-benar lupa. Dia hanya ingat bahwa dulu pernah tinggal di Jogja, di rumah Eyang. Tapi tentang cerita yang barusan di ceritakan Mas Wisnu ataupun tadi oleh Tante Rianti, Naira benar-benar lupa. Dia hanya ingat dulu waktu kecil, sering sekali dirawat di rumah sakit. Hingga dia lupa bagaimana dia menghabiskan masa kecilnya ketika di Jogja.
***
Naira benar-benar makan malam dengan keluarga Tante Rianti di rumah baru Mas Wisnu. Suami dan anak-anak Tante Rianti yang lainnya pun juga berkumpul. Om Ridwan, suami Tante Rianti sangat-sangat ramah, sama seperti Tante Rianti yang suka bercerita. Dipta, Sena, dan Kavi, anak-anak Tante Rianti yang berarti adik-adiknya Mas Wisnu dan Mas Satriya, mereka juga sangat ramah, cenderung berisik, ada saja yang diobrolin bahkan berantem.
Naira pamit setelah jam dinding di ruang keluarga Mas Wisnu menunjukkan pukul 9. Tante Rianti mengantar Naira sampai ke pintu gerbang dan masih menunggu Naira hingga Naira masuk ke dalam rumahnya.
Keluarga Tante Rianti benar-benar keluarga cemara. Naira bisa melihat bagaimana anggota keluarga itu saling mendukung satu sama lain, walaupun dengan karakter yag berbeda-beda.
Keluarga Naira juga sama sebenarnya. Tapi cuma terhalang kesibukan kedua orang tuanya saja yang kadang-kadang membuat Naira merasakan kesepian. Terlebih setelah Saba diterima di Akademi Militer di Magelang. Naira lebih banyak tinggal di rumah pribadi mereka sendiri, ditemani dengan Mbok Sum dan Pak Man.
Aaahh,, Naira kangen Saba, saudaranya yang berbeda kelamin yang lahir sepuluh menit lebih dulu. Sejak dalam kandungan, mereka selalu sama-sama. Ke mana pun Saba main dengan teman-temannya, Naira akan ikut. Atau ketika dulu Naira harus dirawat di rumah sakit, Saba akan selalu menemani dan menjaganya.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
DEGUP
ChickLit"Kak, boleh minta tanda tangannya?" Naira menyodorkan papan kertasnya kepada Satrya. Satrya mendongak menatap Naira. Setelah meletakkan kamera di samping duduknya, Satrya meraih papan kertas Naira dan menggoreskan tanda tangan asal. Seharian ini ent...
