3.

180 19 0
                                        

Di ruangan gelap, di tengah ruangan itu hanya ada satu lampu yang menyala dan itu menyorot seorang Wanita berambut lumayan panjang(?) Aka. Mikoto Uchiha.

Mikoto di skap, oleh Geg serigala, Geg serigala adalah Geg yang menakutkan. Mereka menyerang lawan mereka dengan diam-diam , tak perhitungan, tak mengenal waktu apalagi lawan dan selalu membunuh dengan sadis. Terakhir kali mereka membunuh seorang pemuda berambut Blonde, mereka membunuh pemuda itu dengan meracuninya kenapa tidak di bunuh dengan sadis?? Karena mereka tak tega menyayat ataupun menggores kulit putih pemuda itu.

Pemuda itu sungguh seperti malaikat, bahkan beberapa dari mereka saat bertemu dengan pemuda itu ingin mengundurkan diri lalu menikahi pemuda itu.

"Sekarang.. Kita apakan Wanita ini? " tanya seorang wanita berambut coklat dan di cepat. Seringai tercetak di bibir tipis wanita itu.

"Bagaimana kalau, kita nikmati tubuhnya lalu kita cabik-cabik dirinya memakai Pisau lalu kita mutilasi dengan kapak dan kita kirim potongan tubuh wanita ini, di keluarga Uchiha dan kantor polisi? Mungkin??" ujar seorang pria berambut orange. Seringai lebar juga tercetak di bibir pria itu.

Mereka berdua melihat wanita itu. Wanita itu gemetaran karena takut, "HAHAHHA BELUM APA-APA SAJA SUDAH TAKUT, DASAR LEMAH!" ujar wanita berambut coklat.

Ruangan gelap itu di isi dengan desahan dan gemericik hujan yang sedang turun di luar sana.

Menyedihkan, hanya satu kata yang bisa Menma ucapkan pada kehidupannya.

Kehidupan sungguh tidak adil pada dirinya, kenapa Ibunya begitu cepat meninggalkannya? Apa dia terlalu nakal? Atau memang Ibunya tidak menyukainya lagi? Menma terus berpikir kenapa Ibunya meninggalkannya, sendiri tanpa pegangan.

Menma bagaikan seseorang yang terombang ambil di tengah lautan tanpa pegangan, perahu dan seseorang .

Menma menatap keluar jendela, Hujan yang menenangkan. Pikir menma

Menma sangat suka hujan setelah kepergian Ibunya, bahkan sangat menyukai hujan.

Hah..

Menma menghela nafas berat, sungguh kehidupan ini terlalu berat untuk punggungnya yang lemah ini.

Cklek.

Pintu kamar menma terbuka dan memperlihatkan ayah menma, Sasuke.

"Papa" gumam Menma. Sasuke menghampiri menma yang sedang duduk di pinggir jendela.

"Menma sayang, papa mau bilang kalau papa akan menikah lagi" kata Sasuke. Menma membelalakan matanya.

Apa kata ayahnya? Menikah lagi?? HEI! IBUNYA BARU SAJA MENINGGAL AYAHNYA SUDAH MENCARI PENGGANTI? ya Menma tau Ayahnya itu sangat populer tapi kepopuleran Ayahnya itu membuat Menma tidak terlalu menyukai Ayahnya.

"Papa! Mama baru saja di makamkan dan dirimu ingin menikah lagi?? Kau sangat jahat Papa, kalau Mama bisa mendengarmu dari surga, pasti Mama sangat kecewa padamu! "

Sasuke menatap Menma sedu, "tapi ini adalah jalan keluar untuk Sarada. Sarada masih kecil dan ia membutuhkan kasih sayang seorang Ibu Menma" tutur Sasuke. Menma mendecih tak suka.

"Aku yakin, Sarada tidak memerlukan Ibu yang lain selain Mama! Kasih sayang Mama kepada Sarada dulu itu sudah lebih dari cukup bukan?! Sarada juga harus berusaha mandiri! Apa Papa mau anak bungsumu Sarada menjadi anak manja?! "

"Menma, kurasa dirimu membutuhkan waktu untuk sendiri. Ayah pamit dulu ya" Sasuke pun beranjak pergi dari kamar Menma.

Tapi sebelum ia pergi, Menma mencegah Sasuke tepat di ambang pintu. "Ayah tanyakan pada Sarada. Pilihan hanya ada di tangan Sarada, bukan aku. " ujar Menma, Sasuke mengangguk lalu seutuhnya pergi.

Menma sendirian lagi, Menma kira Ayahnya akan menghiburnya tadi. Nyatanya Ayahnya malah membawa kesedihan lagi, Ayahnya mau melupakan Ibu.

Perlahan cairan bening keluar dari mata Menma, "hiks.. Hiks.. Mama, Papa jahat.. Hiks.. Hiks.. Menma.. Hiks.. Ti-dak kuat.. Hiks.. Mama.. " isak Menma.

Dan hujan pun semakin lebat.

Layaknya perasaan seorang gadis kecil berumur 8 tahun , perasaan gadis ini campur aduk dan semakin lebat , membuat gadis itu mengkerutkan keningnya.

Sarada sedari tadi memandang sisi ruangannya. Lebih tepatnya memandang Ibunya yang sedang berdiri di sana, "tadi kenapa ada nama Mama di Batu nisan? Dan kenapa tadi saat di pemakaman Mama hanya berdiri di samping pohon itu?? Dan kenapa Mama selalu di pojok ruangan?? Dan kenapa.. Saat pulang ada Pria menatapku dengan seringai yang begitu menyeramkan, dan lagi.. Siapa Wanita yang menyebutkan Jalang di makam itu? " benak Sarada. Sungguh Sarada saat ini sedang berpikir, pikirannya berkecamuk dan tidak baik untuk anak seumuran nya.

Pikirannya amburadul, baik itu tentang Ibunya , Ayah, Kakak ataupun segala macam.

Sedangkan Naruto hanya bisa diam. "Ada apa dengan gadis kecil itu? Apa ia sakit? Kalau sakit seharusnya di periksa ke dokter kan? Eh, kenapa aku mengkhawatirkannya? Memangnya gadis kecil itu siapa ku? " Inner Naruto. Pikirannya sama seperti Sarada.

Dan sebuah tanda di pergelangan tangan Naruto menghilang, satu.

Dan tanda yang hilang itu adalah tulisan, yang bertulis Berfikir keras dan perlahan menyadari apa bagian hidupmu selama ini?

Ya, tulisannya tidak jelas seperti tulisan dokter. Tapi kurang lebih seperti itu.

Smirk.

"Let's Play A game, Ghost Fox"

365 Days. Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang