4.tertantang

468 24 5
                                        

Hallooooooo
Selamat membaca yaaa😉
>>>>>>>>>>>>☠️<<<<<<<<<<<<
Sekarang jeno sudah berakhir di ruangan sang daddy yang sudah seperti kutub utara, sangat dingin.
Jeno sudah menunduk dengan tangan yang ia remat tak perduli jika bekas lukanya belum sembuh sepenuhnya.

"Buat masalah apa lagi kamu?" Tanya jaehyun dengan wajah datarnya.

"Jeno... Ngambil first kiss renjun dad..." Dengan keberanian yang ia punya jeno ia menegakkan kepalanya mencoba menatap netra tajam sang daddy.

"Kamu tau kan, daddy, dan kakek ga suka kalau keturunanya jadi brengsek kayak gini terutama itu cowo, kamu harus tau kalau didikan keluarga jung itu keras kita ga segan segan ngasih hukuman yang lumayan bahkan itu bisa menimbulkan banyak luka, harus berapa kali dad bilang?" Urat leher jaehyun sudah mengeras menandakan ia sudah tersulut emosi.

"Iya, jeno tau kalo jeno salah, tapi dad harus tau kalo jeno udah nunggu itu tiga tahun lebih, kalo dad bilang ini obses iya, jeno juga nyadar kalo jeno memang terobsessi sama renjun bahkan jeno merasa aneh sama diri jeno tapi entah kenapa jeno ngerasa kalo jeno pengen dia jadi milik jeno, jadi milik jeno seutuhnya dad." Baru kali ini jeno melawan perkataan jaehyun biasanya ia akan diam dan menerima hukumannya.

"jangan terlalu menyimpan harapan kepadanya." Ucap jaehyun sudah benar benar terpancing.

"you think i will give up?, Hahahaha jeno ga bakal nyerah gitu aja dad jeno bakalan bikin dia jadi milik jeno sepenuhnya." Sarkasnya menatap tajam sang daddy.

Brak!

Buku tebal yang berada di meja jaehyun melayang begitu saja mengenai dahi jeno yang otomatis membuatnya pusing, ada sedikit luka di dahi jeno atau lebih tepatnya memar karena terkena ujung buku.

"oke, kalo gitu buktikan apa yang kamu ucapkan tadi kepada dad." Ucap jaehyun mendekat ke arah jeno dan memeluknya sejenak, yang menandakan mereka sudah berdamai.

Jeno mendorong pelan bahu jaehyun dan melenggang pergi meninggalkan jaehyun yang tengan tersenyum remeh.

Ia mengambil jaket yang dengan lambang kebanggaannya, dan juga kunci motor kesayangannya, ia berniat untuk pergi ke markas, siapa tau ia bisa lebih tenang di sana dan mendapatkan sebuah rencana untuk mendapatkan sang pujaan hati.
>>>>>>>>>>>☠️<<<<<<<<
Sesampainya di markas golden evil, dengan langkah gusarnya dan juga aura yang menyeramkan ia mendudukan dirinya di sofa sedikit kasar, memejamkan matanya sejenak menikmati kepala yang berdenyut karena sakit.
Tak ada yang mengajak jeno berbicara karena mengajak jeno berbicara sama dengan memberikan nyawa mereka cuma-cuma.

Jeno tertidur, ya jeno sudah tertidur dengan wajah tenangnya sebenarnya jeno dengan wajah yang polos dan juga damai tanpa ada tatapan tajam itu membuatnya terlihat lucu, terlihat seperti bayi yang tengah tertidur.

"Hyun, chan, lo pada beli camilan sana." Perintah jaemin kepada kedua curut yang tengan asik bermain game.

"Yeuuh, lo mah nyuruh mulu beli sendiri ngapa." Sewot hyunjin masih fokes ke layar handphone nya.

"Ya udh sih, kalo ga mau." Ucap jaemin sembari mengeluarkan sejumblah uang merah yang langsung di tatap minat oleh kedua manusia itu.

"Tpi lo harus kasih kita upah jalan, masa udah cape cape nyari toko malem malem ga lo kasih upah, yakan hyun?" Jelasnya sembari menyibak rambut yang menutupi matanya.

Jaemin yang mengerti hanya menganggukan kepalanya dan memberi uang itu kepada haechan, keduanya dengan segera bangkit untuk membeli Snack yang diminta.

Jeno terbangun karena suara bising yang mengusik ketenangannya, ia juga mengernyitkan dahinya karena sakit yang tadinya sudah hilang kini kembali menyerangnya tpi baginya ini tak seberapa ia masih bisa menahan rasa sakitnya.

"Jam berapa?" Tanya jeno sembari memijat keningnya pelan.

"Baru jam 9 bos, kenapa emang?"

"Jam segini renjun udah tidur belum?" Pertanyaan itu di lontarkan begitu saja yang membuat jaemin sedikit kebingungan.

"Kalo jam segini dia masih nonton moomin, emang napa sih?" Ucapnya menatap jeno aneh.

Jeno tak membalasnya, ia memakai jaketnya dan keluar meninggalkan jaemin yang masih bingung.

"Si anyink, aneh bener sikap nye." Cibir jaemin lalu kembali menatap handphone nya.
>>>>>>>>>>>☠️<<<<<<<<<<<<
Di lain tempat, lelaki dengan piama bergambar awan itu sedang tengkurap sembari menatap layar laptop yang menayangkan kartun kesukaannya, kalau di lihat dari dekat renjun akan terlihat seperti bocah smp, karena badannya yang kecil dan juga lumayan berisi.

Tok tok tok!

Renjun menoleh ke sumber suara di mana sura itu berasal dari jendelanya, karena jiwa penasaran renjun sudah tidak bisa di tahan ia dengan berani berjalan mendekati sura itu dan membuka jendelanya.
Saat ia melihat apa yang berada di luar jendela ia dengan reflek berteriak namun di tahan oleh tangan besar milik orang itu.

"Sstt, jangan teriak nanti gue ketahuan." Iya itu jeno, kalian tidak perlu terheran heran dengan jeno yang nekad melakukan ini, karena ia sendiri memang memiliki sifat pantang menyerah.

"Kakak ngapain kesini?!, Nanti ketahuan sama ayah ku gimana?" Ucap renjun masih memperhatikan gerak-gerik jeno.

"Kepala gue sakit ren..."  Adunya mendudukan diri di pinggir ranjang.

"Kenapa bisa sakit?" Tanya renjun ikut duduk di sebelah jeno.

"Habis di lempar buku sama daddy." Jawab jeno lalu ia menarik renjun untuk tidur bersamanya.

"Kok bisa?, Kamu buat daddy kamu marah ya?" Tak ada jawaban dari jeno karena ia masih sibuk memainkan jari renjun.

"Mau peluk boleh ga?" Pertanyaan itu sukses membuat renjun melebarkan matanya, bagai mana tidak kaget masa dateng dateng minta peluk.

"Ga boleh!"

"Rennn, kepala gue sakit lohh." Rengek jeno dengan wajah memelasnya, karena di rasa jeno memang sedang membutuhkan itu jadi renjun hanya bisa pasrah dan membiarkan jeno mendusel di cekuk lehernya.

"Badan kamu panas banget kak." Renjun jadi merasa bersalah karena sempat berfikir aneh aneh kepada jeno.

"Gue pengen gini terus sampe pagi." Hembusan nafas jeno itu membuat renjun merinding karena ini baru pertama kali ia tidur bersama lelaki.

"Ga boleh kak, nanti ketahuan sama ayah sama bunda aku kan ribet." Tanpa sadar renjun mangangkat tangannya untuk mengelus rambut halus jeno.

"Kalo gitu gue mau ini, habis itu gue pulang." Pinta jeno sembari menunjuk bibir tipis milik renjun.

"Ga!, Ga boleh kak! Kita ga punya hubungan apa apa, aku mau kasih ini ke suami aku nanti." Ucap renjun menjauhkan wajah jeno darinya.

"Kalo gitu jadi istri gue, gue janji bakalan nikahin lo kalo lo udah lulus na renjun." Ucap jeno semakin mendekatkan dirinya dengan renjun.

Renjun sudah tak bisa berkata kata lagi, ini seriusan jeno bakal nikahin dia? Tapi ga mungkin karena renjun aja masih kelas sebelas jadi masih lama buat nunggu itu semua.

Cup

Bibir tipisnya menyatu dengan bibir tebal jeno, jeno juga melumatnya lumayan dalam mencoba membuat sang empu membalas permainannya, tetapi tetap saja renjun hanya diam dengan mata terpejam.

Di malam itu langit gelap yang di hiasi dengan bintang dan juga bulan menjadi saksi janji manis yang jeno ucap, dan langit itu juga menjadi saksi kegelisahan seorang na renjun.
>>>>>>>>>>>>☠️<<<<<<<<<
Halo kawan kawan, gimana kabarnya?
Pasti baik dong?!
Jadi di sini aku mau bilang kalo mau manggil aku pake nama aku aja!
Misal, 'okta' 'huang okta' gitu aja jangan pake kak ya?
Soalnya aku ga biasa kalo kalian panggil aku kak atau author.
Oke, terimakasih sudah membaca dan terimakasih sudah vote cerita ini sampai jumpa di chapter selanjutnya dadah babay!

OBSESSED [NOREN]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang