Kehidupan sistematis Yoo Joonghyuk yang dikacaukan oleh suatu realita asing seperti virus yang dengan cepat menggandakan diri dan menyebar menyerang seluruh fungsional kehidupannya. Tak lain, tak bukan-Kim Dokja.
Tidak ada hubungannya dengan canonic...
Keterkejutan seperti itu hanya akan menambah bumbu suasana menjadi mengarah pada hal yang liar. Seperti Yoo Joonghyuk yang tak menunjukan tanda untuk berhenti mengecup punggung tangan dingin Kim Dokja.
"Bisakah kau berhenti?" Kim Dokja yang memerah semu menutupi pipinya menggunakan tangan yang lain, perilaku lelaki di depannya itu tak kenal malu.
Yoo Joonghyuk hanya tersenyum miring menanggapinya, "Apa kau tak pernah membayangkan hal-hal seperti ini?"
"Hal-hal seperti apa?" Kim Dokja mengutuk dirinya sendiri karena menanyakan sesuatu yang hanya membuat seringai Yoo Joonghyuk makin lebar.
"Seperti ini," tangan besar Yoo Joonghyuk menekan bibirnya sendiri pelan, lalu menari jemarinya pelan sampai menyentuh bibir ranum Kim Dokja "menyentuh ini."
Jari telunjuk hangat yang menekan bibir lelaki ringkih itu membuatnya terdiam, pikirannya melambung jauh melalang buana memikirkan berbagai kata dari novel yang pernah ia baca. Kim Dokja hanya meruntuki dirinya sendiri-lagi, karena tak terlalu membaca novel romansa untuk tau apa yang ia harus lalukan selanjutnya.
"Mmm.." hanya gumanan di bibir rapat yang dapat terdengar darinya.
Yoo Joonghyuk melepas jari telunjuknya dari bibir yang mulai menyesuaikan suhu hangat rumahnya, "Tak pernah?" Kim Dokja hanya semu memerah pipinya tak sanggup menatap lelaki di sampingnya.
Lelaki itu tentu saja tak dapat menjawab apapun karena terlalu malu, wajah kemerahan yang menatap Yoo Joonghyuk dengan mata yang jelas terlihat apa artinya. Mata lurus membuat keberadaanya serasa tak lagi sama, rasionalitas yang telah menguap menjadi partikel-partikel kosmik membuat Yoo Joonghyuk menangkup pipi lelaki yang sudah ia dambakan selama beberapa waktu terakhir.
"Mhm-!"
Kekagetan Kim Dokja tak terlalu lama terjadi, karena kesadarannya juga telah terengut bersamaan dengan ciuman mematikan Yoo Joonghyuk yang mengejutkan. Mereka hanya menempelkan bibir pelan, sebelum akhirnya mulai merasa kurang sambil membuka mulut perlahan. Menambatkan lidah satu sama lain meneliti bagian-bagian mulut.
Dengungan kecil dari liang mulut Kim Dokja sedikit membuat Yoo Joonghyuk terasuki lagi oleh beberapa unsur moral yang ia lupakan, namun lelaki di depannya tetap menelan keseluruhan miliknya. Dari bibir, lidah, gigi, beberapa jambakan di rambutnya yang seolah menyuruhnya kembali aktif dalam pekerjaannya.
Terlalu manis, dan terlalu menggoda. Semua akal sehat Yoo Joonghyuk yang sudah terkikis karena menjaga kewarasannya antara merindukan Kim Dokja berlebihan, dan tetap menjalankan hari seperti manusia pada umumnya. Sebuah siklus perubahan antara keabsolutan insting hidup, dan perasaan untuk membebaskan diri dari kegiatan repentitif dan meliar selamanya.
'Andai saja dunia tak seperti ini.'
'Andai saja setting, dan alurnya berbeda.'
'Andai saja kau bukan anak pembunuh.'
'Andai saja dunia ini hancur.'
"Andai kau mempercayaiku sedikit saja, mungkin kau sekarang adalah lelaki paling bahagia di dunia."
Sebuah kalimat yang seharusnya Yoo Joonghyuk simpan dalam permainan otaknya ternyata mengeluarkan vokal yang dapat didengar sampai telinga Kim Dokja. Satu sisi terkejut, satu sisi yang lain tak pernah tau pikirannya terucap oleh lidah dan dibunyikan oleh pita suara.
Yoo Joonghyuk sudah tidak peduli lagi akan ketercampuran pemikiran, dan percakapannya.
"Kesempatan seperti ini tak pasti, abaikan saja dunia."
•••
Sebuah kesempatan terkadang hanya terjadi sekali, kadang terjadi dua kali, kadang berkali-kali. Tak pernah ada yang tau kapan datangnya lagi, Kim Dokja pikir mungkin mencoba mempercayai lagi pilihannya adalah hal yang pantas dicoba.
Sudah berapa kali ia hampir menangis karena semua mimpi semu yang mengikis hasratnya untuk menginkan lebih. Hatinya mungkin sudah berubah menjadi batu, terlalu berharap kecil pada nasibnya.
Ia hanya akan tetap berfantasi, tetap akan berlari pada awan yang ada di pikirannya, bintang-bintang palsu yang menghiasi jalanannya, semua diksi yang ia tambahkan dalam kata hatinya.
Namun, Yoo Joonghyuk.
Entinitas yang entah bagaimana menariknya dari surga buatan yang ada di kepalanya, mengatakan kata-kata manis sambil menciumya. Tatapan mata yang sebelumnya tak pernah ia tau, perasaan misterius yang membuka tudungnya.
Terjun bebas menggandeng tanganku sampai menapakan kakiku pada tanah kenyataan.
[ I just want we all to be happy. ]
[ I want to see everyone living their best life. ]
That eyes seems to ask me, "How about us?"
[ I want us to be happy, making lots of laugh, and many more. Maybe, until eternity. ]
•••
Rube notes : SAKIT BGT NULISNYA KONTOOOOOOOOO- ehem. Maybe im into writing middle aged depressed lost hope man pov.
Read my own story make me feel so lonely. Anw, i made a playlist on spotify...