Suara pintu terbuka membuat Qeela dengan cepat masuk ke dalam unit Herlan. Qyu terlelap di gendongannya yang membuat Herlan menghela napas lega.
"Tolong jaga Qyu sebentar. Saya harus menemui teman saya."
Qeela mengangguk patuh–membiarkan Herlan pergi dari unitnya.
Sebetulnya, banyak sekali hal yang sangat ingin Qeela tanyakan. Apalagi saat melihat reaksi Jeffran yang begitu terkejut begitu melihatnya. Tak hanya itu, Qeela bahkan menyadari jika Jeffran begitu marah begitu bertemu dengannya. Qeela jadi bertanya-tanya, apa sebenarnya ia telah melakukan kesalahan?
Qyu yang kini tertidur di atas sofa terbangun dan langsung menatapnya. Qeela segera menghampirinya dan langsung mencoba kembali membuat Qyu tertidur kembali.
"Yayah kemana?"
"Katanya mau nemuin temannya yang kita temuin tadi," jawab Qeela.
"Kenapa Qyu gak diajak?"
"Karena Qyu lagi tidur. Gak apa-apa, Qyu. Ada Kakak."
______
Katakan saja Jeffran sekarang begitu marah. Bagaimana bisa Herlan bersama dengan sosok yang—ah, bahkan untuk mengatakannya saja Jeffran tidak bisa.
Selepas mengantarkan Qeela dan Qyu ke unitnya, Herlan berpamitan menuju resto milik Jeffran. Kini, tak hanya Jeffran yang berada di hadapannya. Melainkan Tyan dan Jaya juga. Jeffran masih membisu, namun ketiganya tahu jika Jeffran sedang menahan diri untuk tidak melampiaskan emosinya sekarang juga.
Linda–istri Jeffran kemudian datang dengan empat gelas avocadoffe di nampan–meletakannya di atas meja dan kembali pergi dari sana. Baru merasakannya saja, Linda dapat mengerti jika amarah yang kini melingkupi jiwa suaminya.
"Ini gue minum, ya?" Jaya seketika meminumnya tanpa merasa berdosa. Padahal sudah jelas, tatapan tajam itu tak hanya dilayangkan pada Herlan, melainkan padanya juga.
"Jelasin ke gue … kenapa Qeela bisa sama Herlan?"
Seketika Jaya tersedak, kopi yang ia teguk seketika berceceran karena ia yang tiba-tiba terbatuk. Tyan berjengit jijik. Sedangkan Jeffran dan Herlan diam saja–bersikap tak biasa.
"Bentar. Maksud lo apaan, Jef?"
Jeffran berdecak kesal. Tangan kanannya menggebrak meja dan berkata setengah berteriak, "Jelasin ke gue sekarang!"
Jaya seketika melunak. "Okey, Jef. Okey. Tapi lo tenang dulu, ya?"
"Gue gak bisa tenang, Jay."
"Sebelumnya sorry. Sorry karena gue gak ngasih tahu siapa orang yang bakalan ngasuh Qyu. Bukan karena gue mau nyembunyiin ini tapi, Herlan juga minta buat gue gak ngomong sama kalian berdua."
"Kenapa, Lan?"
Pertanyaan itu menggantung di udara karena Herlan yang diam saja. Sedang Tyan masih tak mengerti dengan pembahasan yang keempatnya lakukan.
"Ini maksudnya apaan, sih? Gue gak ngerti anjing ah!" keluhnya.
Tyan menatap Herlan, bahkan tangan kanannya menggerak-gerakkan bahu Herlan yang masih diam.
"Lan? Lo kenapa diem aja? Lo juga Jay. Apalagi lo Jef. Ih bangsat!"
"Lo diem dulu bisa gak?" Nada bicara Herlan yang begitu ketus membuat Tyan seketika diam.
Jaya setelahnya mengambil alih.
"Biar gue jelasin. Tapi sebelum itu, lo tahu gak, Yan, siapa yang asuh Qyu selama dua mingguan ini?"
Tyan sontak saja menggelengkan kepala. Emosinya kembali meledak karena Jaya yang bertele-tele. "Yang bener anjing, Jay!"
KAMU SEDANG MEMBACA
SADAJIWA
ChickLitSadajiwa itu berarti hidup selamanya. Tapi manusia tidak mungkin hidup selamanya, kan? Sadajiwa disini berarti kan abadi. Walau raga sudah tak saling menyentuh, napas tak lagi saling memburu, jantung tak lagi saling berdetak. Tapi kekekalan rasa m...
