Mata Daniella terbuka, dia melihat ke jam dan ternyata dia sudah satu jam terlelap. Wanita itu turun dari ranjang. Dia segera pergi mencari Quinn. Putrinya itu pasti sudah lapar.
Langkah kaki Daniella terhenti ketika dia melihat Siegren yang baru keluar dari kamarnya. Letak kamarnya dan kamar Siegren berada di lantai yang sama, itu hanya dibatasi oleh beberapa ruangan saja.
Melihat pria itu melangkah semakin dekat ke arahnya, Daniella mengepalkan tangannya erat. Jantungnya saat ini berdetak kencang. Untuk sementara waktu pikirannya menjadi kosong.
Detik berikutnya Siegren berdiri tepat di depan matanya. Satu tahun berlalu, Siegren menjadi lebih memikat dari sebelumnya. Pria itu tampak semakin matang dan karismatik.
"Selamat datang kembali di rumah, Ella."
Suara Siegren menarik kembali Daniella ke dunia nyata. Dia bersikap setenang mungkin, menekan rasa gugup di dalam dirinya.
"Terima kasih, Kakak," balas Daniella. Wanita itu melihat ke jam tangannya. "Kakak kembali lebih cepat dari biasanya."
"Kakak mendengar kau datang jadi Kakak memutuskan untuk pulang lebih cepat."
"Ah, seperti itu," balas Daniella. "Kakak, apakah kau sudah bertemu dengan Ayah dan Ibu?"
"Ya," jawab Siegren. "Juga aku bertemu dengan seorang bayi mungil."
"Kakak, aku minta maaf karena telah berbohong."
"Tidak perlu meminta maaf, Ella. Apa yang sudah berlalu biarlah berlalu."
Daniella menatap wajah tenang Siegren, dia tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Ella, katakan padaku siapa ayah anak itu?" Siegren menatap Daniella lekat.
"Altan, dia adalah ayah dari anakku." Daniella berkata dengan tenang. Hatinya meraung menyebutkan bahwa Siegrenlah ayah dari anaknya, tapi yang keluar dari mulutnya adalah kalimat itu.
Senyum kecil tampak di wajah Siegren. "Putrimu tidak mirip dengan Altan sama sekali, apakah kau yakin dia adalah ayahnya?"
Daniella merasa tidak nyaman, apakah kakaknya tahu yang sebenarnya? Apakah sekarang kakaknya akan memandangnya dengan jijik?
Daniella mengenyahkan semua pemikiran itu. Kakaknya tidak mungkin mengetahui rahasia yang dia simpan. Malam itu kakaknya mabuk dan tidak mengingat apapun.
"Kakak, genku lebih kuat dari Altan, jadi Quinn lebih mirip denganku, tapi iris mata Quinn sama dengan milik Altan."
"Benarkah?"
Daniella ingin cepat mengakhiri percakapannya dnegan sang kakak, ditatap menyelidik seperti saat ini membuat hatinya sangat tidak nyaman.
"Ya."
Siegren diam sejenak, dia menggenggam antingan di dalam sakunya. Antingan itu adalah milik Daniella yang ditinggalkan oleh Daniella di kamarnya.
Siegren awalnya ragu bahwa malam itu ketika dia mabuk dia telah bercinta dengan Daniella. Antingan yang hanya sebelah tidak begitu membuatnya yakin tentang malam itu karena bisa saja Daniella meninggalkannya di waktu sebelumnya ketika Daniella menemuinya. Namun, setelah dia melihat Raquinne dan menghitung usia Raquinne jika malam itu dia dan Daniella benar-benar bersama itu benar-benar sangat pas. Selain hal itu dia juga samar-samar mengingat apa yang terjadi malam itu, tapi sebelum hari ini dia berpikir bahwa itu adalah mimpi liarnya terhadap adiknya sendiri.
"Kakak, aku akan melihat Quinn dulu." Daniella kemudian pergi tanpa menunggu jawaban dari Siegren.
Siegren seharusnya mengembalikan antingan milik Daniella pada pemiliknya, tapi apa yang harus dia katakan tentang malam itu? Bagaimana jika ternyata dia memperkosa Daniella? Jika itu adalah kebenarannya maka yang terbaik adalah tidak mengungkit tentang malam itu. Siegren bukannya tidak ingin bertanggung jawab terhadap Daniella, tapi bagaimana dia akan menghadapi Daniella setelah ini jika kebenarannya memang seperti itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Stay With Me
RomantikJika hati bisa memilih Daniella tidak ingin menjatuhkan hatinya pada Siegren Shine, kakaknya sendiri. Pria yang tidak akan mungkin pernah bisa membalas perasaannya. Daniella dan Siegren tidak terikat hubungan darah, tapi Daniella merasa bahwa perasa...
