Anak kembar kalau nggak akur, berarti ya rusuh. Seperti si kembar ini, ada saja kelakuan mereka yang membuat orang-orang merasa gemas ingin meninju wajah mereka.
Kalau 1 anak saja sudah sangat rusuh, apalagi ini ada 3, kembar pula.
Alexa Ara Geordi...
Saat ini, si kembar tiga tengah berada di rumah pak Mamat, tetangga mereka. Ketiga bocah ini kabur dari kediaman Equaro dengan alasan yang baik, yaitu mengajari Pak Mamat dan istrinya untuk menggunakan handphone.
"Ini gini om Mamat, bukan gitu."
Sedari tadi Ara sudah sangat kesal karena Pak Mamat tak kunjung paham menggunakan ponsel pintarnya. Maklum saja, Pak Mamat baru mendapatkan gaji yang besar. Sehingga ia bisa membeli handphone untuknya dan juga istrinya.
"Loh loh, ini gimana, kok mencet-mencet sendiri ini?!"
Bu Mamat terlihat sangat panik. Padahal ia hanya menyentuh layar ponsel dengan jarinya karena ingin mencari letak tombol yang biasanya berada di bawah layar. Namun layar ponselnya malah bergerak-gerak dan membuka berbagai macam aplikasi.
Pak Mamat juga tak kalah heboh. Saat ia sudah bisa menggunakan salah satu fitur di hpnya, Pak Mamat langsung berteriak kencang seperti anak-anak yang memanggil Mamang siomay yang telah pergi jauh.
"Kok hpnya Om Mamat langsung lowbat, ya, Le?"
Pak Mamat bingung, pasalnya beberapa jam yang lalu ia baru saja mencharger hpnya. Tidak mungkin baterainya langsung habis secepat ini.
"Ish, Om Mamat jangan terang-terang itu layarnya, silau tauu."
Arsha saja sampai menyipitkan matanya karena kecerahan layar hp Om Mamat sangatlah membagongkan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dan kini, Bu Mamat telah mengerti bagaimana caranya berselfie. Bu Mamat sungguh senang, apalagi ia berselfie mengunakan filter yang membuat wajahnya terlihat lebih cantik. Tidak tanggung-tanggung, Bu Mamat menambahkan filter lagi pada fotonya yang sudah difilter.
"Tante, pake filtelnya jangan tebel-tebel tau. Beda banget mukanya."
Celetukan Ara membuat Bu Mamat menoleh. Namun Bu Mamat langsung berselfie ria kembali.
"Nggak papa, biar kalau ada yang nyantet Tante, biarin nyasar."
*******
"ASSALAMUALAIKUM PAK ELTEE."
"PAK RT, ARSHA MAU MINTA RAMBUTAANN."
"PAK ELTEEE."
Teriakan dari Ara dan Arsha sungguh sangat memekakkan telinga. Arka saja bingung, kenapa kakak dan adiknya sangat tidak waras? Padahal dirinya saja sangat tampan, tidak bar-bar, dan yang jelas dia kalem.
Berulang kali ketiga bocah ini memanggil Pak RT, namun Pak RT sepertinya sedang tidak berada dirumah.
"Kita ambil lambutannya sekalang aja yuk." Ajak Ara sambil menatap kearah pohon rambutan yang berbuah lebat.
"Nggak boleh! Kata Mama, kalau bilang tanpa mengambil itu disebut mencuri." Arsha melarang kakaknya itu.
"Heh, yang bener itu mengambil tanpa bilang tau." Arka menyaut dengan sewot.
"Tapi kan kita udah bilang, Pak Elte nya aja yang nggak tau. Iya kan, Sha?"
Arsha hanya mengangguk menjawab pertanyaan Ara. Arsha yang merasa perkataan kakaknya benar, akhirnya ia pun ikut untuk mengambil rambutan pak RT, begitu juga dengan Arka yang kini sudah berada di bawah pohon rambutan.
Jangan kira mereka akan memanjat pohon, menaiki tangga, atau saling menggendong untuk mengambil rambutan. Nyatanya, kini mereka tengah melempari buah rambutan dengan sandal yang berada di rak sepatu milik keluarga Pak RT.
Mau menggunakan sandal mereka? Hohoo, jangan harap. Karena jika sandal itu tersangkut, maka tamatlah riwayat mereka di hadapan Sandra nanti.
Saat sedang melempari rambutan dengan sandal, fokus Ara teralihkan pada seekor ayam jantan milik pak RT yang berada di dalam kandang.
Ara langsung berlari membuka kandang ayam tersebut dan menggendong ayam itu di bawah ketiaknya. Ayam itu tampak memberontak dengan sorot mata yang memancarkan suatu ketakutan yang besar.
Pasalnya, Ara sering berbuat aneh-aneh dengan ayam ini. Contohnya adalah saat ini.
"Ayam, kamu udah makan belum? Sini Ala suapin kamu yaa."
Ara mencabut rumput yang berada di dekat kakinya. Rumput itu berwarna kecoklatan di bagian bawahnya karena terkena kotoran ayam. Ara langsung menyuapkan rumput itu secara paksa dan membuat sang ayam memberontak hebat.
"Kakaak, ayo pulang. Rambutannya nakal nggak mau diambil."
Tampak Arka dan Arsha yang berjalan ke arah Ara dengan tubuh yang dipenuhi keringat. Ara menoleh ke arah pohon rambutan yang daunnya sudah rontok karena dilempari oleh sandal, padahal tidak ada rambutan yang jatuh satu pun.
Ara lalu mengangguk mengiyakan ajakan Arsha. Ara langsung melempar ayam yang digendongnya secara asal dan mengikuti kedua adiknya yang telah sampai di pintu pagar rumah Pak RT.
*******
Arkasha telah berada dirumahnya. Sungguh, mereka sangat merindukan suasana rumah ini. Untungnya, Arsen dan Sandra sudah pulang tadi siang. Sehingga Arkasha dapat kembali memberantaki rumah kesayangan mereka.
Menginap dirumah Hana dan Haikal sangat membosankan. Disana tidak ada mainan sama sekali. Haikal dan Hana juga hanya fokus dengan gadget mereka.
Jika dirumah, Arkasha akan bebas berlarian walau akan dimarahi oleh Sandra. Mereka selalu membuat rumah berserakan dengan mainan-mainan mereka, mengotori karpet dengan tumpahan minuman, memecahkan gelas dan piring, meninggalkan alat elektronik dengan keadaan yang menyala dan banyak lagi hal lainnya.
Seperti saat ini contohnya. Ara tengah bermain masak-masakan menggunakan rambut barbie yang ia gunting dan dijadikan sebagai mie oseng. Arka dan Arsha sebenarnya tidak tertarik untuk bermain masak-masakan.
Tetapi lihatlah, Arka dan Arsha kini ikut dalam permainan Ara. Walau jika dilihat, wajah mereka sangat tertekan.
"Alka itu ailnya jangan banyak-banyak, nanti keasinan tauu." Ucap ara sambil menepis tangan Arka.
"Tapi kan ini dikasih air biar nggak asin." Bantah Arka yang disetujui oleh Arsha.
"Itu Ala ngambil ailnya pake ail kolam, jadinya asin."
Arka dan Arsha hanya terdiam. Benar juga ya, air ikan kan memang asin. Payah sekali mereka ini. Tapi tunggu dulu,