"Unexpected Wedding" (15+)
****
"Aldi, apa kamu masih mau terima aku setelah ini?"
(Namakamu) kembali menangis dengan terisak. Seharusnya ia tidak menerima pernikahan ini. Seharusnya ia membatalkannya. Seharusnya.... Hanya kata seharusnya yang ada di pikirannya sekarang.
Apakah ia menyesal dengan pernikahan ini? Entahlah.
Ia bahkan tidak menjawab saat Iqbaal bertanya apakah ia membencinya.
Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya saat mendengar fakta tersebut, tapi entah mengapa ia tidak dapat membenci Iqbaal.
Ia bahkan tidak dapat menafsirkan rasa di hatinya, benci atau tidak.
"Apa aku harus terima Iqbaal dan lupain Aldi? Apa aku harus maafin Iqbaal dan bangun semuanya dari awal?"
****
(Namakamu) merapikan blouse dan rok span yang ia gunakan. Ia sedang bersiap-siap untuk pergi ke perusahaan.
Ia mulai memoleskan lipstick berwarna pink ke bibir ranumnya. Ia juga merapikan rambutnya yang ia biarkan tergerai.
(Namakamu) menghela nafasnya. Ia meraih sling bagnya lalu segera keluar dari kamarnya.
"Selamat pagi."
(Namakamu) tersentak saat mendengar suara Iqbaal. Ia menolehkan kepalanya dan melihat Iqbaal tersenyum ke arahnya.
Ia membalas senyuman Iqbaal dengan tatapan datar. Ia segera berjalan menuruni tangga, tanpa mempedulikan Iqbaal yang kini menghela nafasnya.
"Kapan kamu akan luluh?"
*
(Namakamu) menghela nafasnya saat taxi yang ia tunggu tak kunjung datang.
Sudah 10 menit ia berdiri di pinggir jalan menunggu kedatangan taxi. Namun, setiap taxi yang lewat selalu saja membawa penumpang.
"Kalo kayak gini, aku bisa telat."
(Namakamu) melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 07.25 WIB. 35 menit lagi seluruh karyawan harus telah tiba di perusahaan. Sedangkan perjalanannya menuju perusahaan membutuhkan waktu 20 menit, itupun jika ia tidak terjebak kemacetan.
Tin..Tin
(Namakamu) terkesiap saat mendengar bunyi klakson mobil. Ia menatap mobil yang kini berhenti di depannya.
Pemilik mobil tersebut menurunkan kaca mobil. Pemilik mobil tersebut menatapnya dan langsung membukakan pintu mobil untuknya.
"Ayo masuk, kamu bisa terlambat. Jam segini taxi yang lewat udah bawa penumpang."
(Namakamu) tak mempedulikannya. Tatapannya ia arahkan pada jalanan yang mulai padat.
"Kali ini aja nurut sama aku."
(Namakamu) menatap Iqbaal dengan kesal. Menurut padanya? Dia pikir dia siapa?
Eh tunggu, bukankah Iqbaal suaminya?
"Ayo!"
(Namakamu) mendengus. Ia menghentakkan kakinya kesal. Mau tidak mau ia harus berangkat ke perusahaan bersama Iqbaal.
Sebenarnya tidak ada masalah jika ia berangkat bersama Iqbaal. Ia bisa menghemat pengeluarannya dan tidak perlu menunggu taxi lewat.
Bukan berarti Iqbaal tidak menafkahinya selama ini. Iqbaal sudah membujuknya untuk menerima sejumlah uang, hanya saja ia menolaknya dan memilih menggunakan uangnya sendiri.
Iqbaal tersenyum tipis saat akhirnya gadis itu memasuki mobil dan duduk di sampingnya.
Iqbaal menyalakan mesin mobilnya kembali lalu mulai melajukan mobilnya di atas jalanan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unexpected Wedding
FantasySebuah pernikahan tak terduga membawa dua orang yang sama sekali belum saling kenal ke sebuah kehidupan baru. Mereka harus menjalani kehidupan baru bersama, hanya karena kesalahan fatal yang diperbuat sang pria. Akankah sang pria mampu meruntuhkan r...
