Oh yaa, ada pengumuman yang lupa aing kasih tau hehehe. Di sekitaran atau di mana pun itu bisa ada clue-clue untuk membantu kalian buat nemuin impostornya. Jadi untuk kali ini diharap peka, kalau mau menang :)
Oke itu aja, silakan main lagi.
Tak lama, bell tanda sesi permainan kembali terdengar.
Semua yang tersisa kembali berpencar. Beberapa ada yang mulai memisahkan diri, takut kejadian pada sesi kedua tadi kembali terulang. Alhasil, beberapa tersebut lebih memilih untuk bersembunyi sendirian. Ada pula yang justru terlalu takut sendirian untuk bersembunyi sehingga memilih untuk berdua tanpa peduli siapa pasangannya. Contohnya Renjun dan Jihoon.
Dua personil yang berposisi vokalis pada masing-masing grup ini sudah dipertemukan oleh keadaan pada awal sesi permainan. Renjun yang berniat untuk mencari tempat sembunyian merasa parno sendiri karena sempat mendengar jejak langkah kaki seseorang. Akhirnya dia memutuskan untuk mengintili satu orang yang beruntungnya tengah berada di tempat yang sama dengan Renjun. Jadilah dia ikuti orang itu dan ternyata dia adalah Jihoon.
Tapi, di sesi kedua Renjun memberanikan diri untuk sembunyi sendirian karena Jihoon yang sangat berisik. Ditambah Renjun yang emosian. Baginya bersembunyi dengan Jihoon bukan menyelesaikan masalah, tapi menambah cobaan dan ujian hidup.
Dan sekarang, Renjun kembali dibuat parno lagi karena dia mendengar suara-suara bisikan. Padahal di sekitarnya tidak ada orang. Emm, ralat, lebih tepatnya, tidak terlihat peserta game.
Pemuda itu mempercepat langkahnya. Sesi kali ini dia bersembunyi di lantai 2,5. Di sesi kedua tadi, dia bersembunyi di lantai 3 dan ketika hendak turun menggunakan lift, dia tidak sengaja melihat tangga yang berjarak cukup dekat dengan lift. Alhasil, dia coba untuk lewat tangga dan ternyata ada beberapa ruangan yang menurut Renjun itu bisa dibilang aman. Karena biasanya peserta lebih suka naik lift kalau hendak bersembunyi di lantai 3.
Ssstttt!
Lagi-lagi Renjun mempercepat langkahnya menjadi level 3. Kalau dilihat sudah seperti lari-lari jogging.
"Heiii."
Badan Renjun sekarang sudah menegang. Dia bahkan belum sampai di tempat persembunyiannya, bagaimana mungkin impostor sudah menemukannya.
"Stoooop." Suara bisikan namun penuh dengan penekanan.
"Yaampun, kok guee sih, jangan gue dulu dong. Badan gue kecil, lo gabakal kenyang makan gue," ujar Renjun yang sekarang sudah berlari dengan mata berkaca-kaca. Dan benar saja, terdengar tapakan kaki yang juga berlari seakan ingin memangsa Renjun saat itu juga.
Sayangnya, langkah Renjun kalah cepat dari orang yang tengah mengejarnya.
"Woii, ini guee!" Tangan Renjun ditarik yang mengakibatkan pria mungil itu jatuh begitu saja. Pandangannya mengarah pada orang yang berdiri di depannya. Itu Jihoon.
"Anjing lu, anjing banget tau gak?!" Renjun mencemooh sembari berdiri. Rasa kesalnya memuncak begitu saja. Benar kan, beliau ini sangat menguji kesabarannya.
"Ngapain lo lari-lari?" Tanya Jihoon sambil menarik paksa Renjun masuk ke dalam salah satu ruangan yang berada di lorong sempit.
"Ya lo ngapain bisik-bisik? Kan gue kira impostor," jawab Renjun tanpa bisa santai.
"Bukannya lo yang minta buat gak teriak-teriak? Giliran gue udah gak teriak malah salah lagi."
"Yakan gak bisik-bisik juga, pake sst sst segala, bikin parno aja."
Jihoon menoleh ke arah Renjun. Saat ini mereka sudah berada aman di ruangan yang menampakkan benda-benda yang tak terpakai.
Coba tebak?
Benar sekali, jawabannya gudang. Meskipun begitu, gudang ini tetap menampilkan aura-aura elitnya. Kalau kata Jihoon, kayak aura Hyunsuk. Rich abizz. Buktinya, gudang ini memiliki ukuran 2 kali lebih besar daripada kamar kosnya. Ah iya, satu fakta tentang Jihoon adalah dia anak rantau dari kota Depok ke kota Jakarta.
"Enak aja lo nuduh-nuduh gue," ujar Jihoon tak mau disalahkan.
"Lah, emang lu, kan?"
"Gak lah, gue cuman bisik-bisik manggil hei sama bilang stop doang, kaga ada psst-psst nya. Lo kalo fitnah emang kelewatan, Njun."
Untuk sekejap, Renjun diam memahami ucapan Jihoon tadi. Tapi kamudian pria itu menggeleng-gelengkan pelan kepalanya. Mungkin halusinasinya yang berlebihan saja.
"Eh, lo tau nama gue?" Tanya Renjun sembari mengikuti Jihoon yang sekarang telah duduk di belakang tumpukan kardus. Posisi mereka bisa dibilang sangat tersembunyi.
"Taulah," jawab Jihoon singkat.
"Kok tau?" Renjun bertanya lagi. Seingatnya, di sesi satu mereka bahkan belum berkenalan satu sama lain karena waktu persembunyian hanya mereka habiskan dengan adu bacot.
"Tadi sempet nanya sama bang bule. Gue nanya 'bang, sikecil namanya siapa' terus dijawab Renjun." Jihoon memaparkan penjelasan kala dia bertanya kepada Mark dengan sengaja menekankan kata 'sikecil'.
"Gue familier banget sama wajah lo."
"Oh tentu, gue kan famous," jawab Jihoon dengan mengibaskan rambutnya ke belakang, namun gagal karena rambutnya kusut.
"Bukan, wajah lo tuh tipee..."
Jihoon menoleh, penasaran akan kelanjutan dari perkataan Renjun yang menggantung. "Tipe apa?"
"Tipe pembawa keributan banget." Renjun menjawab dengan wajah tanpa dosa.
"Asem lo."
Setelah itu keadaan menjadi sedikit sepi. Bisa dibilang ini rekor untuk mereka berdua karena akhirnya bisa berhenti dari adu mulut. Keduanya kini sibuk dengan pikiran masing-masing. Sesekali juga mereka adu sinis karena saling curiga akan salah satu di antara mereka merupakan impostornya.
Sampai akhirnya ada langkah jejak kaki yang berjalan di lorong mendekati ruangan mereka.
Benar saja, seseorang memasukki ruangan yang sama dengan Jihoon dan Renjun. Keduanya sontak menahan nafas mereka untuk beberapa detik. Jihoon yang melihat salah satu kardus yang cukup besar dengan posisi terbuka ke samping mengambil kesempatan untuk memasukkinya.
Renjun yang peka terhadap ide Jihoon segera mengikuti pria Depok itu. Syukurnya, badan Renjun yang tidak terlalu besar tidak membuat mereka kesusahan.
Cukup lama menunggu, Jihoon tak mendengar adanya pergerakan musuh yang hendak mencari mangsanya. Ya walaupun dalam hatinya dia juga tak mengharapkan hal itu.
Atau mungkin cuma mau ikut sembunyi juga, ya? Batin Jihoon. Semenjak main game ini, tingkat suudzon Jihoon jadi meningjat drastis.
"AHHHHH!" Lagi-lagi mereka yang berada di dalam ruangan menahan nafas.
"Akhhh, ampuuunn. Tolooongg."
Itukan suara Yoshi - Jihoon.
Dari feeling Jihoon, permainan akan selesai dalam beberapa menit lagi. Tapi jika iya, kenapa waktu ini terasa sangat lama. Hal ini bertambah ketika Jihoon mendengar jelas bahwa teriakan yang meminta tolong tadi merupakan salah satu teman dekatnya yang berposisi sebagai rapper.
Sekarang, dia tidak tahu harus berbuat apa. Hatinya benar-benar sakit kala suara Yoshi yang lambat laun tidak terdengar lagi di telinganya. Sementara ia justru tak dapat membantu sedikitpun dan memilih untuk bersembunyi.
Maafkan Jihoon, wahai Yoshi.
Benar saja. Bell akhirnya berbunyi. Untuk sementara waktu, war is over. Renjun akan keluar dari kardus raksasa itu bersamaan dengan terdengarnya suara seseorang dari ruangan yang sama.
"Yoshi, maaf."
Pandangan Renjun dan Jihoon bertemu. Seolah tahu maksud Renjun yang seakan mengatakan bahwa suara itu terdengar tidak asing lagi dan hal itu diangguki oleh Jihoon.
"Junkyu..." lirik Jihoon.
KAMU SEDANG MEMBACA
Impostor✅ [REVISI]
Подростковая литература"Nih, ada agensi open audisi nih!" Mimpi yang seharusnya dapat mereka capai dalam beberapa langkah lagi menjadi sirna begitu saja. Agensi itu bukan agensi biasa, masuk ke dalamnya ternyata bukan merealisasikan cita, tapi justru merenggut nyawa. 17...
![Impostor✅ [REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/341362155-64-k679063.jpg)