IX

119 12 0
                                        

Junkyu berjalan lesuh menuju lantai dua. Untuk sesi kali ini dia tak ada semangat untuk mencari tempat persembunyian. Hatinya masih terasa sakit kala mengingat rekan-rekan grup yang sudah dia anggap seperti keluarga sendiri dengan begitu mudah memfitnah dan mencurigainya. Padahal dicurigai karena sesuatu hal yang tidak ia perbuat itu adalah salah satu hal menyakitkan baginya.

Situasi ini mengingatkannya pada kejadian yang sama ketika Junkyu masih duduk di bangku SD. Dia dituduh melakukan pencurian hingga membuatnya pindah sekolah. Beruntungnya masalah itu berakhir dengan fakta bahwa Junkyu memang tidak bersalah.

Dan sekarang, kejadian itu terulang kembali. Jujur saja, Junkyu sedikit trauma.

Suasana sekitar sangat sepi dan sunyi.

Orang-orang kok pada pinter sembunyi, Batin Junkyu. Sedangkan Junkyu selalu apes kalau nyari tempat persembunyian. Belum lagi jiwa magernya yang begitu besar, membuat anak rantau dari bogor itu selalu dapat tempat yang fitnahable alias tak aman atau bahkan mencurigakan. Contohnya ya tadi.

Seperti melihat harta karun, Junkyu yang tadinya sempat menangis berubah menjadi raut bahagia. Satu pintu.

Dia mendekati pintu tersebut dan masuk ke dalam. Buku. Penuh dengan buku. Sudah tau kan di mana?

Perpustakaan.

Alih-alih bersembunyi, pria muda itu justru berjalan ke salah satu rak buku dan mengambil buku yang paling tebal lalu mendekati salah satu meja membaca. Benar, dia ngantuk berat brow. 2 hari ini jam tidurnya benar-benar berkurang karena harus latihan vokal dan dance dengan keras.

Matanya tertutup. Air matanya mengalir perlahan.

Ini mereka yang jahat karena mencurigainya atau dia yang terlalu baper aja? Tapi kenapa rasanya sangat menyakitkannya. Ya maklum saja, mereka sudah berteman sekitar 7 tahunan.

Tak lama, pintu perpustakaan terbuka. Feeling Junkyu tidak enak. Apakah dia jadi korban di sesi ini? Ya gatau, mari kita lihat saja.

Terdengar jelas langkah kaki yang semakin mendekatinya. Tapi Junkyu tak acuh dan masih memejamkan matanya.

Selanjutnya, sebuah buku dari rak buku terdekat terjatuh begitu saja. Kali ini mata Junkyu terbuka. Namun, tak ada seorang pun yang ia temukan. Pemuda itu mengerutkan dahinya, ada sedikit rasa takut dalam dirinya.

Kok kosong? Masa impostor ngebunuhnya sembunyi-sembunyi? Batin Junkyu.

"Hai!" Pandangan Junkyu menyapu ruangan. Tidak ada orang. Seketika game thriller ini berubah menjadi genre horor.

"Lama tak jumpa." Suara itu kembali terdengar berdengung.

"Maaf, anda siapa? Mana wujudnya?" Tanya Junkyu kebingungan.

"Aku kangen kak Junkyu."

Badan Junkyu merinding. "Heh! Lo saha? Jangan main ngumpet lo, sini kalo berani!"

"Kak Junkyuuu."

"HAHAHAHAHA" Bersamaan dengan suara misterius itu yang akhirnya menghilang, Junkyu kembali dikejutkan dengan kedatangan tamu lainnya. Tamu kali ini berwujud. Wujudnya seperti spiderman versi psikopatnya. Tangan kanannya memegang kapak besar.

"Wahh, kalo kena tuh kapak, mati deh gue," gumam Junkyu dengan suara super kecil.

Lambat tapi pasti, impostor tersebut mendekati Junkyu. Sekarang, jaraknya hanya 5 meter saja.

"Gak lari?" Tanya impostornya dengan suara yang sudah diatur seperti suara robot.

"Gak."

"Kenapa?"

Impostor✅ [REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang