XVIII

117 9 0
                                        

Keenam orang yang tersisa sontak menjauhkan diri dari tempat diskusi ketika mendengar lonceng sesi kembali dimulai. Tentunya ada rasa kesal dan ingin mengkomplen perbuatan durjana dari seorang moderator yang suka kasih plottwist tiba-tiba.

Namun, hal itu tak bisa dilakukan tentunya hanya akan membuang-buang waktu saja. Oke saja jika komplenan mereka dipertimbangkan, yang ada justru langsung auto kick dari sesi ini.

Tanpa banyak suara lagi, mereka berpencar. Seorang pria tampan yang merupakan vokalis satu-satunya yang tersisa dari grup Mimpi bergegas mencari tempat teraman tanpa ada lagi rekan yang menemani. Matanya yang baru saja kering, namun masih terasa sembab dan berat. Sesekali pria itu menguap lebar dengan mata yang tinggal beberapa watt lagi.

Sementara di sisi lain, tiga orang secara diam-diam mengintai seorang yang telah mereka sepakati sebelumnya.

Haruto.

Member grup Harta Karun tersebut tengah menangis. Mereka bertiga sontak saling tatap. Masalahnya, tempat sekarang belum bisa dikatakan aman untuk dijadikan tempat persembunyian. Mereka hanya bersembunyi di balik tangga, sementara Haruto berada di balik tembok yang berjarak beberapa meter saja dari tempat mereka bersembunyi sekarang.

"Gimana, Bang? Haruto keknya udah pasrah banget," ujar si tengah.

"Yaudah, tinggal ngep aja," balas yang paling mudah dengan santainya, namun mampu membuat kesal dari abangnya hingga sebuah geplakan mendarat sempurna di kepalanya.

"Anjir, sakit cok."

"Gimana, Bang?"

"Kemungkinan Haruto dibunuh lumayan besar. Mau gak mau kita harus cari cara biar Haruto terhindar dari fitnah laknat impostor," jelas si Sulung dengan tatapan yang masih fokus pada sosok di depannya.

"Caranya?"

"Lo kan detektif, Woo? Cari caralah," ujar Jisung kepada Jeongwoo yang tengah menggigiti kukunya.

"Jorok anjir." Jisung menarik tangan Jeongwoo agar tak lagi menggigiti kuku.

"Woi Woo?"

"Apasih, Bang?" Balas Jeongwoo dengan nada yang sedikit kesal.

"Lo kan detektif?"

"Ya terus?"

"Cari caralah."

"Bjirlah, gue aja kalo gak ada bang Sahi sama lo udah jadi pajangan doang tuh jabatan," balas Jeongwoo dengan sewot.

Apa yang dikatakan oleh pria berkulit tan itu memang benar adanya. Masih ingat Jeongwoo yang mencoba menyendiri untuk menjalani tugasnya? Sayangnya, bukan hasil yang didapat, pria itu justru tertidur pulas. Entah apa yang membuatnya percaya pada Jisung, tapi Jeongwoo secara spontan saja menyebutkan posisinya di permainan kali ini. Beruntungnya, Jisung juga mendapatkan peran yang berada di pihaknya dibuktikan dengan terbunuhnya Yoshi.

Oleh sebab itu, di game-game seterusnya, dia mencoba membuntuti Asahi dan Jisung. Jeongwoo sendiri belum tahu pasti apa peran Asahi. Tapi, entah kenapa dia percaya bahwa Asahi memiliki peran yang aman. Setidaknya perasaan ini didukung dengan taktik Asahi yang cukup memuaskan karena dapat mengintili orang yang tepat. Seperti sekarang, yang memberikan saran untuk mengikuti Haruto yaitu Asahi sendiri. Pria itu sangat yakin bahwa Haruto hanyalah pemain biasa. Hanya saja karena ambisinya yang ingin menang, dia jadi mudah memprovokasi dan terprovokasi. Padahal jika dapat dikendalikan, Haruto bisa saja mengambil peran penting karena keberaniannya untuk menyampaikan pendapat dan menyangkal pendapat lain yang sekiranya kurang masuk akal.

Sekarang, tiga orang tengah mengendap-endap mengawasi Haruto. Tadinya, mereka juga ingin mengikuti Renjun. Tapi langkah pria itu terlalu cepat hingga tiga pemuda ini kehilangan jejaknya. Sehingga target mereka kembali ke awal, yakni Haruto.

Impostor✅ [REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang