"Hngh..."
Ceklek-
Setelah 30 menit lebih ku berada di dalam untuk mandi sekaligus mencuci apa yang telah di perbuat Pak Gian pada seragam kerja ku.
Tanpa ku tau Pak Gian duduk di samping pintu toilet- menunggu ku. Dan di saat aku membuka pintu, pria itu berdiri menatap ku dengan tampang datarnya.
"Maafkan saya." Sesaat aku menatapnya tak langsung melontarkan balasan. Sebab aku merasa tak sangka dengan apa yang ia lontarkan barusan. Mendengar nya mengucapkan maaf, aku sedikit mengeluarkan kekehan tawa agar terlihat bahwa aku sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu.
"Tidak masalah Pak. Ini wajar karena Bapak sedang sakit. Saya juga berterimakasih karna Pak Gian sudah meminjamkan baju ganti." ucapku.
"(Meski kebesaran si .. jadi aku pakai atasannya aja)"
Mata tajam pria itu sejenak menatapku, mungkin dia merasa bahwa aku aneh memakai pakaian nya apalagi ini terlalu besar untuk ukuran tubuh yang mungil baginya.
"Saya akan buatkan soup untuk makan malam anda. Jadi lebih baik anda berbaring lebih dulu sambil menunggu." suruh ku lalu pria itu memutar badannya.
"Ya." Pak Gian duduk di tepi ranjang. Setelah itu aku pergi ke lantai bawah untuk mengetahui bahan apa saja yang ada di dapur.
Beberapa saat kemudian,
Suprut..
"Hm, enak. Aku harap Pak Gian suka." lontar ku setelah mencicipi soup yang tengah mendidih.
"Suka apa?" Siapa sangka orang yang ku maksud ada di belakang ku sekarang. Saat ku hendak menoleh, Pak Gian melingkarkan kedua tangannya pada pinggang ku sekaligus meletakkan dagunya pada pundak. Merinding langsung menyerang sekujur tubuh ku.
"Eh Bapak, kenapa turun?" toleh ku menegang. Apa yang dilakukan Pak Gian benar-benar di luar pikiranku.
"Memastikan mu tidak kabur." kata Pak Gian. Ku tak heran lagi tentang itu. Entah mengapa, akhir-akhir ini ia berlebihan sampaipun aku berpikir, apa Pak Gian juga seperti ini pada wanita lain?
"Seharusnya anda tetap ada di ranjang." ujarku berusaha terlihat biasa saja.
"Jangan banyak mengatur saya." balas Pak Gian datar. Aku mengabaikan hal itu saat tau soup yang ku buat sudah matang.
"Soup nya sudah matang. Sebaiknya anda duduk sekarang, mau saya siapkan soup nya." pinta ku lembut.
"Harus sekarang banget?" Pak Gian. menatapku begitu dekat. Aku langsung memalingkan wajah- tak sanggup balas menatap.
"Ha-Hanya sebentar, Pak." ucapku menatap. Pak Gian kembali menempelkan dagu di pundakku.
"Tidak mau." Pak Gian malah makin mempererat pelukannya membuatku menghela napas.
Mau tak mau, aku berjalan membawa beban di belakang ku. Sedikit untung karna jarak piring dengan soup tidak terlalu jauh.
"Saya tidak ingin pakai nasi." kata Pak Gian berpesan- memperhatikan apa yang sedang ku lakukan. Aku mengiyakan permintaan nya.
Sampai ke meja makan, dia baru mau melepas pelukan itu. Dasar. Meski hanya pelukan, aku merasa membawa beban yang sangat amat berat. Rasanya ingin cepat-cepat ku lepas.
"Selamat makan, saya harap soupnya tidak terlalu buruk dan sesuai dengan selera Pak Gian." ucapku seraya menyodorkan semangkuk soup hangat padanya.
Sejenak ia menatap soup yang telah ku hidangkan, mengambil sendok nan mencelupkan nya pada kuah soup. Lalu Suprut.. bibir tipis itu mencicipi soup yang ku buat malam ini. Entah mengapa aku merasa sedang dalam kontes memasak haha.
KAMU SEDANG MEMBACA
Don't Want to Share [21+]
RomanceGian adalah CEO berhati batu-arogan, tak tersentuh, dan siap menghancurkan siapa saja yang memicu amarahnya. Namun, saat Gheisa mendadak ditarik menjadi asisten pribadinya, dinamika itu berubah total. Demi janji masa lalu kepada mendiang sahabat ay...
![Don't Want to Share [21+]](https://img.wattpad.com/cover/342529770-64-k676375.jpg)