Gian adalah CEO berhati batu-arogan, tak tersentuh, dan siap menghancurkan siapa saja yang memicu amarahnya. Namun, saat Gheisa mendadak ditarik menjadi asisten pribadinya, dinamika itu berubah total.
Demi janji masa lalu kepada mendiang sahabat ay...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Y-Ya." Aku yang sudah penuh ketakutan memilih untuk patuh mencari suasana aman. Jika aku menolak dan berpikiran negatif, pasti Pak Gian makin marah dan berujung main tangan.
Ku mengangguk ragu mulai mengikuti Pak Gian berjalan hingga sampai ke tujuan. Entah mengapa di setiap aku melangkah kan satu langkah kaki ku kedepan, rasa tak enak terus menyuruhku untuk kabur.
Tetapi rasa takut itu spontan menghilang ketika aku melihat sebuah ruangan kerja pribadi yang sudah jelas itu milik Pak Gian. Suasana di sini membuat ku sedikit meredakan semuanya, tetapi, tidak untuk Andra. Aku tak bisa berhenti memikirkan nya.
"Ini tempat kerja pribadi saya." ucap nya memperkenalkan.
Kepala ku mengangguk sebagai respon tetapi mulut ku tetap membisu keras dengan beribu rasa kecewa pada hati. Aku masih benar-benar tak menyangka karna berita itu. Sampai-sampai aku tak fokus lagi dengan alam nyata, aku terduduk di atas sofa dengan sendirinya, melamun dan terus melamun.
"Gheisha." Pak Gian kembali mengembalikan ku ke alam nyata dengan ia menyebut namaku secara rendah namun tegas. Dapat ku lihat tatapannya semakin geram, merasa bahwa aku ini tidak ada benarnya daritadi.
"Kenapa kamu?" Pak Gian bertanya, memilih untuk duduk di samping ku. Tatapannya masih sama, dia merasa kesal karna ulahku. Dan aku tidak pandai menyembunyikan tentang apa yang ku rasakan terutama soal apa yang saat ini ku rasakan. Yeah, aku sudah berusaha tetapi kedua bola mataku selalu membongkar semuanya.
"Saya tidak apa-apa, maaf sud-"
"Emh!"
Tak ada aba-aba apapun, Pria itu tetiba saja menyerang bibirku, memberikan sensasi ciuman yang begitu ketat. Aku sangat terkejut oleh apa yang di lakukan nya. Dia melumat bibir ku ke segala arah membuat ku mulai kehilangan nafas.
" ... P-Pak.. emm.." Tubuhku terus terdorong karena tekanan dari Pak Gian yang berujung dia menindihi tubuhku. Aku berbaring di atas sofa dengan bibir nya yang tetap melumat bibirku. Pak Gian tak mau menyelesaikan nya sedetik pun.
Sementara aku benar-benar tidak bisa melakukan apapun. Tubuh Pak Gian 2 kali lipat lebih besar dari tubuhku. Aku jelas tidak bisa melawannya.
Sesekali aku melihat reaksi Pak Gian yang tampak sekali menikmati bibirku, aku makin merasa aneh dengan suasana ini. Di sisi lain juga, gairah mulai naik di tubuhku.
"Ngh.. c-cukup.." Aku memohon dan terus memohon di sela kesempatan ketika bibir kami terpisah. Namun dengan kemunculan suaraku ciuman itu justru semakin bergairah rasanya.
Kedua tangan Pak Gian tidak tinggal diam. Ia menjelajahi seluruh inti tubuh ku hingga menerobos pakaian dalam ku. Sungguh ini sudah di luar batas. Aku merasa takut tapi anehnya tubuhku mulai merespon.
Tak segan-segan Pak Gian menyentuh area sensitif ku, aku sudah seperti pelacur disini, aku sudah sangat ternodai olehnya.