Gian adalah CEO berhati batu-arogan, tak tersentuh, dan siap menghancurkan siapa saja yang memicu amarahnya. Namun, saat Gheisa mendadak ditarik menjadi asisten pribadinya, dinamika itu berubah total.
Demi janji masa lalu kepada mendiang sahabat ay...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"G-Gheisha.. gue dari pagi ngehubungin Lo, tapi kenapa ponsel Lo selalu gak aktif?!" Aku melihat dari bagaimana Andra menatap ku— ekspresi wajah nya penuh dengan kebohongan belaka. Aku tau dia sengaja memasang ekspresi seperti itu agar mendapat kesempatan kedua dariku.
". ... Karna gue tau Lo bakal ngejar gue ndra! Gue udah muak ma Lo! Gue kecewa! Pergi Lo! Kita PUTUS!!" Aku jalan menerobos nya—telat—di saat salah satu tangan ku di tarik oleh Andra yang membuat diriku tak bisa pergi begitu saja. Kami berdua kembali saling berhadapan di tengah lorong rumah sakit yang sepi.
"Lepas brengsek!! Gue udah capek debat ma Lo soal perselingkuhan!!! Ini yang ke seribu kalinya Lo nyelingkuhin gue dan gue ga akan ngasih Lo kesempatan lagi!! Lepas Ndra! LEPAS!!!" apa yang aku katakan menghempaskan seluruh emosi ku yang dari semalam ku pendam dalam-dalam.
"Maafin gue sha, Lo salah paham! Lo bener-bener salah paham kali ini.. gue ga selingkuh sha.. ayolah, percaya ma gue.. gue masih sayang ma Lo, gue cinta ma Lo sha.." Andra memohon selayaknya orang yang tidak ingin di usir.
"Cukup Ndra! Lo udah ga ada apa-apanya di mata gue. Kita selesai, kita ngga ada hubungan dan gue ngga akan membangun masa depan ma lelaki brengsek kaya Lo!" pekik ku menunjuk Andra.
"Tapi sha, gue udah bilang ke Nenek Lo kalau bulan ini kita mau nikah. Gue udah siapin semuanya. Gue kesini buat minta restu ke Nenek Lo dan sesuai ekspektasi, Nenek Lo ngerestuin hubungan kita. Jadi, mending Lo pikir-pikir dulu. Jangan minta putus gitu aja.. Lo salah paham soal itu. Ayolah.." Andra masih berusaha meluluhkan ku.
Aku jadi terdiam mendengar penjelasan busuk Andra. Dia selalu punya cara untuk mempertahankan ku meski masalah sedang datang melanda. Aku tau cara dia baik, tetapi, aku sudah kapok untuk mempertahankan hubungan dengan lelaki seperti dia. Rasa percaya ku telah tergantung oleh rasa kecewa yang amat jeru hingga keinginan untuk hidup bersama pun sudah tak ada.
"Brengsek Lo Andra!!!" Aku berbalik badan dan berlari sekesat mungkin, tak peduli dengan Andra yang tengah memanggil namaku. Sebisa mungkin, aku akan meyakinkan Nenek jika Andra bukanlah Pria yang baik untuk ku.
°°°
"Wakil pasien ruangan A07 ya? Ada keluhan?" Tanya seorang resepsionis kepadaku.
"Ah tidak. Saya ingin melunaskan biaya untuk bulan ini dan bulan lalu juga. Berapa totalnya sus?" tanyaku sambil siap mengeluarkan kartu ATM ku di tas.
"Sebentar saya cek- ee... untuk total seluruhnya sebesar 14,7 juta. Tersisa 1,5 juta saja." jawab resepsionis itu membuat ku beku.
"Hah? Saya belum membayar selur-"
"Benar. Tadi ada seorang pria datang hampir membayar seluruh biaya Ibu Melati. Jadi, anda hanya perlu membayar 1,5 juta saja. Tidak perlu mengantri." Kata resepsionis tersenyum tipis. Entah mengapa aku langsung teringat oleh Andra.