Gian adalah CEO berhati batu-arogan, tak tersentuh, dan siap menghancurkan siapa saja yang memicu amarahnya. Namun, saat Gheisa mendadak ditarik menjadi asisten pribadinya, dinamika itu berubah total.
Demi janji masa lalu kepada mendiang sahabat ay...
Sakit, seluruhnya. Aku merasa tidak ada tenaga untuk bangkit.
Pagi itu sekitar pukul 8, seorang ART masuk ke ruangan menghampiri ku. Dapat ku lihat bagaimana cara dia menatap ku dengan belas kasihan.
"Astaga," Bahkan dia sempat memegang kilas memar-memar merah di punggung beserta leher dan dadaku.
Hendak ku membalas tetapi suaraku pun habis hanya untuk mendesah dan berteriak kesakitan.
Sangat paham, ART itu memberiku segelas air putih yang perlahan dapat mengembalikan suara ku. Kini ku tengah duduk mulai merenungkan segalanya terutama diriku sendiri.
"Tuan meminta saya untuk merahasiakan ini. Beliau juga berpesan kepada saya untuk mengingatkan mu, jangan sampai kamu membocorkan apa yang telah Tuan lakukan padamu. Jika tidak, Tuan akan mencabut pekerjaan mu. Begitu kata beliau, maaf, saya hanya menyampaikan pesan Tuan." jelas ART tersebut.
Mendengar itu aku berpaling pandangan dan jatuh melamun, tiba-tiba memikirkan apa yang telah ku lakukan dengan pria itu semalam. Malam itu aku seperti melewati neraka.
"Saya yakin, semua ini akan berakhir asal kamu bersabar." kata ART itu. Aku mengangguk pelan.
"Saya bukan seorang gadis yang baik... saya tidak bisa menjaga diri.." lirihku bergetar menundukkan kepala. Aku sedang benar-benar berada dalam fase kecewa pada diri ku sendiri.
"Tidak, tidak. Kamu masih seorang gadis yang baik dan suci. Pasti kedepannya ada hal yang baik dan merubah semuanya. Tetapi untuk saat ini, Tuhan sedang menguji mu." pungkas ART tersebut membuat ku menghela napas panjang.
"(Mengubah semuanya? Keperawanan ku saja sudah hilang)"
.....
Pukul 8.20. ku telah bersiap dengan seragam baru yang ku pakai. Ternyata Pak Gian menitipkan nya kepada Bibi Nartik. Sebenarnya Bibik menyarankan ku untuk tidak masuk kerja lebih dulu sekaligus untuk menyadarkan Pak Gian bahwa yang ia lakukan semalam sudah sangat melewati batas.
Tetapi aku memilih untuk tetap masuk kerja.
Aku menutupi beberapa memar dengan foundation demi keamanan dalam bekerja. Aku tidak ingin menimbulkan pertanyaan bahkan pikiran negatif dari orang-orang perusahaan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sebelumnya aku juga telah memastikan jika Pak Gian sedang tidak ada di Kantor. Aku memastikan karna rasa takut ku pada nya masih tersisa banyak yang membuat ku seketika takut ketika bertemu.
Tak lama, sampai di kantor. Tiba-tiba aku di tunjuk dengan salah satu karyawan.
"Ada apa ini?"
"Salah satu CEO akan berkunjung kemari, sedangkan Pak Gian sedang sibuk di luar Kota dengan beberapa karyawan senior lainnya. Yang tersisa hanyalah anda disini sebagai karyawan senior, kami butuh bantuan anda untuk mewakili perusahaan." pinta salah satu Karyawan Junior sebagai perwakilan mereka.