Makan malam yang ramai seperti biasa.
Mereka cuma berdua, tapi hangat sekitar bukan hanya dari makanan di meja, melainkan suasananya juga turut mendukung keluarga ini."Apa kita bisa video call Papa?"
"Kau mau cerita tentang Jun juga padanya?"
"Um. Aku rasa dia bisa mengerti apa yang aku rasakan."
"Kkk~ okai. Kita makan sama Papa yang ada di kapal."
Panggilan telepon terhubung dengan cepat. Senyum sumringah sang Mama seakan menular pada Minghao saat Papanya di sana menyapa dengan kaku khas pria paruh baya.
Sepertinya perbedaan waktu mereka agak jauh, background di belakang Papa Hao tidak menunjukkan gelap malam. Terang benderang, entah berada di lautan mana.
"Kalian baru makan malam?"
"Iya.
Anakmu mau cerita sambil makan, katanya.""Ah.
Maaf Papa tidak bisa di sana mendengarkan langsung.""Tidak apa, Hao mengerti."
Ucapnya lembut, namun kemudian senyum tipis itu luntur saat mengingat apa yang ia ingin bagikan pada orang tuanya.
"Papa.
Masih ingat Wen Junhui?
Siswa di sekolah Hao yang beberapa bulan ini diam-diam Hao observasi?""Ah.
Iya, kenapa?""Hao.. berhasil mengencaninya."
"Congrats, kalau begitu.
Kenapa murung?""Sepertinya pengalamanku akan berbeda dengan Mama Papa.
Kalian kencan hanya sebatas menggenggam tangan saja kan saat seumuranku?""Hm."
"Itu karena Papamu terlalu pengecut."
"..kalau Papa tidak pengecut, apa Papa mau mencium Mama di umur 18 tahun?"
Semua menunggu.
Baik Minghao maupun Mamanya, mengabaikan nasi mereka dan menunggu jawaban dari pria di seberang.Jujur, pertanyaan ini tak pernah terlintas dalam hubungan mereka. Kenapa sang anak tiba-tiba bertanya setelah 18 tahun lebih usia pernikahan orang tuanya?
"Jujur, Papa mau."
"...."
"Kenapa?"
"Karena Papa menyukai Mamamu, tentu. Apa lagi?"
"Junhui.. kekasihku.. terlihat aneh saat aku berkata kalau aku tidak akan menciumnya."
"Kau melukai perasaannya."
"Bagaimana bisa dia merasa terluka padahal dia tidak memiliki perasaan padaku?
Bukankah perkataanku sudah tepat?
Dia tidak menyukaiku, jadi aku juga tidak menyukainya.
Kita tidak akan ciuman.Aku hanya akan menggenggam tangan seperti kalian dulu."
"Kau masih berharap bisa menggenggam tangannya?
Mama yakin, besok pasti Jun akan menghindarimu.
Dia anak baik, kenapa kau melukainya, Haohao.. astaga..""Xu Minghao."
"..ya?"
"Tidak apa.
Marahnya kekasih, juga adalah pengalaman berharga.
Jangan ulangi lagi kesalahanmu.""Dimana kesalahanku?"
"Hei.
Memangnya kau tidak berharap kalau Jun akan menyukaimu suatu hari nanti?"Hening.
Sejenak Minghao membayangkan pertanyaan sang Papa. Gambaran tentang apa yang Jun janjikan soal kencan, bermesraan, dan lain-lain sontak menghangatkan dadanya walau sedetik.Ia ingin.
Tapi semua itu bisa dilakukan tanpa perasaan sekalipun, kan?Memangnya apa yang bisa Minghao dapatkan kalau nanti menyukai Jun? Apakah lebih dari sekedar kencan?

KAMU SEDANG MEMBACA
I Dislike My Boyfriend [JunHao BxB]
Fanfiction"How come they're dating but not loving?" JunHao BxB Alternative Universe School life