Hembusan nafasnya menerpa wajahku, udara hangat mendadak menyelinap ke tengah, semakin dekat, dan menyempit. Sepertinya gadis itu benar-benar akan melakukannya. Aku pasrah.
"Bukannya gak sopan cium orang sembarangan?" Dia berbicara tepat di atas wajahku, sialan.
"Menurutmu?"
Atmosfer di sekitarku mendadak sejuk, dan damai. Kurasa kepalanya sudah tegak seperti semula, syukurlah.
"Tapi aku nggak niat begitu, aku cuma mau beri nafas buatan, nggak lebih."
"Emang salah ya?"
"Salah!"
"Terus cara beri nafas buatannya gimana? Nafasku ditiup ke mulutnya gitu?"
"Bego!"
Sayup-sayup, suara kendaraan mulai terdengar. Aku harap itu kendaraan yang bersedia membawaku pergi secepatnya dari cewek ini. Gadis baik yang bego.
Dia menurunkan kepalaku dari pahanya. Mungkin berniat memanggil kendaraan tersebut.
Tubuhku dibopong masuk ke dalam mobil. Anehnya, gadis itu memilih tinggal. "Pak, bawa orang itu ke rumah sakit ya. Dia nabrak pohon gede dan dahinya memar, nanti pihak keluarga akan saya beri tahu."
"Iya mbak." Kendaraan pun melaju meninggalkan kawasan tersebut.
Kawasan itu memberikan pengalaman baru. Pengalaman yang mungkin mustahil kudapatkan dari siapapun. Perhatian. Iya, perhatian yang sebelumnya terasa mahal bila diharap pada orang terdekat, kini aku mendapatnya secara sukarela, dari orang asing.
☆☆☆
Keesokan harinya kesadaranku pulih sepenuhnya. Dan mirisnya, aku masih terbaring di ranjang rumah sakit, seorang diri. Tanpa kehadiran keluarga.
Ada dua kemungkinan. Gadis itu berbohong mengenai pembicaraan di taxi, atau orang rumah sengaja mengabaikan kondisiku.
Sepatutnya aku tak perlu heran, sehat maupun sakit, itu tidak ada bedanya bagi mereka.
Aku sampai binggung, bagaimana rasanya dianggap penting? Bagaimana seseorang bisa dianggap layak dipentingkan?
Selain ingin tahu, aku juga ingin merasakannya.
Karena sudah tak berkepentingan, aku bergegas keluar dengan mood pagi berantakan.
☆☆☆
Tiba di rumah, papa menyambutku dengan badan tegak. Auranya tegas, mengancam.
Aku tahu akan diceramahi, atau bahkan dilempar puntung rokok sampai melepuh. Sebelum itu terjadi, langkahku melesat menaiki tangga, menyelamatkan diri dari singa yang hendak mengamuk.
Aku berharap kali ini papa meloloskanku. Berharap papa bersedia memberi maaf meski itu terdengar mustahil.
"Kamu kira mobil itu seharga dengan satu unit sepeda motor?" Seperti dugaanku, papa pasti akan membahasnya.
Gadis bego itu ternyata tidak berbohong soal ucapannya. Kabar buruk itu sampai ke telinga papa, beliau juga sudah melihat kerusakan pada mobil, namun ada yang tertinggal. Papa tidak menganggapku, meski badanku terpampang mengkhawatirkan di depannya. Beliau justru mencemaskan hal lain. Hal lain itu, bukan aku.
KAMU SEDANG MEMBACA
DAMAGED
Teen FictionIni tentang bagaimana hubungan rusak tetap berjalan dan hidup. Hubungan erat lekang oleh kesalahpahaman serta ego yang tinggi.
