Tanpa Disa tawarkan, tujuanku memang sama. Kali ini, kurasa kelas bukan tempat aman untuk melancarakan ide yang kudapat dari Rendi.
Aku bergegas menuju tempat duduknya. Lalu dengan lancang aku menutup buku yang sedang Aya baca dan merampasnya, dia melotot marah.
"Balikan nggak!!"
"Aku ada kepentingan dengan kamu, ikut aku." Aya menyentak kasar begitu tangannya kutarik, namun itu tak bertahan lama. Dia berakhir menurut mengikuti langkahku entah kemana.
Sepanjang perjalanan, Aya terus mengoceh galak. Tubuhnya sudah beberapa kali tersentak akibat kupakasa tetap berjalan.
Sampai di gudang sekolah, karena kepalang kesal aku mendorongnya kasar hingga membuat kardur-kardus di sana ambruk. Aya meringis, matanya berbicara seolah tindakanku sangat kejam. Dia mundur sedikit demi sedikit saat badanku mulai menghimpit ruang amannya.
"Kali ini aku akan membuat kamu mengaku," bisikku lembut, menyelipkan rambutnya ke telinga. Aya menahan nafas, kedua tangannya mengepal erat di sisi paha. Aku tersenyum jahat, merasa inilah titik kelemahan gadis didepanku.
Satu tangannya kurampas kemudian ku dekap ke dinding. Dia gemetar tak kuasa melihat wajahku yang hampir menyatu dengan wajah ketakutannya itu.
"Hari itu kamu ada di sana kan? menolongku?" tanyaku datar, menuntut.
Hanya suara nafas cemas yang terdengar lirih. Kepalanya menunduk takut, dia berusaha menyelamatkan diri dengan terus menghindari wajahku yang mengikuti gerak gelisahmya.
Kuangkat kepalanya sedikit. Memastikan berapa persen keberhasilan dalam tindakanku ini. Namun, rupanya Aya bahkan sudah menumpahkan air mata.
Sama seperti pekakas gudang yang tersusun tak beraturan, aku merasa seperti melihat hal berbeda dalam makna yang sama saat menyaksikan bulir-bulir itu mengalir dari mata penuh cemas dan keterpurukan.
Nyaliku hampir ciut oleh rasa iba. Udara di sekitar mendadak berat, serasa ada batu besar transparan menghadang di tengahnya. Seolah jarak pun tak bisa membohongi kebenaran. Kebenaran bahwa tugas tanganku tidak lagi untuk menghapus kesedihan di matanya, melainkan mengancam demi menipu keretakan.
Persetan dengan iba. Sekarang aku hanya butuh jawaban untuk menilai.
Tangan yang terdekap di dinding kini bebas, ancamanku berpindah ke rahang. Aku meremas rahangnya kuat-kuat sampai matanya bertemu pandang dengan tatap penasaranku yang berapi-api. "Apa aku harus bertindak lebih dari ini, agar bibirmu itu mau menjawab? HAH!!"
Aya terkesiap, dia bersikeras agar terlepas. Memukul bahkan mencakar tangan dan wajahku, itu sama sekali tidak menghasilkan apapun selain sia-sia. Dia menjerit minta tolong.
"Tolong!! Tolong!!"
"Hmmp." Mulutnya berakhir kusumbat. Tak putus asa, Aya tetap bersuara meski terbekap.
"ANYA!!" bentakanku membuatnya langsung terdiam, terpaku.
Aku menyebut kembali nama panggilan yang dulu kerap kami gunakan. Itu merupakan nama belakang dari "Ayana Zevanya".
"Jawab pertanyaanku dengan jujur, ketika kecelakaan itu terjadi, orang yang menolongku itu kamu kan?" Aya diam. Keterdiamannya membuat emosiku terbakar habis. Aku menangkap kedua bahunya lalu meremasnya kuat.
"BENAR KAN?!!"
"IYA AKU!! KENAPA?? KAKAK MERASA JIJIK, IYA?!"
Jawabannya sesuai dengan keinginanku. Bagiku ini mimpi, namun melihat reaksi Aya yang begitu marah, senyumku perlahan luntur. Tubuhnya kini terbebas.
KAMU SEDANG MEMBACA
DAMAGED
Dla nastolatkówIni tentang bagaimana hubungan rusak tetap berjalan dan hidup. Hubungan erat lekang oleh kesalahpahaman serta ego yang tinggi.
