3. Polos apa Mesum?

15K 509 47
                                        


Pulang sekolah mungkin adalah hal menyenangkan buat sebagian orang. Selain bisa beristirahat, waktu juga terasa lebih panjang karena dihabiskan untuk berleha-leha. Namun ini terlalu buruk buatku. Sebab bukan istirahat yang menungguku, melainkan tugas rumah yang menanti untuk dibereskan.

Selepas berganti ke pakaian biasa, aku turun dan mulai mengemaskan semuanya. Mulai dari menyapu, mencuci piring, serta menjemur pakaian. Dirasa sudah beres, aku pun duduk bersandar di sofa ruang tamu. Lumayan melelahkan untuk ukuran rumah sebesar satu buah apartemen.

Mama menolak menyewa asisten rumah tangga, katanya percuma dan buang-buang uang. Beliau tidak mengatakan secara langsung kalau aku ini babu, tapi rasa sakit membuatku paham bahwa kebencian tidak selalu diucapkan.

Aku sudah terbiasa dengan semuanya. Kebiasan inilah yang membentuk kepribadianku. Meski terlihat buruk, setidaknya itulah hadiah dari orang tua untuk anaknya. Anak pertama.

Setelah beres makan siang, aku berniat kembali ke kamar. Bertepatan dengan itu, pintu teras terbuka dan muncullah mama dengan beragam kantong belanjaan di kedua tangannya.

Lihatlah, dia segan menyewa ART, tapi boros untuk dirinya sendiri.

Senyumnya merekah ke arahku. Mama meletakkan belanjaanya di meja depan televisi.

Dia melambaikan tangan, memintaku untuk membantunya. "Bantu mama bawa ke kamar." Aku mendengus kesal, namun tetap berjalan mengambilnya.

"Mama beliin baju juga buat kamu buat dipake nanti malam pas kencan sama Eva," tuturnya lembut, dengan nada menggoda.

Aku mengangkat bahu bodoh amat. Segera kutinggalkan mama dengan banyak pertanyaan yang mungkin akan mendesakku untuk menurut.

Kalau bicara soal Eva, calon tunangan yang beliau pilihkan untukku itu. Rasanya mama selalu terlihat bersemangat, padahal jika denganku mama terkadang cuek bahkan tersenyum pun jarang. Jujur saja, melihat sikapnya tadi, sedikit membuatku senang bercampur geli.

☆☆☆

Malam ini, keluargaku lengkap. Duduk bersama di ruang tamu, ditemani secangkir teh dan sandwitch. Obrolan ketiganya tampak manis, seolah itulah definisi sebuah keluarga tanpa kehadiranku.

Sementara itu, di ujung tangga ada aku yang memandang iri. Ingin sekali ikut bergabung menikmati kehangatan di sana. Akan tetapi, mama memaksaku untuk segera pergi menemui Eva. Sialan.

Barang pembelian mama kini telah melekat di tubuhku. Jaket jeans sebahu dibungkus dalaman putih, ditambah setelan celana senada.

Aku akui ini terlihat seksi untuk ukuran badan kekarku. Tak apa, aku menyukainya. Meskipun pemberian ini atas dasar nama Eva bukan dari lubuk hati seorang ibu.

Momen kebersamaan sulit kudapatkan. Maka dari itu rasa canggung mulai timbul di benakku, sebab kedekatan dianggap sebagai kebutuhan, bukan lagi hubungan erat kekeluargaan.

Niatnya mau berpamitan, tapi kupilih pergi begitu saja. Kupikir terlalu konyol bersikap naif di tempat yang tidak bisa menghargaiku.

☆☆☆

Sesuai rencana, aku bertemu dengan Eva di sebuah club malam. Aku tidak terlalu pandai dalam memilih tempat, kurasa ini cocok untuk perempuan pilihan mama.

Mama memberikan nomor Eva padaku, dan kami sudah mengirim pesan satu sama lain semenjak perjodohan itu terjadi. Satu bulan yang lalu. Dari room pesan, terpantau Eva yang lebih banyak mengirim pesan, sedangkan tugasku membalas seadanya.

Aku tidak bersemangat, sebab Eva bukan gadis yang kuinginkan.

Musik berbunyi kasar, lampu-lampu besar menyebarkan kerlapan cahaya sesuai irama dan gerakan pinggul wanita murahan di sana.

DAMAGEDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang