5. Tergantikan

12.4K 444 4
                                        


Langit cerah menyambutku tenang, sepoi-sepoi angin pagi mulai mengelilingi kompleks Jati Sermai. Jalan aspal sepetak yang luas memudahkanku untuk bersantai di tengah jalan, mumpung penghuni lainnya belum sepenuhnya memadati jalan.

Aku bergidik di atas motor, kedinginan. Meski tertutup helm, rambut basahku masih terlihat berair dan mengkilap.

Lima menit perjalanan, aku sampai di gerbang Jati Sermai. Luarnya, hingar-bingar kota Jakarta tersuguhkan. Mobil maupun motor sibuk berlimpas dan searah, gedung-gedung tinggi mulai dipenuhi orang-orang berdasi dan berjas. Satu persatu anak sebayaku bermunculan, bercampur dengan anak sekolah menengah lainnya.

Aku bergegas menyamai posisi kendaraan mereka, membelah jalanan dengan kecepatan lebih tinggi dari sebelumnya.

Gerbang sekolah mulai ramai, semua murid yang masih di luar bergegas masuk, baik yang berkendara serta yang berjalan kaki. Saat sudah memasuki gerbang, tiba-tiba seseorang menabrakku dari belakang. Aku mendesis geram, menatap siapa pelakunya.

"Maaf Kak," katanya menyesal,  Buru-buru beranjak, berniat pergi. Segera kutarik punggungnya hingga menghadap. Ternyata orang itu Aya. Aku tidak terkejut, sejak dulu Aya memang ceroboh. Bahkan saat dia berusia tujuh tahun, aku pernah memergokinya berganti pakaian di ruang terbuka.

Untuk saat ini aku malas berdebat. Sebagai balasan, aku merampas pergelangan tangannya untuk pergi bersama.

Kami berjalan beriringan di lorong yang sudah dipenuhi beragam aktivitas, pintu kelas menjadi timbal balik murid-murid yang baru datang dan iseng keluar. Kental dengan lalu lalang serta suara berisik yang masih terbilang wajar.

Sampai di lorong kedua, kami masih terjebak dalam keheningan. Aya berlagak seperti batu, susah dicairkan. Dia hanya berusaha kabur dariku.

Kami menepi di pembatas lorong, ada yang ingin aku tanyakan padanya. "Menurutmu, apa penyebab memar di dahiku ini?" tanyaku santai, tanpa emosi. Menyentuh area yang dimaksud, mengelus hati-hati hansaplas sisa pengobatan kemarin.

Aku tidak berharap Aya mengetahuinya. Itu hanya sekedar memastikan sesuatu. Sesuatu yang kupikir sudah menghilang. Namun, respon Aya justru mengikis keraguanku, pupil matanya membesar, seolah dibalik gerakan  spontan itu terdapat pengakuan kecil dari dugaanku.

"Kalau jawaban kamu benar, hari ini aku libur menggangumu," tawarku menggiurkan, mengangkat alis penuh iming-iming. Aya membuang muka bingung, seperti ada banyak pertimbangan besar di raut wajahnya.

"Aku nggak tahu." Aya menggeleng bimbang. Aku tersenyum kecut, merasa kesal dengan pengakuan penuh kebohongan itu.

Jika dia mengaku, lalu apa salahnya? Bukankah itu adalah hal langka yang harus diberi tepuk tangan? Atau dia sengaja membuatku berharap dengan kebongannya itu? Aya ingin aku terlihat bodoh hanya demi sebuah perhatian kecil.

"Lalu, mengapa ponselku ada bersamamu?" tanyaku mengintimidasi, mengadung penekanan dan tudingan tajam.

Kulihat Aya gelabakan mencari jawaban, dia membasahi bibir lantaran tak menemukan satu huruf pun yang pantas mengisi pertayaanku. "Baiklah, aku sudah tahu jawabannya." Bibirnya lantas terbuka sedikit, menunjukkan syok alami yang biasa terjadi jika sedang berbohong. Menyadari kecerobohannya, Aya gesit berganti muka.

"Untuk apa kamu peduli?!" gertakku geram, Aya terlonjak kaget, orang yang lewat spontan menoleh.

"Aku nggak ngerti alasan kakak ngomong seperti ini, dan perlu kakak ingat, aku sama sekali tidak terlibat sama apa yang kakak maksud," elaknya mencoba menipuku dengan wajah gelisahnya itu. Aku tidak bodoh, Aya terlalu amatir dalam berbohong.

DAMAGEDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang