1. Dihakimi

22.3K 680 43
                                        


Sebelumnya ini adalah cerita JUD (Jodoh Untuk Dekayas) lanjut ke KRRS (Korban Raja Ratu Sedarah) dan ini InsyaAllah terakhir kalinya aku ngubah alur. Doaain aku bisa nyelesain cerita ini dengan sempurna.

Di versi ini, Deka dan Aya sebelumnya agak berubah. Baik karakter maupun latar belakangnya, begitu juga dengan peran yang lainnya yang mungkin sedikit mengalami perubahan. Aku harap kalian suka dan dengan senang hati memberikan dukungan🌷❤️

Selamat Membaca🍒




Sebelum menekan gagang pintu, raungan tangis Uswa menyambut langkahku yang hendak masuk. Isakan bercampur ingus itu cukup membuat perutku mual, dan aku bisa menebak gadis manja berstatus  sebagai adikku itu pasti sedang meracaukan keinginannya pada papa.

Angin malam yang belum tuntas menggelapkan awan merayapi kulitku. Dinginnya menembus sampai ke tulang, menambah ngilu lebam yang menghiasi sekujur tubuhku. Lebam ini kudapatkan dari berandal brengsek, Gavier. Perkara pacarnya berkencan denganku, bahasa kasarnya bisa dibilang, selingkuh.

Baiklah, lupakan.

Bicara soal lelah, rasanya tak asing jika seorang anak menyebut rumah tempat istirahat paling nyaman dan menenangkan, bukan? Namun, itu tidak berlaku buatku sekarang. Lantaran pemandangan pertama yang menyambutku sungguh sanggat memuakkan.

Anak remaja berbungkus piyama putih motif panda meracau menendang-nendang kaki ke udara sambil menumpahkan tangis dramatis dibuat-buat. Sementara di sofa depan televisi, pria paruh baya duduk menonton berita mengenai pelecehan anak di bawah umur.

"Kalau papa nggak mau beliin hp baru, aku bakal minggat dari rumah!" Andalan Uswa ketika situasi seharusnya tidak memihak. Dia mengancam papa dengan kata "kabur", kata keramat setiap kali dia terdesak.

Dari yang sudah-sudah, sepertinya papa luluh. Jika menyangkut tentang Uswa, papa seolah lupa kalau mempunyai dua orang anak.

"Iya sayang, papa akan belikan." sahut papa dengan suara selembut kapas. Yang nyaris tidak pernah kudapatkan darinya.

Kedatanganku sama sekali tidak mengusik mereka. Bunyi derit pintu serta suara sepatu yang kuhempaskan di rak cukup bisa membuat tikus terbirit mendengarya, mustahil telinga papa yang belum tua-tua amat itu tidak bisa merespon bunyi sekeras itu.

Di luar keinginan rupanya si gadis manja menoleh. Saking eratnya hubungan anak bapak tersebut sampai-sampai papa juga turut menoleh, seolah perhatian Uswa adalah magnet yang ikut menarik respon otaknya.

Aku mendengus sinis kemudian berbelok menuju kamar. Menghiraukan mata tegas papa menghakimiku, ikhlas bila bibir hitam akibat merokok itu berteriak marah menghentikan langkah lambatku sebentar lagi.

"Deka!" Papa berteriak. Aku berhenti, memandangnya.

"Papa butuh penjelasan." Suaranya tegas, tidak terbahtah, bergema memenuhi sudut ruangan yang hanya diisi oleh bunyi televisi.

Uswa beranjak, bergegas meninggalkan ruang tengah dengan senyum mengembang. Menyisakan aku dan papa saling berhadapan. Suara reporter berita menjadi penyelamat di tengah keheningan yang terjadi, ruang tengah dengan pencahayaan sempurna itu mendadak kosong dan menakutkan, serasa berada di ruang eksekusi.

DAMAGEDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang