3. Tetangga baru

19 2 0
                                    

Arshilla berdiri dengan wajah cemberut, menatap jalanan di depannya dengan tatapan tajam. Tangannya terlipat di dada, sementara kakinya mengetuk-ngetuk lantai dengan gelisah. Angin yang berhembus tidak mengurangi kemarahannya, terutama setelah sadar bahwa motor kesayangannya sudah raib sejak pagi-pagi buta. Ia mengepalkan tangan, rahangnya mengeras, menahan emosi yang hampir meledak.

Kemeja putih berlengan panjang yang sudah agak kusut, terpasang dasi abu-abu dengan simpul yang sedikit longgar. Rok abu-abunya tergerai sampai lutut, memperlihatkan kaos kaki putih setinggi betis dan sepatu hitam yang sedikit berdebu karena seharian beraktivitas terutama setelah menyelesaikan mata pelajaran olahraga. Rambutnya yang diikat rendah, mulai berantakan karena seharian berpanas-panasan, beberapa helainya jatuh di wajah. Tas ransel hitam yang penuh buku menggantung di bahunya, sementara raut wajahnya memancarkan kekesalan, menendang-nendang kecil tanah di bawah kakinya, mengutuk Satrio dalam hati.

“Lagi nunggu ojek ya?” suara itu menyadarkan Arshilla. Rafi melepas helmnya, Arshilla tersenyum lebar.

“Ngapain nunggu ojek kalau ada lo?” Arshilla menyenggol lengan Rafi seraya menaikturunkan alisnya.

"Tumben sih, emang motor lo kemana?"

Arshilla kembali memasang wajah terburuknya, dengan bibir yang mengerucut. Menghembuskan napas kasar, membuat Rafi mengernyit dan bertanya apa yang salah dari perkataannya hingga raut wajah Arshilla memancarkan ekspresi yang berubah 180 derajat.

"Ekhem, ekhem, ekhem!" Kecanggungan diantara keduanya teralihkan oleh sebuah motor berwarna hitam yang dilajukan oleh Satrio yang melenggang terutama melewati Arshilla.

"Apa! Keselek azab lo?" Pekik Arshilla dengan mata melotot pada Satrio yang sudah melajukan motornya dengan cepat, bahkan cowok itu sempat melepaskan kedua tangannya dengan gaya lain saat ia menaiki motor tersebut.

Rafi terkekeh. “Oh gara-gara itu. Naik, deh. Gue anterin.”

"Serius nih?" Arshilla meloncat ke jok belakang tanpa ragu, menepuk pundak Rafi dengan semangat. “Gas!

Selama perjalanan, mereka tidak berbicara banyak. Arshilla memang tidak terlalu dekat dengan Rafi, hanya sebatas tetangga, itupun Rafi baru pindah tiga bulan yang lalu.

Setelah beberapa lama, Arshilla akhirnya membuka suara, “Rafi, gue mau nanya, lo anak tunggal ya?”

Rafi terdiam sejenak, seperti mempertimbangkan jawabannya. “Iya, bisa dibilang begitu.”

Arshilla mengernyit. “Bisa dibilang?”

Rafi menghela napas panjang, seakan kata-katanya memiliki beban berat. “Seharusnya gue punya adik laki-laki. Tapi dia udah meninggal.”

Arshilla tercekat mendengar itu. “Meninggal? Kok bisa? Waktu masih di dalam kandungan nyokap lo, ya?"

Rafi menggenggam setang motor lebih erat. Ia menggeleng. “Itu semua salah gue,” ucapnya pelan, penuh rasa penyesalan.

"Lo jangan ngomong gitu, Rafi. Gimana bisa lo nyalahin diri sendiri?" Suara Arshilla mulai lembut, penuh simpati.

Rafi tetap melaju dengan tenang, meski matanya tampak kosong mengingat masa lalu. “Waktu itu kami sekeluarga liburan ke pantai. Gue dan adik gue cuma beda setahun. Kejadiannya waktu gue umur tiga belas tahun, orang tua selalu nyuruh gue jagain dia, tapi gue malah ajak dia naik jetski."

Nafasnya tercekat. Rafi kembali melanjutkan. "Adik gue paling takut kalau udah ke tengah laut, karena dia gak bisa berenang. Tapi gue selalu ngeyakinin dia buat ngelawan rasa takut itu. Tapi kejadian itu benar-benar terjadi, dia jatuh karena enggak bisa diem di belakang gue, jaraknya gak terlalu jauh dari tepi pantai tapi lumayan dalam. Dan bodohnya gue malah pilih selamatkan diri sendiri karena cuma gue yang bisa berenang, dan kebetulan ombaknya saat itu lagi pasang dan narik dia ke tengah, gue nyaris nggak bisa apa-apa waktu itu." Suara Rafi mulai serak, tapi ia tetap melanjutkan ceritanya.

“Setelah gue sampai di tepi pantai dan sadar atas apa yang gue lakuin, gue nyelam, coba cari dia. Tapi gue nggak cukup cepat. Pas orang-orang datang buat bantuin, semuanya udah terlambat. Dia udah nggak ada... tenggelam.”

Arshilla menutup mulutnya, air matanya hampir jatuh. "Rafi. Gue nggak bisa bayangin perasaan lo waktu itu."

Rafi mengangguk pelan. “Sejak saat itu, nyokap gue nggak pernah sama lagi. Tatapannya selalu kosong, dia memang sayang banget sama adik gue, dia juga selalu nyalahin gue, dan gue sadar, di dalam hatinya dia nggak akan pernah ada kata maaf. Selalu ada jarak antara kami.”

"Rafi ... Maaf, gara-gara gue lo jadi keinget lagi." Arshilla tak tahu harus berkata apa. Keheningan kembali menyelimuti mereka.

Tiba-tiba, Rafi tersenyum tipis, meski jelas terlihat kesedihan di matanya. “Udah, jangan lo pikirin terus. Gue udah coba berdamai dengan diri gue. Meskipun kadang gue masih merasa bersalah.”

Arshilla menepuk pundak Rafi dengan lembut. "Lo orang yang baik, Rafi. Dan gue yakin, adik lo di atas sana tahu lo sayang banget sama dia. Dan dia pasti udah bisa nerima bahwa setiap orang pasti punya kesalahan, sekalipun itu kesalahan terberat dalam hidupnya."

Rafi menoleh sedikit, tersenyum kecil. "Thanks, Shil. Meski gue gak pernah ngerasa begitu, setelah kejadian itu, gue enggak pernah nerima kalimat positif apapun yang memaklumi kejahatan gue. Gue merasa jadi seorang pembunuh di masa lalu itu."

"Eh, Shil. Gue mau nanya deh, lo kalau di rumah suka masak gak?" Rafi memecah keheningan dengan sebuah pertanyaan ringan.

Arshilla yang sedang menatap jalanan langsung tertawa kecil. "Hahaha, masak? Gue mah paling jago masak mie instan sama nasi goreng sih. Kenapa nanya gitu?"

Rafi tertawa, ikut merasa suasana mulai cair lagi. "Gak, gue cuma penasaran. Soalnya gue suka ngeliat lo pas lagi ngeluarin barang belanjaan di depan rumah, kayaknya sibuk terus."

"Ya maklum, kan Satrio nggak pernah bantu. Semuanya gue yang kerjain. Kalo gue lagi bantuin bunda masak, Satrio pasti main game. Pokoknya dia nggak tau diri banget!" ucap Arshilla dengan gaya bercanda, tapi Rafi tahu ada kesal di balik kata-kata itu.

"Hahaha, emang dia begitu ya?" sahut Rafi sambil menggeleng. “Hm, lo tuh selalu ceria ya?” tanyanya tiba-tiba, sambil tetap fokus ke jalan.

Arshilla mengernyit, tak menyangka pertanyaan itu. “Emangnya kenapa?”

Rafi tersenyum tipis. “Enggak, gue cuma salut aja. Enggak banyak orang yang bisa ngelewatin hari sepositif lo.”

Arshilla tertawa kecil. “Yah, mungkin karena hidup gue penuh warna. Termasuk warna kelamnya Satrio yang ngerampas motor gue hari ini.”

Arshilla tiba-tiba teringat sesuatu. "Eh, Raf, lo sendiri bisa masak?"

Rafi tersenyum penuh percaya diri. "Bisa dong! Gue bisa masak steak, spageti, sama makanan-makanan barat lainnya. Tapi tenang aja, gue juga bisa bikin nasi goreng spesial buat lo."

"Wow! Anak tunggal beda ya ternyata, mandiri banget," Arshilla berdecak kagum. "Kapan-kapan gue numpang makan di rumah lo deh."

Rafi tertawa. "Deal ya? Lo udah bilang, jadi nanti gue masakin buat lo. Anggep aja bayaran karena lo udah jadi teman ngobrol gue hari ini."

"Aduh, jadi enak. Santai aja gue nggak kerepotan. Tiap hari juga gak apa-apa, hehe." Arshilla cengengesan, menatap Rafi yang ikut tertawa. Rafi merasa Arshilla memiliki kemampuan unik untuk membawa aura positif ke sekelilingnya.

"Yaudah turun, ini udah sampe depan rumah lo. Lo mau naik motor gue sampe kapan?" ucap Rafi, masih tertawa.

Arshilla hanya terkekeh, lalu berkata, "Gak sadar gue, yaudah gue masuk ya."

Saat motor berhenti di depan gerbang kompleknya, Arshilla melompat turun, membenarkan tas di punggungnya. "Thanks ya, Raf. Gue gak tau gimana nasib gue kalo gak dikasih tumpangan. Lain kali kalau capek, tinggal bilang aja, gue siap gantian jadi sopir.”

Rafi tertawa, "Kalo lo yang bawa motor, gue malah takut gue yang harus pakai helm dua lapis!"

Arshilla cengengesan, "Tenang aja, belum pernah tuh ada penumpang gue yang komplain."

“Yaudah, lain kali cobain deh. Gue percaya kok lo adik yang tangguh. See, ya!"

(Not) A Crazy Family Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang