6. Penyebar hoax

5 0 0
                                    

Pagi itu, Arshilla dengan malas menyeret langkahnya menuju meja makan, setengah berharap masih ada sisa ketegangan di antara Arumi dan Wira. Namun, yang ia temui justru pemandangan yang tak ia duga. Wira dan Arumi duduk bersama di meja, bercakap-cakap dengan senyum kecil di wajah mereka. Arumi bahkan menyendokkan nasi goreng ke piring Wira sambil tertawa pelan.

Arshilla menghentikan langkahnya, nyaris tersandung saking kagetnya. "Eh, pagi-pagi udah pada bersinar aja." Arshilla memaksakan senyumnya.

Wira menoleh, melihat Arshilla dengan senyum lega. "Oh, Nara, sini makan. Kemarin kita cuma salah paham soal kerjaan. Akhirnya Ayah sama Bunda udah saling ngerti, kok." Jawab Wira seolah mengerti dengan raut wajah Arshilla yang penasaran.

"Masalah pekerjaan?" Arshilla mengambil kursi dan duduk dengan alis terangkat tinggi. "Bukannya kemarin ribut besar banget, ya? kenapa tiba-tiba akur?"

Arumi tersenyum lembut. "Ya, kemarin Bunda kesal karena Ayah sering banget sibuk sama kerjaan, tapi setelah ngobrol baik-baik, ternyata perusahaan lagi ada masalah besar. Ayah harus banyak di kantor untuk ngurusin itu. Kita cuma kurang komunikasi aja."

"Iya," Wira menimpali. "Produk di perusahaan kena isu skandal. Kita harus kerja keras buat bersihin nama baik, makanya Ayah jadi jarang di rumah. Tapi ya, Bunda ngerti sekarang, kita harus saling dukung."

Arshilla berusaha menyembunyikan kekecewaannya. Ini tak sesuai rencana sama sekali. Ia sudah berharap drama rumah tangga ini berlanjut lebih lama, tapi sekarang semuanya justru terlihat tenang. Sial.

Sambil mengunyah pelan, Arshilla mengangguk mendengarkan cerita mereka. Sesekali matanya melirik ke arah Satrio yang duduk di pojok ruang tamu, sibuk dengan ponselnya. Sepertinya mereka harus merancang rencana baru.

Setelah makan, Arshilla langsung menghampiri Satrio dan berbisik. "Lo liat kan tadi? Mereka udah baik-baikan lagi."

Satrio mendongak, mengangkat bahu. "Iya, gue denger."

"Gak bisa dibiarkan gini aja, kita harus bikin mereka ribut lagi."

Satrio terkekeh. "Tenang aja, gue udah kepikiran ide."

Arshilla mendekat, penuh minat. "Apaan tuh?"

"Kita buat akun anonim, terus kasih review jelek tentang produk makanan perusahaan Ayah. Sebarin di sosial media, bikin heboh. Lo tau kan, gimana cepatnya hoax atau rumor buruk nyebar di internet?"

Arshilla menatap Satrio dengan mata berbinar. "Boleh juga ya dengkul lo."

"Maksud?"

"Ya meskipun otak lo di dengkul, tapi kalo masalah beginian cepet aja gitu." Pungkas Arshilla sebelum akhirnya meninggalkan Satrio yang mungkin beberapa detik lagi akan melayangkan benda yang akan mendarat di kening Arshilla.

***

Saat jam istirahat di sekolah, Arshilla duduk di bangkunya sambil asyik mengetik di ponsel. Dia sudah membuat beberapa akun palsu untuk menyerang produk perusahaan ayah tirinya dengan berbagai ulasan negatif. Ia tersenyum puas melihat beberapa komentar di sosial media yang mulai ramai membicarakan isu tersebut.

Tiba-tiba, Arin, teman sebangkunya, datang menghampiri. "Tumben nggak ke kantin, lo? Biasanya udah nongkrong sambil gosip."

Arshilla buru-buru mengunci ponselnya dan tersenyum canggung. "Lagi gak lapar aja."

"Ngapain tuh sibuk banget?" Arin mendekat, curiga.

"Eh, enggak. Cuma scrolling doang. Tau kan, sekarang lagi rame soal produk makanan yang katanya bahaya."

Arin mengerutkan kening. "Produk makanan yang mana?"

Arshilla berpura-pura terkejut. "Duh Arin. Lo nggak tau? Itu lho, biskuit yang sering lo beli di kantin. Katanya, bahan-bahannya terkontaminasi. Gue sih udah liat review jelek-jeleknya. Ngeri banget. Korbannya juga udah lumayan."

Arin terlihat semakin penasaran. "Masa sih? Gue nggak denger apa-apa."

Arshilla cepat-cepat membuka ponselnya lagi dan menunjukkan salah satu review palsu yang ia buat tadi. "Tuh, baca deh. Ini katanya ada bahan berbahaya yang masuk pas proses pengolahannya."

Arin membaca dengan saksama, matanya melebar sedikit. "Ih, seriusan? Ini beneran apa hoax?"

"Mana gue tau. Tapi kalo udah banyak yang ngomong, biasanya sih ada benernya, kan?" Arshilla mempermainkan ekspresinya agar terlihat lebih meyakinkan.

Arin mengangguk, mulai percaya. "Wah, gue jadi takut beli lagi. Kemarin baru aja gue abisin satu bungkus. Aduh, mana yang varian cokelat sama matcha enak banget lagi."

"Sama, gue juga langsung stop beli begitu denger berita ini." Arshilla tersenyum dalam hati, puas dengan hasil kerjanya.

Beberapa hari kemudian, isu tersebut mulai membesar di media sosial. Komentar negatif semakin ramai, bahkan beberapa akun besar mulai ikut mengangkat masalah ini. Wira yang tadinya tampak lega, kini kembali tampak tertekan. Di rumah, percakapan tentang pekerjaan kembali mendominasi. Arshilla dan Satrio hanya bisa menahan tawa saat Wira terlihat semakin pusing dengan masalah yang dibuat oleh mereka sendiri.

Arshilla tahu, rencananya berjalan dengan sempurna.

Dan kali ini, tidak ada yang bisa menghentikan kekacauan yang sudah ia mulai.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Oct 16, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

(Not) A Crazy Family Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang