3. Salah Orang

13 2 0
                                        

Mic itu bukan diberikan pada Kak Lisa malah diambil alih oleh senior yang tiba-tiba datang. Sosok senior itu langsung membuat suara bisik-bisik dari arah depanku.

"Perkenalkan, nama Kakak Doni. Maaf ya acaranya Kakak ambil alih dulu, soalnya ada beberapa dosen yang sudah ingin berkenalan dengan anak bimbingannya," intrupsi Kak Doni .

Refleks saja aku melihat anak di sampingku dan dia terlihat kecewa. Tampaknya anak di sampingku ini sangat tertarik dengan Kak Sagara.

"Buat yang nama-namanya Kakak sebut, maju ya," ucap Kak Doni lagi.

Nama-nama yang dibacakan Kak Doni berurutan sesuai abjad. Aku pun berada di kelompok kedua yang dipanggil namanya oleh Kak Doni.

"Kalian dosen pembimbing akademiknya Pak Ardiansyah dan sekarang Pak Ardi-nya ada di ruangan," jelas Kak Doni.

"Ke ruangannya sama siapa Kak?" tanyaku.

"Yuk."

Kalimat ajakan itu mengagetkan kami dan sosok yang akan memandu kami masuk ke ruang dosen ternyata Kak Sagara. Pandanganku pun refleks tertuju pada anak yang tadi bertanya tentang status Kak Sagara, tapi dia tidak beraksi apa-apa. Tampaknya aku terlalu mengharapkan banyak hal terjadi.

Bersama Kak Sagara, kami akhirnya berjalan beriringan menuju ruang dosen. Aku melirik gadis di sampingku, menurutku ini waktu yang tepat untuk berkenalan.

"Salam kenal, aku Aurel," kataku memperkenalkan diri.

"Eh? Iya, salam kenal juga, aku Aisha."

Jika kalian berpikir Aisha adalah gadis yang memiliki suara yang halus nan lembut, kalian salah. Dia memiliki suara yang cukup berat hingga membuatku sedikit terkejut. Suara dan wajahnya sangat berbanding terbalik.

"Sekarang kita ada gedung A."

Kak Sagara yang mulai melakukan penjelasannya saat kami masuk melalui pintu depan dan dihadapi lorong yang berisi pintu dan tangga.

"Lantai satunya khusus staf dan di lantai dua dan tiga itu baru mahasiswa bebas keluar masuk," jelas Kak Sagara tentang pembagian lantai di gedung A.

Kami pun tiba di lantai dua yang tampak seperti rumah sakit dan nama yang tertera di samping pintu membuatku mengerti kenapa tempat ini seperti rumah sakit.

"Di sini ada empat laboratorium. Tiga laboratorium umum, satunya mikrobiologi. Dan—" Kak Sagara membuka pintu yang ada di ujung lorong, "Di depan sana gedung B dan lantai duanya khusus ruang dosen pendidikan biologi, fisika dan kimia."

Kami semua hanya diam mendengar penjelasan Kak Sagara hingga akhirnya kami berada di gedung B lalu berhenti di depan ruang dosen pendidikan biologi.

"Kalian duduk dulu," perintahnya lalu masuk ke dalam ruang dosen.

Sepeninggal Kak Sagara, kami berlima mulai berkenalan. Canggung, itulah yang terjadi selama kami memperkenalkan diri.

"Deg-degan," ucap Aisha.

"Santai aja kali, enggak digigit juga sama Pak Ardinya," balas Anton.

"Tetep aja gugup karena bakalan tatap muka sama dosen," balas Aisha tidak mau kalah.

"Aurel, Angga sama Aina aja enggak lebay kek kamu."

"Ih... bisa enggak jangan gangguin aku terus! Capek tau!" Aisha memukul bahu Anton. Suara pukulannya itu bahkan terdengar sangat keras.

"Kalian saling kenal?" tanyaku.

"Kita satu kelas di SMA," jawab Aisha malas.

"Katanya enggak mau ngakuin," sindir Anton.

Trapped in MarriageTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang