O - Mulk's Birthday

513 52 9
                                        

~ ONESHOT ~

.
.

HAPPY READING

MARK mengistirahatkan tubuhnya di atas kasur empuk miliknya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

MARK mengistirahatkan tubuhnya di atas kasur empuk miliknya. Kepalanya terasa begitu pusing, gurat lelah tampak tercetak jelas di wajah tampan itu serta punggung yang selalu menopang beban berat kini tak mampu lagi. Mark membutuhkan istirahat penuh untuk menyejukkan pikiran dan melepas beban berat sejenak. Sebab akhir-akhir ini lelaki kelahiran Agustus itu disibukkan dengan pekerjaan yang tiada habisnya dan masalah yang terjadi menimpa keluarganya.

Tak habis pikir, kenapa masalah selalu hadir menemani? Padahal Mark tak pernah melakukan kesalahan di muka bumi ini. Tapi yang namanya kehidupan pasti selalu diiringi dengan masalah dan cobaan hidup. Kalau tidak ingin dapat masalah, lebih baik mati saja. Tidak ada yang sulit, 'kan? Hanya saja Mark tak sebodoh itu untuk mati sia-sia demi tak mendapat ujian kehidupan.

Mark ingin hidup lebih lama. Ingin juga merasakan kebahagiaan bila dirinya sudah bertahan dengan setiap masalah yang hadir di hidupnya.

Mark tak menghiraukan dentingan notifikasi dari ponselnya. Percuma saja, sebab Mark tahu kalau seseorang yang mengirimi pesan di sana hanya akan menambah rasa lelah dalam dirinya. Mark hanya ingin istirahat, mengapa sulit ia dapatkan, sih? Mengapa seseorang di luaran sana selalu saja mengganggu hidupnya dan tak bisa membuat dirinya bebas?

"Bisa diam tidak, sih?!" Mark melempar ponsel pintarnya ke sembarang arah. Tak peduli juga asal dentingan notifikasi itu tak mengganggu dirinya. "Sialan!"

Mark menggeram marah. Ini bukan lagi tentang dentingan notifikasi, tetapi bunyi nada dering dari ponselnya yang tak kunjung berhenti. Apalagi, sih, ini?! Kenapa selalu ada gangguan di saat dirinya ingin terlelap tenang?

Tentu saja Mark tahu siapa orang yang menelponnya berulang kali seperti sekarang ini. Inginnya Mark abaikan, tapi semakin lama diabaikan maka semakin pusing kepalanya mendengar bunyi nada dering yang tak kunjung berhenti tersebut. Mark segera duduk kemudian meraih ponsel yang terletak tak jauh dari dirinya. Melihat dengan malas-malas nama kontak yang tercetak jelas di sana―Jaehyun―atau anggap saja si pria tua yang selalu gila memaksa.

Nah, lebih baik seperti itu. Mark memang menganggap Jaehyun adalah ayahnya, tapi sebutan yang di atas menurutnya jauh lebih baik disandingkan daripada nama asli pria tua itu.

"Ada apa, ayah?" ujarnya dengan nada yang malas-malas.

"Ada apa katamu, Mark?" Mark mendecak kesal mendengar suara tinggi di seberang sana. "Evelyn mengirim pesan padamu, mungkin sudah ada ribuan pesan di kolom chat barisan pertama di ponselmu, kenapa kau tidak membalas pesannya, Mark? Kau begitu sulit hanya dengan membuka ponselmu, Mark? Ada apa denganmu? Cepat balas pesan―"

MARKHYUCKTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang