Aku tidak ingat jelas tanggal berapa dan aku juga sedikit lupa bulan ke berapa, entah Oktober atau November yang kala itu berhasil menghancurkan kita. Tapi aku sama sekali tidak lupa bagaimana rasanya, bagaimana sakitnya, kau yang perlahan semakin asing tidak lagi peduli, tidak lagi ada waktu, dan aku yang semakin muak dengan pertengkaran yang sama setiap harinya.
Mungkin salahku memutuskan untuk pergi, salahmu juga yang tidak menahanku lebih keras lagi, aku yakin ini salah kita berdua, tapi kenapa yang menderita hanya aku? Kenapa kau tidak sama sekali terlihat terluka setelahnya?
Aku akui, mungkin salahku lebih banyak dan tak mudah untuk kau maafkan, tapi ini bukan balasan yang setimpal. Ini jauh lebih buruk. Bahagia yang tak seberapa itu harus dibayar dengan luka separah ini, derita selama ini, tidak adil!
Ini bulan yang ke-33 setelah perpisahan itu, tapi kau masih jadi yang paling kucintai, aku merindukan setiap hari dan rasa untukmu tak berkurang sama sekali. Padahal aku tau, aku tak ada lagi dihatimu, dengannya kau sudah bertahun-tahun kan? Mana mungkin kau masih mengingatku. Seseorang yang sekedar mampir di hidupmu, tidak lama dan mungkin tidak berarti apa-apa.
Aku benci mengakui ini, tapi kenyatannya memang seperti ini, aku mencintaimu dengan penuh, aku mencintaimu dengan segala rasa yang aku punya, aku ini memang bodoh.

KAMU SEDANG MEMBACA
Dear, Love
PoetryAku ingin menulis banyak tentangmu, tapi sayang sekali kau sudah tak sudih membaca tulisanku. Tapi kepalaku terlalu berisik, mengusik, dan kadang membuatku ingin membenturkannya dengan keras agar aku kehilangan semua ingatan sialan yang tak kunjung...