Kau tau tidak, saat ini aku berada di provinsi yang sama dengan asalmu, tapi aku tidak tau kamu ada disini atau masih di kota penuh kenangan kita. Aku juga tidak tau kuliahmu sudah selesai apa belum. Kalau kau bertanya tentang aku, aku sudah selesai sejak beberapa bulan yang lalu.
Aku kuat sekali menyelesaikan skripsi tanpa ada seseorang yang aku hubungi ketika aku lelah bahkan hampir menyerah. Bahkan hingga wisuda pun aku sendirian, kau tidak menepati janji untuk wisuda bersamaku. Ah lupakan, terlalu banyak janji yang kita buat ya? sampai-sampai tak satupun yang jadi nyata.
Disinilah aku sekarang di sebuah kota kecil, ralat ini tidak seperti kota, nyaris seperti perkampungan bedanya disini penuh debu, polusi, udaranya panas, orang-orang sibuk dengan pekerjaannya.
Jika saja kita masih bersama, mungkin aku akan menceritakan padamu dan mengirim banyak sekali foto random tentang bagaimana aku disini. Ponakan-ponakan ku yang lucu dan menggemaskan, jalan yang berdebu, rumah ini yang sepi, atau tentang aku yang memasak tapi gosong, tapi tidak setiap hari ya, waktu itu mungkin sedang khilaf saja.
Banyak sekali ya yang terlewatkan selama kita tidak bersama. Mungkin tidak ada kesempatan lagi untuk bercerita padamu, makanya aku tulis disini saja ya. Walaupun tidak akan pernah kamu baca, setidaknya aku tidak akan kehilangan ingatan tentang bagaimana aku setelahmu, tahun-tahun paling menyebalkan dalam hidupku.
Malam ini aku tidak tau harus berbuat apa, sepertinya menulis sesuatu yang terlintas dalam benakku tidak terlalu buruk juga. In the Middle of june, tepat seperti potongan lirik lagu yang sedang aku dengarkan "Sometimes, all I think about is you, late nights in the middle of June". Bedanya aku tidak merindukanmu saat malam pertengahan bulan juli saja, tapi hampir setiap hari selama beberapa tahun ini. Biar aku katakan sekali lagi "tahun-tahun menyebalkan" ya, setelah kita memilih jalan yang berbeda, lebih tepatnya setelah kau memilih untuk menemukan orang lain dari pada memperbaikinya dengan ku sekali lagi.
Lima bulan lagi bertepatan dengan empat tahun perpisahan kita sudah sangat banyak fase yang aku lalui, banyak cara yang aku coba, tapi tak satupun berhasil menghapus kamu. Seperti matahari terbenam yang esoknya akan terbit kembali.
Entah bagaimana kabarmu sekarang aku harap kau bahagia dengan pilihanmu, dan semoga saja kau tidak melupakanku sepenuhnya. Perempuan menyebalkan yang kau temui di akhir tahun 2018. Perempuan yang mungkin saja pernah kau cintai dengan begitu hebat sebelum akhirnya selesai begitu saja. Perempuan paling jahat yang pernah ada dihidupmu, tapi perempuan ini mencintaimu, bahkan hingga sekarang. Hampir empat tahun dia tidak pernah lagi melihatmu, mendengar suaramu, bahkan ia tak punya kesempatan untuk memantau sosial mediamu, tapi gilanya dia masih mencintaimu sedalam yang pernah ia rasakan saat bersamamu.
Aku masih ingat bagaimana awalnya kita berkenalan, pada sebuah acara fakultas yang kebetulan kita adalah panitianya. Jika aku tidak salah waktu itu hari minggu tanggal 09 Desember, malam setelah rapat panitia sebuah notif dari nomor yang tidak kukenali masuk tanpa permisi, kau membutuhkan nama-nama panitia yang tadi sore kita putuskan bersama. Aku mengirimkanmu lalu setelah itu kita sering membahas keperluan acara bersama, lebih tepatnya berdua, karena proker kita sejalan.
Kita terus berkomunikasi membahas apapun hingga memutuskan untuk mengerjakannya diluar. Malam itu hujan datangtanpa permisi, kita memilih caffe yang tidak jauh dari tempat kita berteduh, aku masih ingat kau memesan milkshake rasa red velved dan kita bercerita banyak hal malam itu.
Kita semakin dekat setiap harinya, siang itu sepulang dari kampus seperti biasa kau menanyakan aku dimana, "bagaimana rapat nanti, aku ikut atau tidak", aku bilang entahlah, aku lelah sekali berkuliah sejak pagi, seperti remaja pada umumnya kau bertanya aku sudah makan apa belum? "belum" jawabku, Kira-kira lima belas menit setelah aku mengirimu pesan kau datang membawakan nasi goreng dan vitamin, lucu sekali bukan.
Kau ingat tidak, masih dibulan Desember yang sama kau mengajakku untuk datang ke wisuda salah satu kerabatmu, sayangnya aku masih ada jadwal kuliah siang itu. Kau sudah terlanjur menjemputku, aku masih ingat kau menunggu sembari berteduh tidak jauh dari gedung dengan cat kuning yang sekarang sudah menjadi fakultas psikologi. Setelah itu kita makan siang dan kau mengantarku pulang.
Aku juga masih ingat kencan pertama kita setelah memutuskan untuk bersama, sebuah pantai yang cukup ramai yang beberapa kali aku kunjungi lagi tanpa kamu bersamaku. Tahun-tahun denganmu adalah perjalanan paling menyenangkan dalam hidupku, maaf jika kau tak merasakan hal yang sama.
Maaf jika yang kau dapatkan adalah perempuan egois yang tidak tau cara menghargai orang yang dicintainya. Aku terlalu naif, untuk menyadari kau adalah duniaku.
Maaf sering tidak menghargaimu, maaf aku selalu ingin dimenangkan, maaf untuk semua hal-hal yang membuatmu tidak lagi mencintaiku. Tapi aku masih mencintaimu, hingga hari ini. Seperti salah satu kutipan yang pernah kubaca dari buku Museum Of Broken Heart "anggap aku gila tapi aku jauh lebih mencintaimu" ditulis oleh Brian Khrisna, penulis favoritku setelah kehilanganmu, tulisannya tidak pernah gagal mengingatkanku pada kau dan kenangan kita.
Terdengar lucu tapi itulah kenyataannya, aku yang memutuskan pergi, aku juga yang menyesalinya hingga ribuan hari. Aku yang tidak memberikanmu kesempatan untuk memperbaikinya, aku juga yang berharap semua kembali.
Aku bodoh, dan aku tau. Setelah tidak denganmu aku hilang arah, aku tidak tau kepada siapa aku harus bercerita tentang badai dan hujan dalam hidupku. Kau tau tidak, aku masih takut hujan seperti dulu, bedanya sekarang aku tidak tau harus menghubungi siapa untuk menemaniku. Tapi tak apa, aku masih hidup hingga saat ini sudah menjelaskan bahwa aku bisa, aku tak apa, kau bahagia saja, temui mimpi-mimpimu.

KAMU SEDANG MEMBACA
Dear, Love
PoetryAku ingin menulis banyak tentangmu, tapi sayang sekali kau sudah tak sudih membaca tulisanku. Tapi kepalaku terlalu berisik, mengusik, dan kadang membuatku ingin membenturkannya dengan keras agar aku kehilangan semua ingatan sialan yang tak kunjung...