"aku boleh minta sesuatu ga?" ucapku sembari bersandar nyaman dibahumu, dengan tangan kiri yang kala itu kau genggam erat.
"apa sayang?" jawabmu tetap fokus mengendarai motor,
"nanti, kalo misalnya kamu udah gaada perasaan lagi sama aku, kamu bilang ya, biar aku yang pergi. Jadi kamu gaperlu berubah biar aku sakit hati dan ninggalin kamu" kau awalnya diam saja, seperti tidak ada jawaban untuk aku yang tengah menanti kalimat penenang dari mulutmu.
"bilang ya, janji" ucapku sekali lagi
"iya sayang, janji" jawabmu singkat.
Malam itu seperti biasa, kita habiskan dengan mengelilingi kota, aku terus bersandar nyaman dipundakmu dengan tangan yang saling menggenggam satu sama lain.
Tepat seperti apa yang sering orang-orang katakan, janji tidak lebih dari sekedar kalimat penenang, nyatanya ketika perasaannya habis, rasanya hilang, lelaki itu tidak mengatakan apapun. Ia hanya bertingkah seolah tidak ada rasa apa apa lagi, perempuan itu tersakiti lalu pergi dengan tanya yang tak pernah ada jawabnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Dear, Love
PoesiaAku ingin menulis banyak tentangmu, tapi sayang sekali kau sudah tak sudih membaca tulisanku. Tapi kepalaku terlalu berisik, mengusik, dan kadang membuatku ingin membenturkannya dengan keras agar aku kehilangan semua ingatan sialan yang tak kunjung...