JALAN-jalan setapak penuh dengan pedagang yang berjejer jajakan dagangan mereka. Tenda-tenda di pinggir pelabuhan juga berjejer rapi dengan orang-orang yang berlalu lalang lakukan aktifitas masing-masing. Mark yang mengajak kedua siren itu, pun sesekali melangkah dan melirik ke balik punggung takut keduanya tersesat dan menghilang.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sedangkan Haechan dan Jaemin hanya menatap waspada pada semua orang yang melewati mereka membuat mereka mendapatkan tatapan aneh. Keduanya berpegangan tangan, berdesis marah kala lihat pedagang yang jajakan ikan atau makanan laut sejenisnya.
Beberapa orang menaiki kuda, beberapanya lagi sibuk menawar belanjaan.
"Sebenarnya dia mau kemana?" Jaemin tunjuk Mark yang masih terus berjalan menjauhi pelabuhan.
"Ikuti saja, kurasa dia tahu kemana harus pergi."
🌊
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mark masuk ke sebuah tempat minum di tengah kota, matahari belum bersembunyi di barat tapi orang-orang sudah mulai mabuk sampai gila. Aroma alkohol yang tercium membuat dua siren yang baru pertama kali menciumnya merasa tak nyaman. Ditutupnya hidung mereka, bising yang buat telinga harus menerima banyak suara pun terasa nyaring di dalam.
Seolah mengenal tempat ini sudah lama, Mark melangkah di sebuah meja tempat duduk sekelompok orang dengan denting gelas yang saling bertubrukan.
"Kapten!!" satu orang dengan tahi lalat di bawah mata menyadari kedatangan Mark.
Dia langsung berdiri, menyambut sang 'kapten' yang entah dengan ajaibnya malah bisa selamat dari kejadian terakhir yang menimpa. Satu orang yang duduk di dekatnya memiliki badan besar menyodorkan satu gelas minuman beer pada Mark.
Bersulang dan teguk minuman.
"Kapten kita memang hebat, bagaimana bisa kau selamat dari peristiwa mengerikan itu?" tanya Yuta meneguk beer miliknya setelah itu.