Kepergianmu membuat warnaku menjadi kelabu,
Keadilan seperti apakah yang sedang kau rajut untukku, Tuhan?Malam tiba. Begitu hening. Seorang lelaki dengan jaket kulitnya, tampak bersiap untuk keluar malam ini. Ia memutuskan mengendarai mobil hitam kesayangannya.
Jalanan Ibu Kota begitu rapat, padahal jam menunjukkan dini hari. Apakah semua orang di kota ini mengidam penyakit yang sama sepertinya? Sulit tidur jika malam tiba. Mobil hitam itu terparkir rapi pada pinggiran jalan. Lelaki itu memutuskan untuk melanjutkan jalannya dengan berjalan kaki. Menyusuri trotoar yang disambut dengan penjual kaki lima berderet rapi pada tiap pinggiran jalan itu.
"Kak minumannya, mari dibeli. Sepuluh ribu per-botolnya"
Langkahnya terhenti. Ia berjongkok sedikit, mensejajarkan tingginya dengan bocah kecil yang menawarinya minuman tadi.
"Boleh kakak beli air mineral beserta jajanan itu, dek?"
Binar kebahagiaan segera menyelimuti manik mata bocah tersebut. Ia mengangguk senang.
"Boleh kak, mau jajan yang mana?"
"Semuanya"Segera bocah itu membungkus semua jajanan yang dimaksud oleh Raka. Tangan kecilnya menyerahkan bungkusan plastik hitam berisi jajanan itu serta air mineral tersebut kepada Raka.
"Sepertinya ini kelebihan kak uangnya"
"Tak apa, kembaliannya buat jajan kamu"Raka beranjak pergi dari hadapan bocah kecil itu. Ia melanjutkan langkahnya.
Sebuah jalan layang menjadi tempat tujuannya saat ini. Lelaki itu meletakkan air mineral beserta jajanannya pada pembatas jalan layang itu. Dari sini, manik hitam kelamnya dapat melihat gedung-gedung tinggi Ibu Kota.
Benar ternyata. Waktu terus bergulir tanpa memedulikan apapun. Bahkan dirinya sendiri. Dulu, gedung-gedung tinggi itu belum setinggi sekarang. Hanya sebuah perkantoran kecil yang dihuni beberapa karyawan saja. Namun sekarang, bukan hanya satu gedung tetapi sudah banyak gedung-gedung yang berdiri memadati hampir keseluruhan Ibu Kota.
Nuraninya kembali tergerak. Ia merasakan sedikit sakit disana. Penyesalan itu, ternyata masih ada sampai sekarang. Masa lalu yang begitu kelam. Andai dia mengalaminya kembali, ia ingin meminta untuk terserang gejala amnesia; supaya dirinya dapat melupakan semua kejadian kelamnya.
"Jadilah pelukis yang handal, namun berhati hangat. Jangan jadi pelukis yang berhati dingin"
Ingatan itu kembali menghampiri nalarnya.
"Bagaimana bisa menjadi pelukis berhati hangat, jika sekarang kaulah yang membuatku menjadi pelukis berhati dingin"
Ia menengguk habis minumannya. Dadanya semakin sesak. Pandangannya menjadi buram. Air mata mengalir membasahi pipinya. Sudah lama ia tidak menangis. Lelaki itu menangis di dalam keramaian malam kota ini.
****"Altair"
"Ya?"Seorang lelaki melangkah mendekatiku. Lalu duduk di sampingku.
"Sahabatku menyukaimu"
Kernyitan samar tergambar pada dahiku. Kucoba menerka-nerka siapa gerangan yang menyukaiku.
"Siapa?"
"Bintang"Ah, jadi lelaki berhidung mancung itu yang menyukaiku. Dia cukup manis sih menurutku. Humornya pun selalu nyambung dengan humorku. Dia lelaki dengan senyuman sehangat matahari. Sangat berbeda dengan seseorang yang saat ini sedang duduk di sebelahku. Ibarat sebuah kutub pada magnet; mereka berdua sangat berbanding terbalik sekali. Namun, saling tarik menarik satu sama lain.

KAMU SEDANG MEMBACA
ALTAIR AQUILA
Teen Fiction"Are you serious?" "Seratus persen serius" Altair menatap mata seseorang di hadapannya begitu dalam. Mencoba mencari celah kebohongan di dalam mata itu. Tetapi sedikit pun tak terlihat. Serangan keraguan mulai menyelimuti dirinya. (Altair Aquilan...