Waktu berlalu begitu cepat hingga tidak terasa sudah satu pekan tapi seorang remaja berambut hitam pekat memutuskan menyiapkan sesuatu. Namun, ia juga merasa ragu kenapa Tania menyuruh untuk sarapan bareng. Padahal biasanya Justin hanya makan di kamar atau bersama bik Tinah.
Justin lekas menuju ke ruang makan dengan mengenakan seragam sekolah putih sekaligus menambah ketampanan remaja itu. Justin memutuskan duduk walaupun pandangan Jordan dan Alex tampak tidak menyukai kedatangannya. "Mama, kenapa anak sialan itu di sini. Mending usir dia dari sini. Nafsu makan Jordan seketika hilang lihat dia!"
"Sayang, lagian Justin saudara kamu. Kenapa sih kamu bisa benci Justin. Memangnya mama nggak tau soal kamu selalu menyakiti Justin. Dulu mama memang diam saja. Tapi untuk saat ini nggak akan!"
"Pokoknya, Jordan nggak mau sama dia. Alasan Jordan melakukan hal itu. Karna Justin merupakan sebuah saingan mendapatkan Zaskia. Jordan, juga selalu berharap dia segera pergi dari dunia ini."
"Jordan, kamu nggak boleh gitu. Kenapa sih harus bersaing sama Justin. Padahal,'kan kamu bisa nembak Ayana daripada berebut. Mama paham kamu suka Zaskia tapi remaja itu hanya menyukai Justin."
Jordan seketika terdiam sembari menatap wajah Justin secara sinis sedangkan Tania tampak menyiapkan bekal. Jordan melihat hal itu tentu saja cemburu lantaran ia merasa Justin telah mengambil semua yang telah ia miliki. Sebab, Jordan sempat berpikir mengajak Damian untuk bekerja sama untuk menyingkirkan Justin.
"Dasar sialan. Justin nggak usah deketin mama. Karna gue nggak rela. Mending Lo sana sama bik Tinah. Lo itu nggak pantas berkumpul di sini?"
"Jordan, gue nggak deketin mama. Memangnya Lo kenapa sih kayak benci sama gue. Kenapa Lo selalu nyuruh gue mengalah terus."
"Diam kamu Justin." Alex seketika membentak Justin secara nyaring hingga membuat remaja itu seketika menutup kedua telinganya secara rapat dan Tania memutuskan menghampiri Justin untuk menyuruh makan tapi Justin menolak.
Justin memutuskan beranjak dari tempat duduknya memutuskan berangkat ke sekolah mengunakan motor. Tania berlari menuju ke halaman tapi ia telah kehilangan jejak Justin apalagi obat Justin berada di genggamannya. Pasalnya ia merasa khawatir Justin bakal kenapa-kenapa saat berada di sekolah.
"Ini semua gara-gara papa? Apalagi Justin belum meminum obatnya? Mama jadi khawatir sama Justin soalnya hari ini ada jadwal olahraga?"
"Kenapa jadi papa. Jordan kalau udah selesai kita berangkat. Kayaknya mama kamu sejak deket Justin jadi nggak bener."
"Iya, bener banget papa. Kenapa mama bisa luluh sama Justin. Papa sebenarnya apa yang terjadi sampai mama kayak gitu. Apalagi dia kelihatan lebih peduli sama anak sialan itu dibandingkan Jordan."
"Mungkin dia nggak mau Justin mati. Asal kamu tahu Justin ternyata sakit kanker paru-paru. Semisal Justin pergi itu merupakan jalan untuk kamu untuk mendapatkan Zaskia."
"Papa, memang nggak bener. Jordan diajarkan untuk membunuh Justin. Kamu memang kagak punya hati hingga membuat dua saudara kembar saling membenci.
Tania tentu saja membentak Alex sembari meminta surat perceraian lantaran ia juga tidak mungkin mengabaikan Justin. Ia rela melakukan hal itu demi remaja itu bisa mendapatkan perawatan medis yang layak. Pria paruh baya itu seketika berkeringat dingin mendengar hal tersebut.
****
Pelajaran olahraga pada akhirnya di mulai hingga semua murid seketika histeris lantaran guru mereka berwajah tampan bak seorang model. Laki-laki bernama Sean seketika salah tingkah lantaran hampir semua muridnya terus memandanginya. Walaupun, ia sebenarnya udah memiliki istri tapi entah mengapa mereka selalu menggodanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Eternally yours (END)
Roman pour Adolescentscerita ini akan di update setiap hari Selasa dan Jumat. Justin Sebastian Orlando, seorang laki-laki yang selalu tersenyum lebar hingga di juluki sebagai sosok yang humoris. namun, siapa sangka dia menyimpan sebuah rahasia tentang apa yang sebenarnya...
