30

19 3 0
                                        

Justin tentu saja merasa sangat bahagia lantaran ia bisa pulang ke rumah setelah menjalani perawatan selama berbulan-bulan. Selama di perjalanan sorot mata Justin seketika ke arah jalanan tampak sangat beda padahal ia terbaring koma selama satu bulan. Namun, secara tiba-tiba Tania menyentuh tangan yang tampak kurus serta ada  bekas luka.

“Mama, ini kita mau kemana? Apalagi ini jalan bukan arah rumah? Jangan bilang mama mau kurung Justin di mansion? Memangnya apa salah Justin sampai kalian tega banget sama Justin?”

“Kamu,'kan masih sakit? Apalagi mama sama papa repot banget loh? Nanti yang rawat sama jagain kamu siapa,Nak? bik Tinah juga mama suruh tinggal di mansion buat nemenin kamu selama di sini?”

“Bener yang di bilang mama. Kamu,'kan habis operasi jadi kalau semisal mama dan papa nggak ada bisa bahaya. Justin, katanya kamu pengen ngerasain yang di alami Jordan kenapa sekarang jadi menolak.”

“Justin pernah ngomong gitu. Cuma minta satu syarat jangan halangi kebebasan Justin. Memangnya kalian mau semisal Justin stres. Karna, tak di perbolehkan main keluar bersama teman-teman Justin.”

Alex bersama Tania seketika tertawa mendengar perkataan Justin. “Sayang, memangnya sehabis ini mau kemana? Apalagi kamu saja nggak bisa jalan? Memangnya siapa yang mau gendong kamu pas di luar?”  Justin mendengar hal itu seketika menundukkan kepalanya sembari menahan tangisnya.

Mereka pada akhirnya sampai di sebuah rumah mewah yang terletak di kompleks elite sekaligus menjadi tempat tinggal para seleb terkenal. Alex tentu saja langsung mendudukkan Justin di kursi roda dan mendorongnya masuk ke bangunan itu. Justin seketika langsung terkejut sembari meraba rambutnya yang penuh dengan kertas.

“Kalian  harus tanggung jawab. Kalau anak saya kenapa-kenapa. Apa di kira mainan, karna dia baru pulih dari sakit!” Alex langsung membentak keras orang yang bekerja dengan dirinya lantaran membuat remaja itu kaget tapi secara tiba-tiba Justin meminta Alex untuk menyudahi.

Beberapa orang yang berada di sana segera melakukan pekerjaan masing-masing sedangkan Tania mengantar Justin ke kamar yang berada di lantai bawah. Sebab, kalau berada di lantai atas terlalu berisiko remaja itu terjatuh dari tangga. Namun, sorot mata Justin seketika ke arah ruangan bercat putih lengkap berbagai macam alat kedokteran.

“Sayang, kamu pasti capek? Ayo istirahat yang banyak biar cepat pulih?” Tania mengecup kening Justin sembari menyelimuti tubuh remaja itu sampai dada dan ia segera keluar dari ruangan itu tapi berpapasan dengan bik Tinah yang hendak bersih-bersih.

“Bik Tinah, saya minta tolong buatin bubur?”

“Memangnya buat siapa nyonya. Apa den Justin udah pulang ke rumah. Siap nyonya, buburnya biar bibi bikinin buat den Justin.”

Tania hanya menganggukkan kepalanya dan segera pergi dari sana lantaran harus menjemput Stella dari sekolah.  Bik Tinah lekas membuat semangkuk bubur lengkap dengan pelengkap yang tampak sangat lengkap dan mengantar ke kamar Justin.  Sorot mata Justin awalnya sedih setelah lama lihat bik Tinah seketika langsung bahagia.

“Den Justin, gimana keadaan? bibi sempat jenguk kamu pas koma? Apakah lukanya masih sakit?”

“Udah baikan. Cuma luka bekas operasi Justin rasanya sakit banget. Justin beneran mau nyerah. Karna Justin nggak bisa ngapa-ngapain.”

“Kamu,'kan anaknya kuat. Kalau mau nangis juga nggak papa. Apalagi kamu juga nggak boleh banyak pikiran.”

“Bik Tinah, Stella gimana keadaannya? Justin pengen lihat dia? Jangan-jangan Stella dikembalikan di panti asuhan ya pas Justin koma?” Justin menatap wajah bik Tinah penuh selidik hingga membuat wanita paruh baya itu seketika tidak bisa berkata-kata.

Eternally yours (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang