Justin berjalan-jalan di luar lantaran keadaan udah mendingan walaupun harus ditemani oleh Jordan. Sebab, Tania berpesan kepada Jordan sebelum pergi menjenguk papa Zaskia yang kini di rawat di rumah sakit. Justin bersama Jordan tentu saja memasuki sebuah resto dan membeli sesuatu.
"Justin, gue penasaran deh. Kok Lo seneng banget es krim rasa mint. Padahal,'kan nggak enak banget kayak pasta gigi?"
"Menurut gue enak. Lo saja yang nggak doyan. Jordan, mau nggak cicipi sebelum berkomentar."
"Nggak deh. Lebih enak punya gue. Jordan berkata sembari memegang es krim rasa strawberry yang menjadi favorit sejak kecil hingga sekarang apalagi Justin kadang mengoda kakak kembarnya ngatain si duta buah strawberry.
Padahal kenyataannya Justin juga sangat menyukai buah berwarna merah itu tapi kadang nggak mau mengakui. "Jordan, kok gue kelihatan dingin ya. Memangnya Lo nggak ngerasain. Apa karna gue habis sakit ya!"
"Aneh banget. Padahal masih pagi juga. Mungkin karna habis sakit. Justin, lagian Lo orangnya nggak bisa diam."
"Harusnya Lo tau. Gue orangnya gampang bosen. Btw, gimana sekolah Lo. Apakah menyenangkan karna gue kangen bertemu sahabat gue!"
"Baik kok. Apalagi penggemar Lo kasih banyak makanan ke gue. Ternyata enak juga ya jadi orang populer di sekolah."
Justin seketika hanya diam saja mendengar hal itu lantaran merasa bosan berada di rumah sekaligus tidak bisa menyantap makanan favoritnya. Sebab, Tania selalu menyiapkan hidangan serba sehat hampir setiap hari. Namun, secara tiba-tiba Jordan teringat sesuatu hingga akhirnya mengajak Justin pulang.
Sesampainya di rumah Jordan tentu saja mengantar Justin ke kamar dan berpapasan dengan Alex saat di tangga. Alex tentu saja bingung ketika menatap raut wajah Justin yang terlihat sangat pucat untuk pertama kalinya. Justin segera merebahkan tubuhnya di kasur sedangkan Jordan memberikan sesuatu.
"Jordan, tumben Lo baik. Padahal dulu Lo jahat banget sama gue. Apa karena gue mau sekarat jadi Lo merasa bersalah?"
"Andai gue dulu nggak egois. Justin, Lo nggak usah ngomong gitu. Gue nyakin suatu saat nanti Lo bakal sembuh. Tolong jangan pesimis!" Jordan berucap sembari memberikan beberapa obat kepada adik kembar dia yang kini sedang sakit-sakitan.
"Lo, nggak usah nyesel. Mungkin ini udah takdir gue." Justin tentu saja menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Jordan hingga tidak menyadari kedatangan Alex secara tiba-tiba tapi Justin memutuskan menghadap ke arah jendela.
Jordan memutuskan melindungi Justin dengan sekuat tenaga."papa, mau ngapain kesini. Apa mau nyuruh Justin ngerjain pekerjaan rumah!" Jordan membentak sosok pria paruh baya yang berdiri tepat di hadapan kini.
"Jordan, kamu kenapa sih. Lagian papa nggak bermaksud suruh Justin. Cuma mau bilang sesuatu. Jadi tolong izinkan!"
Justin mendengar perkataan Alex memutuskan berpura-pura tidur lantaran terlalu malas debat dengan ayah kandungnya itu. Jordan tentu saja tetap berada di sana lantaran ia tidak ingin Justin kenapa-napa apalagi bersama Alex. Namun, ternyata perkiraannya salah pasalnya Alex hanya mengengam tangan Justin dan langsung pergi sehabis itu.
***
Jam menunjukkan pukul empat sore Zaskia masih terpaku di bangku rumah sakit sembari menundukkan kepalanya hingga tidak menyadari kedatangan Justin. Remaja berjaket hitam lekas mendudukkan tubuhnya di samping Zaskia sembari menepuk-nepuk punggung remaja berambut hitam panjang. Zaskia tentu saja menoleh ke arah sosok tampan berada di sebelahnya kini.
"Justin, memangnya Lo udah kagak papa. Mending nggak usah kesini. Lagian,'kan Lo masih sakit?"
"Gue, udah baik-baik saja. Tadi pagi gue udah jalan-jalan walaupun sama Jordan. Zaskia, Lo tau sendiri mama mulai overprotektif."
KAMU SEDANG MEMBACA
Eternally yours (END)
Ficção Adolescentecerita ini akan di update setiap hari Selasa dan Jumat. Justin Sebastian Orlando, seorang laki-laki yang selalu tersenyum lebar hingga di juluki sebagai sosok yang humoris. namun, siapa sangka dia menyimpan sebuah rahasia tentang apa yang sebenarnya...
