Tania tentu saja menyuruh asisten rumah tangganya untuk memandikan Justin karena remaja itu masih tertidur pulas. Beberapa orang itu segera menggotong tubuh Justin dan segera meletakkan di bad tub sedangkan Tania menyiapkan pakaian. Beberapa saat kemudian, mereka sudah berada di perjalanan menuju ke sekolah.
Justin seketika terbangun." Mama, kenapa nggak banguin Justin?" tanya Justin sembari menatap wanita paruh baya yang terlihat menyetir dan untung saja Justin seketika tersadar kalau sudah memakai seragam sekolah.
"Lagian kamu tidur kayak orang mati. Apalagi kelihatan kelelahan jadi terpaksa mama nggak banguin?"
"Tumben, Jordan nggak bareng. Memangnya kemana dia?" Justin melihat sekeliling sembari mengenyitkan keningnya dan Tania memutuskan mengatakan Jordan berangkat seorang diri dengan mengunakan motor.
"Nak, nanti sepulang sekolah. Kita mampir ke rumah sakit. Apalagi udah waktunya kamu kemoterapi!"
"Justin nggak mau. Apalagi kemoterapi rasanya sakit banget. Tolong jangan paksa Justin, memangnya tidak bisa hanya minum obat."
Tania segera menghentikan mobil hitam sembari memandang ke arah Justin. "Sayang, ini semua untuk kebaikan kamu. Apalagi kamu sudah masuk stadium tiga. Kemungkinan besar tubuh kamu juga bakal melemah."
Justin mendengar hal itu seketika terdiam sembari memikirkan tentang rencana itu dan memutuskan menyetujui. Sebab, Justin tak ingin membuat Tania kecewa kepadanya apalagi ia sudah mendapatkan kasih sayang wanita paruh baya itu. Tania segera melanjutkan perjalanan menuju ke Galaxy High School.
"Sayang, Pokoknya kamu nggak boleh jajan sembarangan. Sana buruan turun dan satu lagi yang kamu makan wajib di foto. Karna mama nggak mau kamu kenapa-kenapa?"
"Justin, udah paham."
Justin tentu saja melangkah menuju ke kelas hingga semua orang menyorotkan pandangan kearahnya. Justin seketika merasa heran kenapa mereka menatapnya dan ia memutuskan melihat penampilannya. Justin seketika syok berat lantaran ia tidak menyangka Tania memilih pakaian tersebut.
"Justin, Lo tumben banget kayak siswa alim. Padahal biasanya kelakuan Lo itu badas banget?" tanya seorang laki-laki berperawakan tinggi kurus yang baru saja datang seketika menghampiri Justin.
"Gue begini gara-gara mama gue. Padahal gue tadi baru tidur tapi saat bangun udah di mobil saja. Vin, gue sampai kesel banget?"
"Tumben, mama Lo perhatian. Bukannya biasanya dia selalu menghindar. Tapi nggak ada angin atau hujan tiba-tiba berubah."
Justin memutuskan untuk diam lantaran ia juga tidak mungkin jujur kalau dirinya sedang sakit. Sebab, Justin berprinsip tidak mau merepotkan orang lain kecuali keadaan dia udah nggak memungkinkan. Karna kebagian orang lain itu lebih penting bagi Justin sehingga melupakan kesehatannya.
***
Sepulang sekolah Justin bersama Zaskia menuju ke sebuah tempat dan ia memutuskan mengirimkan pesan kepada Tania untuk tidak menjemputnya. Sebab, ia berkeinginan untuk mampir sejenak ke markas Alistair gang. Zaskia tentu saja mengengam lengan Justin sembari menyenderkan kepalanya di pundak Justin.
"Ayang Justin, gimana kalau besok temenin gue belanja? Karna udah satu bulan nggak belanja? Tolong mau ya nanti gue traktir." Justin tentu langsung setuju mendengar permintaan Zaskia.
"Kenapa nggak sekarang, ngapain juga menunggu besok?"
"Gue,'kan juga harus izin dulu, Lo kira uang gue sebanyak itu? Ketika gue traktir Lo waktu itu sebenarnya permintaan tante Tania," beritahu Zaskia yang mengatakan yang sebenarnya lantaran ia tidak ingin salah sangka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Eternally yours (END)
Novela Juvenilcerita ini akan di update setiap hari Selasa dan Jumat. Justin Sebastian Orlando, seorang laki-laki yang selalu tersenyum lebar hingga di juluki sebagai sosok yang humoris. namun, siapa sangka dia menyimpan sebuah rahasia tentang apa yang sebenarnya...
