34

17 2 0
                                        

Dokter bersama perawat segera melarikan tubuh Justin yang terbaring di ranjang menuju keruang operasi sedangkan Tania menunggu di luar. “Justin, semoga kamu baik-baik saja? Apa kamu lelah sakit sampai milih bunuh diri? Padahal mama berharap kamu sembuh?” ungkapnya sembari menatap pintu dan secara tiba-tiba Alex. “Mama, apa yang sebenarnya terjadi?”

Tania meminta suaminya untuk duduk di kursi dan pada akhirnya Tania kasih tau. “Papa, Justin menusuk perutnya? Mama jadi khawatir apa Justin putus sama Zaskia? Sebab mama tadi lihat Zaskia tapi dia kelihatan buru-buru?” Alex mendengar perkataan itu hanya terheran-heran. “Padahal Justin nggak mungkin senekat itu. Karna papa paham dia sayang tubuhnya.”

Namun secara tiba-tiba seorang dokter keluar dari ruangan itu dan Tania segera memegang tangan Ryan untuk bertanya. “Dok, gimana keadaan Justin?” Ryan pada akhirnya menjawab pertanyaan Tania walaupun sedikit ragu.”Untuk sementara pasien di rawat di ruang ICU. Namun, operasinya berjalan baik?”

Alex memegang bahu Tania mendengar perkataan Ryan kalau operasi Justin berjalan baik. “Berapa lama pasien tersadar?” tanya Alex secara tiba-tiba. “Kalau soal itu tergantung kemauan pasien. Semoga Justin segera tersadar?” Ryan mengatakan hal itu dan memilih meninggalkan pasangan suami istri tersebut.

Di sisi lain Jordan terlihat hangout bersama teman-temannya di salah satu restoran dan Ayana juga berada di sana. “Jordan, ponsel Lo berdering. Lo nggak mengangkat kali saja penting. Apalagi dari mama Lo.” Ayana yang sendari tadi memandang beberapa notifikasi panggilan pada akhirnya berbicara. “Ayana, gue angkat dulu? Kalian bisa tolong temenin Ayana?”

Salah satu dari mereka yang berpenampilan sangat stylish menganggukkan kepalanya dan pada akhirnya memulai percakapan. “Jordan, Lo tenang saja. Lagian gue udah punya pacar. Ayana nggak bakal gue ambil?” Jordan pergi dari sana dan mengangkat panggilan itu. “Mama, ada apa? Tumben menelpon Justin baik-baik,’kan?”

Tania yang berada di seberang sana pada akhirnya bercerita walaupun sambil menangis di video call ini. “Justin, pernah cerita nggak. Dia menusuk perutnya sampai terluka parah. Keadaan dia juga kritis entah kapan dia terbangun.” Jordan mendengar perkataan Tania seketika berdiri mematung. “Mama, Jordan hampir lupa. Kalau Justin suka melukai tubuhnya pas sedih.”




“Jordan, kenapa kamu baru bilang sekarang? Kalau Justin punya riwayat melukai tubuhnya sendiri? Berarti  semua luka di tubuh Justin hasil kelakuannya dan pukulan dari papa? Mama jadi bingung sama jalan pikiran Justin. “Mungkin karna dulu papa mama selalu memperhatikan Jordan. Sedangkan kalian hampir nggak pernah perhatiin Justin? Itupun Jordan nggak sengaja lihat Justin melakukan tindakan itu.”

Ayana tentu saja bertanya kepada Jordan ketika remaja itu kembali duduk di sampingnya. “Jordan, siapa yang menelpon. Kenapa wajah Lo jadi berubah?” Jordan tentu saja memberitahu Ayana soalnya yang dia dengar dari Tania.”Kayaknya gue harus kembali ke rumah sakit. Soalnya, Justin tiba-tiba menusuk perutnya hingga tidak sadarkan diri?”

Semua orang yang berada di sana tentu saja terkejut mendengar hal itu soalnya Jordan pernah membicarakan tentang Justin kepada mereka. “Justin beneran melakukan hal itu. Padahal gue lihat kepribadian Justin lebih terbuka.” Jordan tentu saja berkata.”kalian salah. Sejak dia sakit kepribadian Justin lebih tertutup. Soalnya mau terbuka hanya kepada Zaskia?”

Ayana mengikuti Jordan ke rumah sakit secara tergesa-gesa dan dalam beberapa menit mereka sampai memilih berlari ke ruang ICU. Namun, sorot mata Jordan menatap tajam ke arah sosok tubuh terbaring di balik kaca sedangkan Ayana duduk di samping Tania. “Tante Tania sabar ya. Ayana jadi sedih banget tau keadaan Justin. Kira-kira kapan Justin terbangun.”

***

Zaskia memilih menemani Justin sekaligus merasa bersalah menyuruh remaja itu untuk menghilang dari hidupnya. Namun Zaskia tersadar ia tidak bisa melupakan sosok itu setelah mendengar perkataan Ayana dua hari yang lalu dan pada akhirnya Zaskia seketika luluh. Sorot mata coklat itu terus menatap ke arah sosok yang berbaring di tempat tidur sembari memegang tangan.

Eternally yours (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang