Switched 🍁 10

44 9 0
                                    

Arella tengah memasak makanan kesukaan Dhemiel di dapur, berharap pemuda itu pulang dan memakan sup wortel buatannya dengan senyuman khas anak kecil terpampang di wajahnya. Wajah Arella terlihat lesu dan tak bersemangat seakan nyawanya tengah mengembara mencari sesuatu yang hilang. Bahkan meski jarinya teriris pisau, dia tidak merasakan sakit dan sihirnya dengan cepat menyembuhkan irisan di jarinya.

Daquan pun muncul dari ruang tengah. Dia terlihat prihatin dengan keadaan istrinya yang semakin memburuk setiap hari.

"Arella, lebih baik kau istirahat saja. Biar aku yang memasak," ucap Daquan. Dia menuntun Arella ke kamarnya dan menaruhnya di kasur sebelum akhirnya pergi ke dapur, menggantikan Arella memasak. Entah kenapa Arella merasa beruntung memiliki suami yang pandai memasak.

Mata Arella pun jatuh ke pintu kamar Dhemiel. Diraihnya gagang pintu itu dan dia masuk ke kamar Dhemiel yang mulai terasa hampa. Banyak memori yang tertinggal di kamar kecil itu. Namun sekarang sudah berbeda; tidak ada lagi gumaman kecil Dhemiel yang sedang membaca buku di kamarnya; tidak ada lagi suara lembut Arella yang menyuruh Dhemiel yang sedang asik membaca agar dia tidur; tidak ada lagi lontaran pertanyaan kecil dari bibir Dhemiel; tidak ada lagi kenangan yang bisa dibuat Arella bersama Dhemiel.

Setetes air mata jatuh ke pipi Arella saat mengingat sosok Dhemiel kecil berbaring di kasur sembari membaca tumpukan buku ensiklopedia bertema berat untuk anak kecil berumur 5 tahunan seakan buku itu adalah dongeng sebelum tidur.

Diraihnya selimut berwarna baby blue kesukaan Dhemiel dan dipeluknya dengan sangat erat. Aroma tubuh Dhemiel masih tersisa. Air mata Arella jatuh semakin deras kala mengingat Dhemiel bukanlah anak kandungnya. Akhirnya Arella tertidur di kasur Dhemiel karena kelelahan menangis. Sebuah senyuman kecil terbentuk di wajahnya kala mimpi tentang Dhemiel diputar di otaknya. Atau lebih tepatnya, otaknya memutar memori tentang Dhemiel di kepalanya dan membuatnya menjadi sebuah mimpi.

Mimpi adalah sebuah kebohongan manis yang dibuat oleh otak.

Dan semanis apapun kebohongan itu, pasti akan menyakitkan saat kebenarannya terungkap, bukan?

*****


"Hei, ini sudah 5 jam dan kumohon untuk yang terakhir kalinya... hentikan tingkah konyol kalian!" Pekikan Syrennia menggema di seluruh hutan. Dhemiel dan Aletta tak kunjung sadar dari aktifitas tak berfaedah mereka. Bahkan Flarage di sebelahnya tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk menghentikan suara tawa melengking Aletta yang mulai terdengar seperti lumba-lumba sedang melahirkan.

Ya ampun, aku masih tidak percaya Dhemiel memelukku! Aletta memekik di dalam hatinya.

Ya Tuhan! Aku tidak percaya aku memeluk Aletta! Kali ini Dhemiel berteriak di dalam hatinya.

Dan pikiran itu berulang-ulang di kepala mereka sampai sekarang ini.

Mata Syrennia berkedut. "Hentikan sekarang atau aku akan membuat bibir kalian bersentuhan!"

Dengan sebuah kalimat itu, Dhemiel duduk dengan manis di hadapan Syrennia dengan waktu 0,00000001 detik sementara Aletta semakin menjadi-jadi seakan dia memang ingin berciuman dengan Dhemiel. Dasar iblis.

Ralat, malaikat berhati iblis.

"Dan untukmu Aletta, akan kupastikan Dhemiel menjauhimuㅡ"

"Tapi aku tidak melakukan apa-apa."

Kali ini Aletta langsung duduk manis di sebelah Dhemiel dalam waktu 0,01 detik. Waktunya masih belum bisa mengalahkan rekor Dhemiel. Syrennia menghela napas lega saat dia akhirnya berhasil menenangkan kedua makhluk absurd di hadapannya.

Kali ini Aletta langsung duduk manis di sebelah Dhemiel dalam waktu 0,01 detik. Waktunya masih belum bisa mengalahkan rekor Dhemiel. Syrennia menghela napas lega saat dia akhirnya berhasil menenangkan kedua makhluk absurd di hadapannya.

SWITCHED Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang