Siang yang cerah untuk ukuran padang rumput kering penuh daun mati. Burung-burung kecil berlarian ke sana kemari untuk mencari cacing atau apa pun yang tersisa dan bisa mereka makan. Dhemiel membuka kelopak matanya yang sudah segar kembali. Dia tidak melihat tanda-tanda Aletta di sisi lain gua. Dhemiel menggidikkan bahunya dan membuka sayap yang membungkus dirinya.
Dia terpaku.
Aletta berada di dalam sayapnya, tertidur dengan nyenyak dan menjadikan dada Dhemiel sebagai bantal. Punggung Dhemiel seketika membentur dinding gua saking terkejutnya.
Gua itu pun mulai bergemuruh disertai jatuhnya kerikil kecil. Menyadari hal tersebut, Dhemiel menggendong Aletta keluar gua yang sebentar lagi runtuh. Aletta pun membuka matanya, mendapati dirinya di gendongan Dhemiel.
"Jadi? Apa yang kau lakukan saat aku tidur, wahai iblis berhati malaikat?"
Ucapan Aletta membuat Dhemiel tak sengaja menjatuhkannya. Beruntung Aletta langsung mengembangkan sayapnya, mencegah pantatnya membentur tanah.
Dhemiel merapat ke batu yang menutupi gua. "Maaf! Tadi guanya nyaris runtuh dan aku terpaksa menggendongmu agar kau selamat!" Ucap Dhemiel. Aletta tersenyum licik. Dia kembali menyudutkan iblis berhati polos bak anak kecil itu.
"Kalau begitu sebagai rasa terima kasih, terimalah ciumanku."
Dan seketika Dhemiel ingin sekali menusuk pipi kanannya yang Aletta cium. Wajahnya memerah bagai kepiting yang terlalu lama di rebus. Kakinya seketika lemas dan Dhemiel kembali meringkuk di tanah. Tak lupa, sayapnya dengan setia membungkus tubuhnya.
"Mama, aku takut," bisik Dhemiel. Aletta pun mengelus kepala Dhemiel lembut.
"Oh, ya ampun. Itu hanya kecupan kecil di pipi! Kau mau aku melakukannya di bibirㅡ"
"Tidak, terima kasih! Sekarang aku harus pergi!"
"Ayolah, biarkan aku ikut!"
"Setelah menemukanmu memelukku saat tidur dan mencium pipiku? Tidak terima kasih!"
"Aku bisa mengerti kalau kecupan itu, tetapi aku masuk ke sayapmu karena aku kedinginan! Sayapku terlalu tipis untuk kujadikan selimut, jadi aku merangkak masuk ke sayapmu," jelas Aletta. Dhemiel ingin sekali meninggalkan Aletta, tetapi Aletta hanyalah seorang gadis seumurannya. Tidak baik meninggalkan seorang gadis sendiri, apalagi gadis itu adalah malaikat bersayap iblis. Aletta bisa dibunuh malaikat lain kalau tidak berada dalam pengawasannya.
Dhemiel pun menghela napasnya. "Baiklah, kau boleh ikut. Dan jangan ganggu aku lagi. Mengerti?"
Aletta hanya membalas ucapan Dhemiel dengan anggukkan kecil. Mereka pun melebarkan sayap mereka dan mulai berkelana ke suatu tempat yang mau menerima mereka apa adanya.
Hening.
Tidak ada yang memulai pembicaraan, entah itu Dhemiel atau pun Aletta. Mereka berkonsentrasi ke hadapannya. Yang mereka dengar hanyalah suara kepakan sayap dan angin siang menerpa wajah mereka.
Keheningan ini membuat Aletta tak nyaman dan terasa canggung. Dia ingin memanggil Dhemiel hanya untuk basa-basi, tetapi Aletta takut kalau dia salah bicara dan membuat Dhemiel marah sehingga benar-benar meninggalkannya. Aletta pun memilih untuk diam dan mengikuti Dhemiel ke mana pun dia pergi.
Berbeda dengan Aletta, Dhemiel sangat menyukai ketenangan dan kedamaian seperti yang dia rasakan saat ini. Dia menutup mata dan merasakan angin menerpa wajahnya dengan lembut. Kebebasan seperti ini sudah lebih dari cukup untuknya. Dia membiarkan sayapnya membawa dirinya ke mana pun dia suka tanpa menyadari kalau Aletta terus mengikutinya.
"Hei, Dhemiel!" Pekikkan Aletta membuyarkan lamunan Dhemiel. Dia menoleh.
"Ada apa?"
"Ayo kita cari makan! Kita belum makan dari kemarin dan perutku sudah merintih kelaparan."

KAMU SEDANG MEMBACA
SWITCHED
Fantasy(Revisi) Ada sebuah kebiasaan di antara para malaikat dan iblis yang tengah mengandung: mereka harus melahirkan anak mereka di Bumi serta meninggalkan anak mereka sebelum kembali menjemput bayi ringkih mereka yang tampak seperti manusia biasa. Sampa...