4

41 8 5
                                        

Wildan meletakkan tas gitarnya di ujung kamar, lalu berjalan meraih paper bag yang ia bawa dari rumah Jae. Ia mengeluarkan bajunya yang kini berwarna sedikit kekuningan karena terkena sirup.

Ia berjalan menuju ke kamar mandi, berniat mencuci bajunya. Langkahnya terhenti ketika melihat pantulan dirinya di cermin.

"Pantas aja orang-orang pada ketawa pas gue lewat..." gumamnya.

Ia berputar pelan di depan cermin sambil sedikit mendengus melihat gambar Barbie di depan dan belakang baju yang ia pakai.

Sepertinya Wildan yang gak suka sama Jae jadi ikutan gak suka sama adiknya...

Sepertinya Wildan yang gak suka sama Jae jadi ikutan gak suka sama adiknya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ngomong-ngomong soal Seina dan Jae, mereka hanya tinggal berdua. Harusnya bertiga, tapi kakak pertamanya yang bernama Jehan, dia bekerja di luar kota sebagai dokter spesialis bedah.

Kedua orangtuanya sudah meninggal. Ayah meninggal karena kecelakaan. Padahal waktu itu Seina sedang menunggunya di depan kelas untuk mengambil raport. Bukannya sang ayah yang datang, malah Jehan yang datang dengan senyum sendu nya.

Belum cukup dua bulan kepergian ayah, ibu meninggal karena penyakit jantung. Jae yang waktu itu baru pulang sekolah langsung terduduk lemas melihat Jehan yang berupaya memberikan CPR kepada sang ibu, dan Seina yang duduk berjongkok dengan wajah penuh air mata.

Jehan yang waktu itu masih berkuliah harus memenuhi kebutuhan hidup adik-adiknya. Untungnya, ia tidak perlu bekerja terlalu keras karena ayah Kenan membiayai sekolah mereka. Dengan kerja keras dan semangatnya, akhirnya Jehan bisa meraih gelar dokter dan bekerja di salah satu rumah sakit ternama.

Ayah dan ibu memiliki jiwa yang bebas. Mereka tidak mengekang anak-anaknya dan tidak memaksa mereka untuk menjadi seperti ini dan itu. Asal anak-anaknya sukses di jalannya masing-masing, ayah dan ibu akan senang.

Namun mereka harus pergi bahkan sebelum mereka melihat Jehan dengan baju toga nya, melihat laki-laki itu mengenakan jas dokter, melihat penampilan Jae di atas panggung, atau melihat hasil foto Seina yang masuk pameran.

Namun mereka harus pergi bahkan sebelum mereka melihat Jehan dengan baju toga nya, melihat laki-laki itu mengenakan jas dokter, melihat penampilan Jae di atas panggung, atau melihat hasil foto Seina yang masuk pameran

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Bangun gak lo?!"

Seina menendang bokong Jae yang sedang tertidur pulas di lantai ruang tamu. Meja berantakan karena kertas-kertas dan sisa bungkus makanan yang berserakan.

Anak-anak Nayanika sudah pulang sejam yang lalu, tapi Seina belum membersihkan ruang tamu karena kakaknya masih terkapar di sana. Yang bikin Seina geram adalah kakaknya yang tidur di lantai bersama sampah, bukannya tidur di sofa. Persis seperti gembel.

Jae mengerang. Bukannya bangun, ia malah memperbaiki posisi tidurnya, kakinya memeluk sofa, lalu kembali melanjutkan tidurnya.

"JAELANI BINTI ABDUL LANI BANGUN GAK LO?!" teriak Seina tepat di telinga laki-laki itu.

Jae terperanjat kaget, ia langsung berdiri dan memberikan sikap hormat pada Seina. "Siap baginda!"

"Bersihin semuanya, awas kalau gak bersih. Gue aduin lo ke bang Jehan biar gak dikasih jajan sebulan!" ancam Seina.

"Dih? Kok kayak gitu?" Jae memelas. Ia memegang tangan Seina, lalu menatapnya dengan tatapan sok imut. "Adek jangan jahat-jahat sama bang yah?"

"Bodo amat!" Seina menghempaskan tangan Jae. "Bersihin sekarang! Gue mau tidur! Bye!"

Jae memanyunkan bibirnya menatap Seina yang berjalan naik ke kamar sambil menghentakkan kakinya.

Seina membanting pintu kamarnya, membuat Jae yang tengah membersihkan ruang tamu terperanjat kaget. Ia menatap langit-langit kamar yang dipenuhi hiasan origami dan lampu warna-warni yang dibelikan kedua kakaknya ketika ia ulang tahun. Sebenarnya uang yang dipakai untuk membeli lampu-lampu itu punya Jehan, tapi yang pergi ke tokonya adalah Jae.

Ada selembar foto yang Seina pasang di tengah-tengah hiasan langit-langit kamarnya. Foto keluarga mereka ketika Jehan baru saja menamatkan pendidikan sekolah menengahnya.

Ia ingat waktu itu mereka berbondong-bondong menuju studio foto milik teman Jehan. Mereka berpose dengan berbagai gaya. Ia mengingat bagaimana senyuman cerah ayah dan ibunya waktu itu. Ia ingat semuanya dengan detail, karena menurutnya itu adalah kenangan indah yang tidak boleh dan tidak akan pernah ia hapus.

Setelah membersihkan ruang tamu, Jae berjalan menuju kamar adiknya. Ia berniat menanyakan makan malam apa yang diinginkan gadis itu, tapi yang ia dapati adalah Seina yang tengah tertidur pulas.

"Lagi kangen sama ibu bapak yah?" gumam Jae sambil mengelus sayang surai adiknya.

Jari jempolnya mengusap jejak air mata yang ada di sudut mata Seina. Sepertinya Seina tidak sadar kalau ia menangis ketika mengingat kenangan hari itu.

"Abang juga kangen. Tapi kita bisa apa selain doakan mereka di sana? Mau ketemu juga nggak bisa. Abang gak siap, dan abang gak mau kalau salah satu dari kita bertiga nyusul ibu bapak..." dikecupnya pucuk kepala sang adik. "Abang minta maaf kalau buat lo marah mulu. Daripada lo nangis mulu, abang lebih gak suka kalau lo nangis. Lebih baik lo marah-marah nendang semua perabotan rumah yang penting jangan nangis yah... Mimpi indah tuan putrinya Jae..."

Setelah mendaratkan satu kecupan lagi pada pucuk kepala adiknya, Jae berjalan keluar untuk mencari makan malam. Ia tidak sadar jika Seina telah membuka matanya dengan air mata yang perlahan mengalir.

"Seina juga sayang banget sama abang..."

Law Of First Love Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang