Kami sedang menunggu seorang pemuda yang sudah lama tidak pulang. Pemuda itu kesayangan tetua-tetua kampung. Anak-anak bahkan menunggu di depan gapura. Para gadis juga menunggunya di bawah pohon mangga, duduk di kursi bambu milik Mbah Tari. Semua itu wajar, kami sangat menyayangi pemuda itu karena dia begitu baik kepada orang-orang di kampung ini.
Aku juga menunggunya. Sudah menanti kedatangannya begitu lama. Tapi rasa rinduku malah membuatku berdiam diri di kamar, sambil bertanya-tanya apakah dia sudah masuk ke dalam gang kampung.
Pemuda itu bernama Jean, lebih mudah dipanggil Jeje. Terakhir kali aku melihatnya saat kelas empat SD. Jean punya senyum yang manis. Dengan senyum itu dia bisa menyita semua perhatian orang-orang. Aku yakin sekarang Jean sudah tumbuh dewasa, dan aku harap senyum cerahnya itu tidak pernah hilang.
Jean adalah teman masa kecilku, bersama Hayu dan Kama. Kami berempat menghabiskan masa kecil yang menyenangkan. Tapi sayangnya, Jean harus pindah ke kota karena pekerjaan ibunya. Tinggal-lah aku, Hayu, dan Kama di kampung ini. Mungkin kami juga akan berpisah satu sama lain ketika kuliah nanti.
Ada kenangan yang masih aku ingat, yang menjadi alasan bagiku untuk menununggu Jean kembali.
Delapan tahun yang lalu, di teras rumah Mbah Tari, saat musim hujan. Aku duduk berhadapan dengan Jean. Kami menyesap susu hangat sambil menatap hujan yang turun sangat deras.
"Jean," panggilku.
Jean menoleh. "Ya?"
"Hujan, mendung, atau hari yang cerah, mana yang kamu suka?"
Jean terlihat berpikir, kemudian dia tersenyum begitu lebar. "Hari yang cerah, dong. Kalau mendung kan gelap, kalau hujan kita enggak bisa pulang, kayak sekarang."
Aku mengangguk paham. Ternyata kami berbeda. Aku lebih menyukai hujan ketimbang hari yang cerah.
"Kalau aku udah jago main gitar, aku bakal bikin lagu yang bagus, yang cocok didengerin di kebun teh Pak Diman. Nanti kita makan es krim di sana," ujarku.
Jean mengangguk kuat.
Hari itu membuatku semakin semangat belajar bermain gitar. Aku berusaha membuat lagu yang bagus. Aku sering menghabiskan waktu di kebun Pak Diman, mencari inspirasi sambil tiduran menatap langit yang cerah.
Saat itu kami masih kecil. Pertanyaanku dan jawaban Jean tidak begitu berarti. Tapi semakin dewasa aku sadar, Jean yang masih kecil itu ingin kebahagiaan untuk semua orang dengan membawa senyumnya yang indah bagai sinar matahari.
Jean akan datang hari ini. Apakah ini waktu yang tepat untuk menepati janjiku? Tapi aku tidak yakin Jean masih mengingatnya. Delapan tahun, banyak hal yang terjadi di hidupnya, banyak orang baru yang dikenalnya di kota, bagaimana Jean mengingat percakapan sepele itu?
🌼

KAMU SEDANG MEMBACA
A Sunny Day is Ours✔
Fiksi RemajaLaki-laki pemilik senyum secerah sinar matahari itu akhirnya kembali. Aku menjanjikan sesuatu padanya saat kecil. Apakah dia masih mengingatnya?