3

6 2 0
                                    

Pagi ini ibu menyuruhku memberikan bolu kukus ke Mbah Tari. Tetua kampung itu biasa duduk di kursi bambu di bawah pohon mangga ketika pagi. Aku dapat melihat Mbah Tari sudah duduk manis di atas kursi kesayangannya.

"Mbah Tari, ibu ngasih bolu kukus," ujarku setelah mendekati Mbah Tari.

"Wah, tahu aja mbah pengin yang manis-manis. Sini-sini, makan bareng." Mbah Tari berucap dengan wajah ramahnya. Dia adalah nenek semua anak-anak di sini. Aku juga sudah menganggap Mbah Tari sebagai nenekku sendiri.

Kami tersenyum senang begitu bolu kukus yang lembut masuk ke dalam mulut. Tidak salah lagi, ibu adalah pembuat roti paling handal di kampung.

"Kamu sudah bicara sama Jeje?"

Pertanyaan Mbah Tari membuatku tersentak. Dengan pelan aku menggeleng.

Mbah Tari tersenyum, seperti sedang mengingat masa lalu yang indah. "Mbah jadi ingat, dulu Jeje pernah lari masuk ke rumah sambil teriak-teriak, katanya 'Mae yang paling jahat'. Jidatnya merah, sepertinya waktu itu kamu menjitaknya."

Ah, saat itu. Waktu itu Jean seenaknya mengambil mahkota bunga yang sudah susah-susah aku rangkai bersama Hayu. Aku menjitaknya, kemudian dia berlari meninggalkanku sambil marah-marah. Rupanya dia mengadu ke Mbah Tari. Keesokan harinya aku memaafkan Jean karena dia terlihat sangat lucu memakai mahkota bunga itu.

"Tapi setelah teriak-teriak begitu, besoknya dia datang lagi sambil bilang 'Aku paling suka Mae'", ucap Mbah Tari seraya tertawa lepas.

Aku mengigit bibir, malu mendengar perkataan Mbah Tari.

"Sudah, sudah, bolu ini biar mbah yang makan. Sekarang kamu pulang, ambil gitarmu dan cari Jean. Tunjukkan lagu buatanmu itu." Mbah Tari menarikku, menyuruhku segera berdiri dari kursi bambunya.

Aku tersenyum kepada Mbah Tari, kemudian berlari ke rumah, cepat-cepat menaiki tangga dan masuk ke kamarku. Aku mengambil gitar yang tergeletak di atas kasur. Sekali lagi aku melewati tangga dengan langkah cepat, bahkan menjawab sapaan kakakku dengan singkat.

Kakiku melangkah tanpa arah. Aku tidak tahu Jean ada di mana, aku hanya mengikuti kata hatiku. Sampai akhirnya kakiku berhenti di depan kebun teh Pak Diman. Aku melangkah ke dalam kebun. Cukup sulit untuk menemukan Jean di sini karena banyak pekerja yang berlalu-lalang.

"Mae!"

Suara yang familiar itu membuatku menoleh. Dengan tergesa-gesa aku mendekati seseorang itu. "Kama! Lihat Jean nggak?"

Kama melirik tanganku yang menggenggam gitar dengan erat. Dia tersenyum simpul. "Ada di dalam, cari aja."

Aku menghela napas lega. "Makasih."

Dengan segera aku melangkah lagi. Ketika aku sudah beberapa langkah meninggalkan Kama, suaranya kembali mengudara.

"Semangat, Mae!"

Aku membalikkan badan, kemudian tertawa, membalas ucapannya dengan anggukan kecil.

Aku terus melangkah sambil mengedarkan pandangan, tidak mau sedikit pun melewatkan setiap sudut kebun. Beberapa orang menatapku heran karena aku datang kemari sambil membawa gitar.

Begitu mendekati gazebo di ujung kebun, aku melihat sosok Jean yang sedang termenung di sana. Kepalanya mendongak menatap langit yang cerah. Aku mengepalkan tangan. Jantungku berdebar. Tiba-tiba aku takut mendekatinya.

Jean menyadari keberadaanku. Dia menoleh. Matanya membulat. Laki-laki itu mengangkat dua bungkus es krim, kemudian tersenyum. Senyum yang manis tapi tersirat kesedihan.

"Es krim-nya udah leleh, Mae," ujarnya.

Ah, dia sudah menungguku.

🌼

A Sunny Day is Ours✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang