Malam itu, suasana di dalam kamar Ara terasa hening. Wanita itu terduduk di sofa, merenggangkan tubuhnya sambil memegang perutnya yang semakin membesar. Di saat seperti itu, sebuah keinginan khusus menghampirinya.
"Aku sangat menginginkan martabak telur," gumam Ara sendirian.
Meskipun hari sudah malam dan udara begitu dingin di luar, hasratnya tidak bisa dipadamkan. Namun, keadaan tidak seindah yang diharapkan. Vera, sahabatnya, yang biasanya membantu mengatasi segala keinginan aneh Ara, sedang tidak enak badan. Ara merasa ragu untuk meminta bantuan kepadanya.
Tidak memiliki pilihan lain, Ara mengubah pikirannya dan memutuskan untuk pergi sendiri. Berganti pakaian dengan cepat, Ara bersiap-siap untuk keluar.
Namun, begitu sampai di lantai bawah, Vera yang tengah duduk di ruang TV menyapanya dengan pertanyaan, "Kemana kau akan pergi, Ara?"
Ara berusaha terus terang, "Aku ingin membeli martabak telur."
Vera mengernyitkan dahi, "Tidak, Ara. Udara malam ini sangat dingin, dan lagi pula, sedang hujan deras. Tidak baik untukmu. Lebih baik kau tidak keluar."
Ara menggelengkan kepala, "Tapi aku sangat menginginkannya, Vera."
Vera tersenyum pahit, "Tunggu sebentar. Aku punya ide."
Vera langsung mengambil ponselnya dan menelepon Aksa. "Halo, Aksa. Bisakah kau membantuku? Ara sangat mengidam martabak telur malam ini, tapi aku tidak bisa keluar. Bisakah kau membelikannya?"
Ara merasa agak tidak nyaman mendengar nama Aksa dipanggil, tapi dia menyadari bahwa Vera hanya ingin membantunya.
Setelah beberapa saat berbicara dengan Aksa, Vera menutup teleponnya dan tersenyum pada Ara. "Aksa akan membawakanmu martabak telur. Kau tunggu saja di sini."
Ara menghela nafas, merasa pasrah pada keadaan. Meskipun hatinya masih penuh dengan ketidaksetujuan terhadap kehadiran Aksa, Ara memilih untuk kembali ke kamarnya dan menunggu. Martabak telur yang diidamkannya akan segera datang, meskipun tidak sesuai dengan skenario yang ia harapkan.
🍁🍁🍁
Aksa tiba di rumah Ara dengan langkah-langkah yang penuh kehati-hatian. Wajahnya tampak lelah dan basah kuyup karena hujan yang belum lama reda. Vera, yang sudah mengetahui kedatangan Aksa, memberikan izin untuk masuk.
Vera, yang tengah bertanya-tanya, menyapanya dengan ekspresi heran, "Kenapa kau basah kuyup, Aksa? Bukankah kau datang dengan mobil?"
Aksa tersenyum sambil menjelaskan, "Mobilku mogok di tengah jalan. Aku memutuskan untuk memperbaikinya sendiri, dan sayangnya, hujan turun dengan deras. Jadi, beginilah keadaannya."
Vera mengangguk mengerti, meskipun masih merasa ragu dengan penjelasan Aksa. "Kenapa tidak menghubungi bengkel? Itu lebih aman daripada memperbaiki sendiri di tengah hujan."
Aksa menjawab, "Saat itu, pikiranku hanya fokus untuk segera memperbaiki mobil dan mengantarkan makanan untuk Ara. Aku tidak sempat memikirkan alternatif lain."
Vera, meski masih merasa skeptis, memilih untuk tidak memperpanjang diskusi. "Baiklah, letakkan martabak itu di meja makan, biasanya Ara akan memakannya di tengah malam setelah dia tidur. Lalu, ganti baju yang basah di kamar mandi bawah. Aku akan meminjamkanmu pakaian Henry."
Aksa mengangguk patuh, lalu meletakkan martabak di meja makan. Vera segera memberikan pakaian kering. "Pakai ini, ukurannya sama denganmu."
Setelah menerima pakaian, Aksa bergegas menuju kamar mandi bawah. Namun, ketika Aksa mencoba menggunakan kamar mandi bawah, masalah baru muncul. Vera segera menyadari bahwa saluran airnya tidak berfungsi dengan baik.
KAMU SEDANG MEMBACA
Limerence [END]
Roman d'amour[A ROMANCE STORY] "A-aku ke sini ingin memberitahumu jika saat ini aku sedang hamil. Dan sekarang kita akan memiliki anak seperti impianmu dulu. Kau pasti bahagia bukan?" "Kau yakin itu anakku?" "Maksudmu?" "Waahhh, hubungan kalian sudah sejauh itu...
![Limerence [END]](https://img.wattpad.com/cover/291191262-64-k980495.jpg)